My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLIX


__ADS_3

Matanya sayup memandang wajah Mariana. Secara refleks tangannya diulurkan, menghapus jejak yang sempat membasahi pipi gadis itu. Mereka berbalas senyum.


Perlakuannya itu membakar api cemburu dalam hati Daniel yang semakin marak. Daniel mengetap gigi menahan perasaannya yang kian bergelora ganas.


Ia berdiri dari duduknya. Tanpa pamit, ia mengatur langkah menuju pintu keluar meninggalkan rumah Mariana, membawa bersama sekeping hati yang terluka.


'Ana, semoga bahagia. Walau hati ini tak rela tuk melepaskanmu, apalah daya kita tak ditakdirkan bersama. Aku mencintaimu, Ana. Sampai kapan pun, namamu tetap terlukis di hatiku. Maria Mariana Koten.'


Mariana hanya menatap punggung Daniel. Terasa bergetar jantungnya tatkala lelaki itu meninggalkan rumahnya.


'Selamat tinggal, Dan.'


...***...


Ibu Dita memeluk Mariana. Ceramah percuma yang ia dapatkan dari Andreas, menghadirkan rasa sesal yang mendalam, yang membawa ia pada pertobatan.


"Ana, Tanta minta maaf. Maafkan Tanta, ya?" Air mata ibu Dita mengalir lesu.


"Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci-maki keluar dari mulutmu. Karena Tuhan itu Allah yang maha tahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji."


Tuhan selalu mengetahui apa saja yang kita lakukan. Termasuk jika kita berbuat sombong. Maka Allah akan membenci hal itu dan akan menghukum sesuai perbuatan kita. Salah satunya jika kita tinggi hati dan sombong.

__ADS_1


Maka Allah akan mengetahui hal tersebut dan bisa memberikan penghukumannya. Inilah yang membuat manusia selalu berusaha melakukan ciri-ciri rendah hati dan mengasihi sesama dengan menjauhi sikap sombong.


Kesombongan bukan bagian dari kasih. Sehingga sikap sombong harus dilenyapkan dan dijauhi.


Mariana melepaskan pelukannya dari tubuh ibu Dita. Ia tersenyum hangat memandang wanita separuh baya itu.


"Saya juga minta maaf, karena selalu bersikap kurang ajar pada Tanta." Mariana meraih tangan ibu Dita, mengecup punggung tangan yang sudah mulai berkeriput itu sebagai tanda permintaan maafnya.


Ibu Dita mengusap lembut kepala Mariana. Rasa bersalahnya merasuki jiwa. Kesombongan dan kecongkakan hati menutup mata hati, hingga ia lupa bahwa apa yang dimilikinya di dunia hanyalah sementara.


Di bawah pohon mete itu, tiga pasang mata memperhatikan mereka. Fendi, Andreas dan om Lukas masih bercerita bergosip tentang berbagai hal.


Sedangkan Tari dan Novi, berdiri berjauhan. Seorang duduk bertengger di atas anak tangga, yang seorang lagi berdiri bersandar pada dinding rumah. Mereka langsung tak berniat untuk bermaaf-maafan. Rasa dendam masih menyelimuti hati mereka. Menutup segala rasa kasih yang ada dalam diri.


Sedangkan ia sendiri beralih bersalaman dengan Tari dan bermaaf-maafan.


"Hai sobat," sapa Mariana yang sudah berdiri di sampingnya.


Mariana tersenyum, tetapi Novi membuang muka, menatap ke arah lain.


Mariana meraih tangannya, membawanya ke dalam pelukan. Novi coba memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Mariana. Namun usahanya hanya sia-sia. Kekuatan Mariana sebanding dengan tenaga lelaki, karena kekuatan fisiknya sudah dilatih sejak kecil.

__ADS_1


"Hubungan kita takkan sebaik dulu lagi. Namun percayalah, aku bukan jenis orang yang suka menikam belakang kawan." Novi mengetap bibir. Dia merasa tersindir.


"Ah, aku hampir lupa. Aku ada dengar kabar burung, kalau ada pasangan berzina yang kepergok hantu di hutan, belakang pohon beringin dekat pekuburan."


Novi melepas pelukan Marina dengan kasar. "Kau ...."


"He-he-he!" Mariana terkekeh melihat perubahan mimik muka Novi. Dia kembali memeluk tubuh wanita itu.


"Diam! Jangan bergerak!" ancamnya.


"Kalau mau aibnya tidak terbongkar, kenapa pergi ke hutan? Badan tak gatalkah digigit nyamuk? Lagipula kenapa cari yang ekor cecak? Daun muda lebih bertenaga, ya? Ha-ha-ha!" Mariana tak dapat menahan gelaknya. Lutut Novi terasa bergetar, bibirnya semakin berkatub rapat.


"Si Toni tu, pelanggan VVIP kami. Dia mampu bayar kamar yang paling mahal. Lain kali suruh dia sewa kamar. Aku akan kasih kamar yang terbaik. Dijamin paling nyaman dan tak perlu takut kepergok hantu."


Mariana melepaskan pelukannya. Tubuh Novi langsung melorot jatuh ke tanah.


"Kau ...." Suaranya bergetar. Detak jantungnya berdegup laju, seolah ia sedang berlarian mengelilingi lapangan.


"Ah, satu lagi. Si Toni tu sahabat Jimi sepupunya Daniel, kan? Dia juga teman adik aku, Agus."


Mariana duduk bercangkung di depan Novi. Ia kemudian berkata, "Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu hari akan jatuh ke tanah juga. Begitu pun dengan daging busuk. Biar pun kau simpan rapat-rapat akan tercium bangkainya juga." Matanya merah menahan amarah.

__ADS_1


"Jadi Ibu Novi yang cantik ...." Dia tersenyum. "Sebelum kau menuding jari telunjukmu ke arah orang lain, ingat! Masih ada empat jari yang mengarah pada dirimu sendiri."


__ADS_2