
Setelah menjelajahi pesisir pantai dan mendapatkan wangsit dari hasil pertapaan sesaat tadi, Mariana bergegas ke Pasar Alok. Oleh karena sepeda kesayangannya ditinggalkan di rumah Nenek Esi, dia terpaksa menunggu angkutan di tepi jalan untuk membawanya ke destinasi. Setelah hampir lima belas menit menunggu di tepi jalan, sebuah angkutan lewat lalu berhenti di depannya.
Tanpa membuang waktu lagi, Mariana langsung menaiki angkutan kota tersebut. Dia melemparkan senyuman mesra kepada para penumpang angkutan. Seorang penumpang lelaki paruh baya menggeser pantatnya, memberi ruang untuk Mariana duduk.
"Terima kasih, Om," kata Mariana sebelum melabuhkan tubuhnya.
Pria tua itu tersenyum, sambil menganggukkan kepala. Setelah mendapat tempat duduk, Mariana hanya membisu selama perjalanan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Seorang wanita yang mungkin berusia lebih dari tiga puluh tahun melirik kantong plastik yang dibawa Mariana. Dia lalu bertanya, "Kaka pergi berkarangkah?"
Semua mata tertuju kepada Mariana, apalagi saat melihat masih ada sisa pasir yang melekat pada pakaiannya. Mariana tayang gigi, kemudian menggeleng.
"Cangkang siput itu Kaka mau buat apa?" tanya wanita itu lagi.
"Mau buat aksesori, Kaka," jawab Mariana, "seperti ini." Dia menunjuk sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mata wanita itu berbinar-binar. "Cantik! Kaka jual?"
Mariana mengangguk. Dia juga memperkenalkan toko aksesorinya di aplikasi Shoppe pada wanita itu. Beberapa penumpang wanita dalam angkutan tersebut juga bersemangat melihat kerajinan tangan Mariana dalam ponsel gadis itu.
__ADS_1
Mereka memesan beberapa perhiasan pada Mariana, seperti patung dan aksesori lainnya untuk dijadikan hadiah. Si wanita tadi pula memesan lebih banyak perhiasan. Lebih tepatnya—borong karena wanita itu juga memiliki toko aksesori. Mariana mengambil peluang tersebut untuk bekerja sama dengan si wanita. Sebelum sampai di destinasi, mereka bertukar nomor telepon.
Mariana tak henti-henti mengulum senyum. Hatinya riang gembira karena mendapat durian runtuh. Dia berniat membeli beberapa ekor ikan untuk merayakan kegembiraan yang dia dapat hari ini bersama sang suami.
Gadis yang dijuluki si Kribo itu menitipkan bungkusan cangkang kerang pada tetangganya yang menjual sayur-sayuran di pasar Alok agar dia tidak kelelahan membawanya ke sana kemari. Setelah selesai berbelanja—membeli keperluan dapur dan sedikit barang keperluan Andreas, dia kembali mengambil bungkusnya. Tak lupa Mariana membeli beberapa jenis sayuran sebagai ucapan terima kasih pada tetangganya itu.
Ketika hendak pulang, ponsel Mariana berbunyi. Dia membuka ponsel tersebut, tertera notifikasi dari bank. Mata gadis itu seketika membulat besar. Dia terkejut melihat angkat di depan—angka 3 bertukar 5, sedangkan jumlah angka nol masih sama, yaitu enam.
"Wah, si Tuan Perjaka begitu murah hati?" gumamnya, "apa yang terjadi?" Walaupun terkejut, dia tetap tak dapat menahan kegembiraan di hati. Sepanjang jalan kembali ke rumah, bibirnya senantiasa mengukir senyum. Hari ini dia memang mendapat keuntungan berlipat ganda.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA, tetapi Andreas belum juga pulang. Beberapa minggu terakhir ini lelaki itu memang selalu terlambat pulang. Entah apa yang membuatnya lembur kerja.
"Terlalu banyakkah pekerjaan di kantor atau dia punya perempuan lain?" Pertanyaan itu selalu bermain di minda Mariana, tetapi dia tidak pernah menanyakan langsung.
Mariana menepis jauh-jauh pertanyaan yang kedua karena percaya pada Andreas. Dia yakin lelaki itu tidak akan melakukan sesuatu yang tidak baik atau mengkhianati kepercayaannya. Kepercayaan sangat penting dalam suatu hubungan. Jika kepercayaan itu ternoda, hubungan antara mereka tidak akan sama lagi.
__ADS_1
Beberapa perhiasan berupa gelang dan kalung dari cangkang siput sudah siap dibuat, tinggal dipercantik lagi. Pada saat itu, terdengar raungan sepeda motor di halaman rumah. Mariana tersenyum. Dia tahu Andreas sudah pulang. Gadis itu segera bergegas membukakan pintu menyambut kepulangan sang suami.
Ketika melihat Andreas di depan pintu rumah, senyuman Mariana merekah hingga ke telinga. "Selamat pulang, Suamiku," kata Mariana sambil mengambil tas kerja dan mencium punggung tangan Andreas.
Andreas merasa risih. Walaupun setiap hari diperlakukan seperti itu, dia tetap belum terbiasa, apalagi melihat senyuman Mariana malam ini yang seperti kelebihan gula. Ah, Andreas tidak mau kena diabetes! Dia ingin hidup sehat, ya, Kribo.
Mariana melebarkan daun pintu untuk membiarkan sang suami memasuki rumah. Langkah kakinya terus mengikuti ke mana pun Andreas pergi. Dia mengambilkan air minum ketika lelaki itu berjalan ke dispenser.
"Suamiku, apa pun yang kamu inginkan, katakan saja. Aku akan melayanimu." Mariana menahan diri untuk tidak memanggil Andreas dengan julukan Tuan Perjaka.
Mariana harus bersikap baik sebab hari ini gajinya sebagai ibu rumah tangga sudah naik. Kalau bukan Andreas, siapa lagi yang naikkan gajinya? Oleh sebab itu, dia mesti bersikap baik supaya gajinya tidak perlu dipotong.
"Tidak perlu! Aku mau mandi dulu," kata Andreas. Dia beranjak menaiki tangga menuju ke kamar tidur mereka. Mariana cepat-cepat mengikuti langkah suaminya.
Dia juga membukakan pintu untuk Andreas dengan sopan. Sikapnya seperti para pelayan istana kerajaan. Andreas hampir meledakkan tawa apabila lihat sikap si Kribo seperti itu. Sebelum Andreas masuk ke kamar mandi, gadis itu juga menahannya terlebih dahulu di luar.
Dia perlu menyiapkan air hangat dan handuk untuk sang suami. Setelah siap baru dia persilakan Andreas masuk ke kamar mandi. Sambil menunggu lelaki itu membersihkan diri, Mariana menyiapkan pakaian ganti. Setelah itu dia duduk di birai katil sambil menunggu Andreas keluar.
__ADS_1