
Alam bukan hanya obat yang mampu menghilangkan rasa jenuh, tetapi juga menghadirkan rasa damai sepanjang perjalanan bus yang mereka tumpangi.
Jalan raya yang berkelok-kelok penuh tikungan, terjal dan mencuram cukup menantang. Namun, pemandangan sepanjang perjalanan memanjakan mata yang memandang.
Puncak pendakian pertama bernama Lewolaga, bus berhenti sebentar karena beberapa penumpang yang ingin membuang isi perutnya akibat mabuk perjalanan.
Tempat itu menyajikan pemandangan indah, dari ketinggian itu memberi kesempatan bagi para penumpang untuk beristirahat atau sekadar berfoto ria.
Hamparan laut biru dengan latar belakang Pulau Solor di kejauhan, menghibur hati para penumpang yang tampak lesu.
Selain Pulau Solor, terlihat juga pulau kecil di depannya yang bernama Pulau Konga. Pulau tersebut adalah tempat pembudidayaan Mutiara terbesar di Kab. Flores Timur yang dimiliki oleh pengusaha Jepang, bekerjasama dengan penduduk setempat.
Perjalanan kembali berlanjut. Para penumpang segera menaiki bus, setelah mendengar suara konjak bus memberi perintah.
...***...
Kriuk kriuk!
Andreas mengelus perut. Lelaki itu melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 13.45 WITA. Bus bertolak dari Larantuka tadi sudah pun pukul 12.00 WITA.
Hampir dua jam waktu yang mereka tempuh. Jarak tempuh Larantuka-Boru 60 km dengan memakan waktu satu setengah jam perjalanan.
Namun, karena bus tadi berhenti sebentar di Lewolaga, kadang bus juga berhenti sebentar hanya untuk menurunkan atau menaikkan penumpang yang searah dengan tujuan mereka, sehingga perjalanan memakan waktu lebih lama.
Mariana masih sibuk bercerita dengan Arnol. Terdengar gelak tawa menghiasi percakapan mereka.
"Mani kerja apa?" tanya Arnol.
"Suri rumah yang menjadi kembang desa." Arnol tersenyum.
__ADS_1
"Suami?" Dia melirik Andreas yang banyak membisu sepanjang perjalanan.
"Dia buka usaha kecil-kecilan."
"Usaha apa?" Tangannya memasukkan kerepek pisang yang dibeli Mariana ke dalam mulutnya. Ia kunyah perlahan.
"Hmm, enak," pujinya.
"Proyek buat rumah." Itu yang dia dengar dari Tari. Arnol mengangguk-anggukan kepala.
Bus Ago go berhenti di depan warung makan desa Boru kec. Wulanggita. Tempat itu memang menjadi tempat persinggahan sementara untuk orang yang melakukan perjalanan jauh seperti Larantuka-Maumere.
"Makan dulu. Dua puluh menit lagi kita bertolak." Suara konjak menggema dalam bus.
Satu per satu semua penumpang turun secara teratur. Paling akhir, Mariana dan Andreas.
Tadi di Lewolaga, dia tak turun. Duduk di dalam bus bersama Ibu Yuni dan kedua anaknya. Mulutnya hendak terbuka lebar ingin menguap, tetapi Andreas lebih dulu membungkamkannya dengan kata-kata.
"Jangan menguap! Orang lihat, malu." Wajah Mariana memerah, ingin sekali dia mencekik Andreas saat itu juga.
Namun, Andreas sudah lebih dahulu berlalu meninggalkannya. Dia melirik beberapa penumpang tersenyum sumbing memperhatikan dia yang berdiri seperti jamur kering. Lemah semangat.
Warung makan itu sangat ramai setiap hari walaupun menunya biasa-biasa saja. Makanan orang kampung.
"Nasi putih dua piring, lauknya ikan goreng, sayur kangkung dan sup ayam." Pelayan lelaki itu cukup cepat menulis pesanan Andreas.
"Minum?" tanya sang pelayan.
"Air limau."
__ADS_1
Mereka duduk berdua di sudut warung karena hanya meja itu yang masih kosong. Mariana duduk menopang dagu dengan kedua tangannya khusyuk memperhatikan Andreas.
"Jangan lihat aku begitu! Ada tahi di mata aku?"
Mariana menggeleng. "Kau tampan juga rupanya."
Andreas tak menjawab, hanya senyuman mengembang di bibir. Mariana tak melihat karena dia beralih pandang saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
Tanpa menunggu Andreas, sesuap nasi hendak dimasukannya ke dalam mulut. Namun, tangannya menggantung di udara.
"Doa dulu," kata Andreas. Wajah Mariana kembali memerah. Malu.
Terlalu lama dia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang yang beriman, membuat dia lupa segala-galanya.
Andreas mengatupkan tangan sambil memejamkan mata. Berdoa dalam hati. Mariana mengikuti cara Andreas.
'Ya Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini yang semakin jauh daripada-Mu.' Hanya itu yang dia ucapkan dalam doanya.
"Selamat makan." Andreas mempersilakan Mariana menjamu selera.
Hanya dalam hitungan menit, piring Mariana sudah licin termasuk kuahnya sekali. Andreas menganga tak percaya.
"Kenapa tak makan?" tanya Mariana, "waktu kita tak banyak lagi."
"Aku sudah keny ...."
Belum habis kalimat Andreas, piringnya sudah berpindah tempat. "Jangan buang makanan!"
"Alasan." Mariana hampir tersedak mendengar sindiran Andreas.
__ADS_1