
Patung kayu adalah hasil dari kekreatifan tangan dan memiliki skill tinggi karena semua hasil dari kerajinan tersebut dibuat menggunakan tangan dengan teknik mengukir dan memahat, tanpa menggunakan mesin.
Pembuatan patung membutuhkan waktu yang lama, ada yang sampai berbulan-bulan tergantung dari ukuran dan objek yang dipilih. Maka dari itu hasil karya patung sangat mahal.
Akan tetapi, hari ini Mariana harus menyiapkan pekerjaan itu hanya dalam beberapa jam. Sedangkan sebagian waktunya sudah tersita dengan kehadiran penggemar Mikhael.
Kedatangan Tari sangat membantu. Kini ia bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya.
Tangannya begitu lincah dan mahir ketika memahat. Pisau ukir hadiah dari Alm. Dewi menari-nari di atas permukaan kayu. Untung saja Mikhael tidak meminta ukuran yang besar, mungkin setinggi 20cm.
Wajah Mikhael sudah terbentuk. Mata, hidung, mulut, telinga. Secara keseluruhan kepalanya sudah terbentuk.
Kini Mariana sedang memahat bagian badannya. Suara gelak tawa dan senda gurau Mikhael bersama penggemarnya tidak lagi dihiraukan Mariana. Ia seolah berada dalam dunianya sendiri.
Walaupun di tengah keasyikannya bergurau senda dengan penggemarnya, tetapi dari situ gerak-gerik Mariana tak luput dari perhatiannya.
Ekor matanya asyik mengawasi gerak-gerik Mariana. Ada sesuatu yang mengusik perasaannya, tetapi tak mengerti apa maksudnya.
"Eh!" Tari mencuit lengan Mikhael.
"Iya?"
"Jangan asyik lirik!"
Mikhael tersenyum. "Kakak kau cantik," pujinya tulus.
"Orang punya."
"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.
__ADS_1
"Dia sudah bertunang," jawab Tari.
"He-he-he!" Mikhael terkekeh geli. "Berarti aku masih punya peluang, selagi belum diresmikan di gereja," lanjutnya.
"Jangan jadi pelakor, nanti aku tendang keluar. He-he-he!"
"Garangnya adik ipar ni."
"Tentu. Eh, aku bukan adik kamu!"
"Ha-ha-ha!" Mereka sama-sama tertawa. Lalu melanjutkan obrolan lain.
Mikhael terdiam. Walaupun Mikhael pria tampan, ramah, pandai bergaul dan banyak idola, tetapi, bagi Tari, Mikhael bukan Mr. Right buat Tata Ana. Tari sudah punya pilihan buat kakaknya.
Walaupun begitu, apa yang direncanakan manusia, semua masih terserah kepada yang di atas sang Penguasa Alam Semesta.
Mariana bersandar kelelahan, ia melirik jam di ponsel Huawei-nya, sudah pukul 17.30 WITA. Penggemar Mikhael sudah pulang, termasuk Tari.
Mikhael mendekati Mariana. "Sudah selesai?" tanyanya, lalu mengambil duduk di depan Mariana.
Mariana mengangguk lemah. Terasa beban berat sudah terlepas dari pundak.
"Wah! Kau memang hebat, Ana," pujinya saat melihat hasil kerja Mariana. Begitu halus dan cantik. Terlihat seolah patung hidup.
"Tentulah, siapa dulu," dia mengedipkan mata nakal.
"Ha-ha-ha!" Mikhael tertawa. "Berapa?" tanyanya.
"Tambah, kurang, kali, bagi ... tiga ratus."
__ADS_1
Mikhael mengeluarkan dompetnya. Tanpa tawar-menawar dia menyerahkan tiga ratus lima puluh ribu. Baginya itu sebanding dengan hasil kerja Mariana.
Mariana menghitung, lalu mengerutkan dahi memandang Mikhael.
"Itu tips," kata Mikhael tanpa ditanya.
Mariana tersenyum. "Rezeki jangan ditolak, 'kan?"
"Ha-ha-ha!"
"Terima kasih," ucap Mariana. Mikhael hanya tersenyum menanggapinya.
Mikhael melirik jam di pergelangan tangannya. "Harap masih ada bas," ucapnya sambil berdiri.
"Maaf, buat kau menunggu lama." Mikhael menggeleng. Ia berlalu mengambil kopernya.
Mariana membukakan pintu untuk Mikhael saat pria itu keluar. Sebelum berlalu meninggalkan toko Mariana, ia menoleh sejenak.
"Ana!" panggilnya.
Tanpa menjawab panggilan, Mariana menoleh. Mikhael terdiam. Banyak pertanyaan yang mengasak pikirannya. Seperti, apakah mereka saling mengenal? Atau, pernahkah mereka bertemu di suatu tempat? Atau mungkin, Mariana mengenal seseorang yang sangat ia rindukan?
Namun, semua itu tak terluah, tersimpan kemas dalam benaknya.
"Terima kasih." Cuma itu yang keluar dari mulutnya.
"Sama-sama," jawab Mariana.
"Semoga kita bisa ketemu lagi." Mariana mengangguk.
__ADS_1