My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XIII


__ADS_3

Andreas menggeliat. Banyak minum air putih sebelum tidur, membuat Andreas harus bangun dini hari hanya untuk membuang air seni. Ia bangun dan berjalan keluar kamar. Saat sampai di ruang makan, dahi Andreas berkerut melihat ruang makan terang-benderang.


Mariana baru pulang? batinnya bertanya. Ia kembali melangkahkan kakinya.


Pintu belakang tidak di kunci. Ada orang di luar? tanyanya dalam hati.


Ia membuka pintu perlahan, lalu menutupinya kembali. Bagian belakang antara dapur dan kamar mandi sungguh gelap. Ia menekankan saklar dekat pintu keluar, tetapi, lampu di kamar mandi tidak menyala.


Ia berjalan dalam gelap menuju kamar mandi. Sudut matanya menangkap bayangan putih bergerak-gerak di tepi kamar mandi, mungkin setinggi pinggangnya.


Andreas melangkah perlahan, agar tak menimbulkan suara, sambil mendekati bayangan tersebut. Tangannya bergerak menyentuh benda tersebut. Tiba-tiba ....


"Ah!" teriak Andreas.


"Ah!"


"Hmmm hmmmm hmm!" Andreas histeris karena mulutnya dibekap tiba-tiba dari belakang.


...***...


"Ah, sial!" Mariana mengumpat. Tubuhnya disimbah seember tempung terigu yang dicampur dengan garam. Sekilas dia terlihat seperti hantu, entah apa jenis hantunya.


Matanya terasa sakit dan pedih, karena kemasukan garam. Ia berjalan sambil memejamkan mata, meraba-raba mencari dinding, ingin kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Namun lantai yang licin karena penuh dengan tepung, Mariana kembali terpeleset.


"Aduh!" Pantatnya mencium lantai. Ingin sekali ia menangis. Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama pinggang. Namun, Mariana tetap menguatkan semangat untuk kembali bangkit.


"Aduh!" Kepalanya terantuk tembok kamar mandi. Sakitnya luar biasa. Kali ini dia benar-benar menangis.


Sambil memegang dinding ia mencari letak pintu kamar mandi. Namun, langkah kakinya membawa dia ke sudut kamar mandi menjauh dari pintunya.

__ADS_1


Setelah menangis matanya tidak lagi terasa pedih. Sedikit demi sedikit dia mampu mengedipkan mata. Dia terkejut saat kakinya memijak tanah, tetapi, ia tidak berniat kembali membersihkan muka.


Mariana membungkuk, rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya. Ia kemudian membersihkan rambut karena dipenuhi garam dan tepung, sambil mengumpat dalam hati, mengutuk orang yang meletakkan batu menghalangi jalan.


Tiba-tiba ia merasa belakangnya disentuh oleh sesuatu, sontak dia menegakkan punggungnya.


"Ah!"


"Ah!" Ia turut berteriak. Segera ia melompat membekap mulut Andreas dari belakang. Suara lelaki itu cukup keras, takut membangunkan penghuni rumah dan para tetangga.


"Hmmmm hmm hmm." Andreas memberontak. Bayangan masa lalu yang ingin ia lupakan, tiba-tiba menghantui pikirannya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Kepalanya terasa pusing. Matanya pun mulai berkunang-kunang.


"Jangan teriak! Ini aku," bisik Mariana tepat di telinga Andreas.


"Ah!" Mariana meringis. "Kenapa kau gigit aku?" tanyanya sambil menendang kaki Andreas. Ia mengibaskan tangan. Sakit sekali.


Andreas melorot jatuh ke tanah. Kakinya terasa lemas tak mampu menanggung beban tubuhnya.


"Ka ka u u ku ku rang ajar!" ucapnya tergagap, sambil telunjuknya menunjuk Mariana.


"A a ku ke ke kenapa? Ha-ha-ha!" tanya Mariana turut tergagap, diselingi tawa. Merasa lucu dengan tingkah Andreas.


"Kau takut lihat hantu sampai tergagap begini? Ha-ha-ha!" Dia membungkuk coba melihat wajah Andreas.


"Ha-ha-ha!" Dia tertawa tertahan, sampai memegang perut. Tangan kanannya menepuk pelan punggung Andreas. Kemudian duduk bercangkung di sebelah lelaki itu.


"Kurang ajar! Singkirkan tangan kau!" marah Andreas. Kini posisi mereka begitu rapat. Mariana kembali membekap mulut Andreas.


"Pelankan suara kamu! Marah pun mesti pelan-pelan. Aku belum tuli, tahu?" Andreas menghempaskan tangan Mariana yang membekap mulutnya, lalu mendorongnya ke belakang hingga Mariana jatuh terduduk.

__ADS_1


"Ganas amat!" Mariana ketawa lagi. Langsung tidak marah.


Andreas selalu hilang kendali setiap kali bertemu Mariana. Rasa takut yang sempat bertandang, lenyap entah ke mana.


"Eh, Kribo! Kenapa setiap kali aku ketemu kamu, kau selalu dalam keadaan begini? Kotor, keriting, bodoh lagi. Nama itu sesuai untuk kau. Malam-malam keluar merayap seperti hantu." Bersuara perlahan ia menatap Mariana dari atas ke bawah.


Walaupun dalam gelap ia dapat melihat sosok Mariana yang serba putih. Bahkan wajah dan rambutnya juga terlihat putih.


"Eh, Pengecut! Salah siapa aku jadi begini? Siap yang letak batu atas lantai menghalangi jalan? Fendi dan Tari, itu tidak mungkin. Natan, dia belum bisa angkat batu besar. Noel, kau pikir anak umur dua tahun bisa angkat batu?" Andreas terdiam, menyadari kesalahannya.


"Kau lihat mata aku ni, sakit dan merah. Kau tahu?" Mariana menunjuk matanya.


"Si Pengecut. Nama itu sesuai untuk kamu."


"Aku bukan pengecut!" Andreas membantah.


"Ellahh, kamu sampai takut lihat aku tadi."


"Bukan takut, aku cuma kaget." Andreas berdiri. Mariana turut berdiri.


"Kalau kau tidak takut, buktikan!" tantang Mariana.


"Bukti seperti apa?" Andreas merasa tertantang.


"Kalau mau tahu, ikut aku," jawab Mariana. Andreas merasa enggan. Ia tidak gemar melakukan perkara yang tidak membawa faedah untuknya.


"Tidak mau." Andreas berlalu. Ia sudah tidak punya keinginan untuk buang air kecil.


"Tu, kan, kau takut. Lelaki tapi pengecut." Langkah Andreas terus terhenti. Ego lelakinya kembali merasa tertantang.

__ADS_1


"Aku ikut." Andreas berdiri di hadapannya. Mariana tersenyum kemenangan.


__ADS_2