
Andreas keluar dari dalam kamar dengan membawa ponsel milik Mariana dalam genggamannya.
Mariana coba merampas ponsel dari tangan Andreas, tetapi, pria itu segera menjauhkannya dari jangkauan Mariana.
"Kenapa?" tanya Mariana geram. Dahinya sudah berkerut seribu.
"Kalau kau berhasil rampas Hp ini dari tangan aku, lima puluh ribu jadi milik kau." Senyumannya mengembang.
'Tak semudah itu, Kribo. Kau selalu permainkan aku. Kau pikir aku mudah dirisak?' batinnya kesal.
Cahaya mata Mariana bersinar terang mendengar uang lima puluh ribu. Senyuman segera terukir di bibirnya.
Andreas merengus. 'Dasar cewek matre!'
"Enam puluh!" Mariana mulai mengeluarkan jurus tawar ikan asin, sambil menunjuk enam jarinya.
"Hmm!" Andreas terlihat geram.
"Tujuh puluh." Mariana tersengih, tayang gigi. Dia menaik-turunkan alis matanya. Enam jari tak cukup, dia tambah jari telunjuk.
"Tiga puluh," kata Andreas.
"Kenapa jadi turun?" tanya Mariana.
"Kau tidak berhak untuk tawar-menawar. Di sini aku yang pegang kendali.
"Oke. Enam puluh."
"Lima puluh. Kalau kau naikkan lagi, aku turunkan sampai sepuluh."
"Iyalah. Kikir sekali," ucap Mariana ketus. Ia segera memasang kuda-kuda untuk menyerang.
Andreas juga tak mau kalah. Dalam posisi siaga, coba membaca gerakan tubuh Mariana. Gadis itu tiba-tiba lompat melewati sofa, Andreas yang melihat gerakan Mariana segera menjauhkan diri, berlari ke sisi kanan menyusuri dingin kayu.
Mariana mendorong sofa tunggal untuk menghalangi langkah Andreas. Namun, Andreas dengan gesit melewati sofa tersebut sebelum langkahnya terhalang.
Ruang tamu yang sempit itu, tiba-tiba menjadi arena permainan dua manusia dewasa yang bertingkah seperti anak kecil. Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Namun, tidak siapa pun yang ingin mengalah.
Sesekali Mariana mengumpat kesal karena selalu gagal, sedangkan Andreas semakin bersemangat mempermainkan Mariana.
"Aku naikkan jadi tujuh puluh," ucap Andreas.
"Kurang. Tambah lagi. Kau sudah sita waktu aku hampir setengah jam." Mariana kembali mengeluarkan jurus tawar ikan asin.
"Oke, seratus."
Mariana tersengih, dia kembali bersemangat. Bukan uang yang dia pikirkan, tetapi, kemarahan karena gagal mengalahkan Andreas.
__ADS_1
Andreas menunjukkan kemampuannya sebagai seorang Sticker (Penyerang) dalam pertandingan sepakbola. Bukan saja menyerang secara fisik, tetapi, di sini dia juga menyerang mental Mariana.
Mariana tidak kalah gesit. Sebagai anak petani yang gemar berburu binatang hutan, ketahanan fisik dan mentalnya sudah diasah sejak dini. Namun, kelincahannya mengalami penurunan secara drastis karena lama tak diasah, sehingga menjadi pisau tumpul.
Deru napasnya memburu, ia tercungap-cungap, kewalahan menghadapi Andreas. Sedangkan lelaki itu masih lagi bersemangat. Ruang sempit itu tidak ubahnya seperti kapal pecah.
Sofa kulit dan meja kayu jati sudah tak ada lagi di tempatnya. Sofa tunggal sudah terbalik dan berada di samping Mariana. Barang permainan milik Natan bersepah di atas lantai.
Mariana melompat menerkam Andreas. Andreas mengelak, tetapi, T-shirt hitamnya berhasil ditarik Mariana, dengan gesit dia menanggalkan baju tersebut.
Mariana merengus. Ia melemparkan baju yang sudah basah kuyup oleh keringat itu ke sembarang arah. Andreas merasa malu. Tak biasa ia memamerkan bentuk tubuhnya di hadapan orang lain terutama di hadapan wanita.
Gadis itu melirik sekilas pada tubuh Andreas. Hati wanitanya berdesir, tetapi, kekesalan lebih menguasai pikirannya. Ia mengambil tas selempang miliknya, lalu melemparkannya ke arah Andreas.
Lelaki itu mengelak. "Huh! Hampir saja. Kalau tidak muka tampan aku pasti sudah kena tas buruk kau."
"Elaahh! Muka tampan konon, monyet di hutan pun lebih ganteng, tahu."
"Iyakah? Aku tak percaya. Mana mungkin monyet lebih ganteng daripada aku." Andreas memprovokasi. Mariana semakin geram. Lelaki itu tersengih tak berhenti. Ia semakin bersemangat.
"Dari tadi kau tak berhasil rampas ponsel kau, kau ni lemahlah!"
"Tak guna." Mariana mengumpat.
"Aku naikkan seratus lima puluh."
"Jangan tamak. Kau bahkan belu ...." Belum habis kalimat yang dia ucapkan, Mariana sudah kembali mengejarnya.
Namun, nahas bagi Mariana karena terlalu bersemangat, ia lalai melihat sekeliling. Saat tangannya hampir menggapai tubuh Andreas, ia menginjak baju basah milik lelaki itu yang ia buang tadi.
Bugh!
Bunyi seperti buah kelapa jatuh, Mariana tersungkur menyembah bumi. Lebih tepatnya ia menyembah Fendi, Tari, Natan, dan Noel karena ia jatuh tepat di hadapan mereka yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu.
Semua orang terkejut, tetapi, Natan tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha! Mama Besar. Ha-ha-ha!"
Semua orang turut tertawa termasuk Andreas.
"Ha-ha-ha!" Fendi dan Natan sampai memegang perut. Terguling-guling di atas lantai. Malunya luar biasa. Mariana sampai tak berani mengangkat kepala.
Dalam posisinya yang telungkup, Mariana menyembunyikan wajahnya menghadap lantai.
"Sampai kapan kau mau cium lantai, tu?" tanya Andreas setelah tawanya mereda.
Mariana bingkas bangun. Matanya melotot tajam memandang Andreas. "Kau!"
__ADS_1
"Tata!" panggil Tari panik, "darah," lanjutnya. Segera Tari mengambil dua helai tisu, lalu menyumbatkannya pada hidung Mariana. Mariana mendongakkan kepalanya.
Gadis itu berdiri. Sebelum berlalu ke kamar mandi telunjuknya menuding Andreas. "Tunggu pembalasan aku."
...***...
"Kribo!"
"Hei! Kribo! Kau tak mau ponsel kau?"
Mariana terus melangkah, tak mengendahkan panggilan Andreas. Lelaki itu terus mengejar dari belakang, sesekali dia memanggil namanya. Hari ini dia berjalan kaki karena sepeda bututnya masuk RuS, ban belakang bocor. Jadi harus segera dibedah.
"Dua ratus, ni, kalau kau tak mau aku kasih ke orang gila yang tinggal di rumah ujung sana.
Mendengar angka dua ratus, langkahnya terus terhenti. Ia memutar tubuh 180⁰. Langkah seribu ia menuju ke arah Andreas, sambil menghentakkan kakinya dengan kasar.
Tepat di hadapan Andreas, Mariana mengayunkan tangannya hendak memukul kepala Andreas. Melihat itu Andreas menyilangkan tangan demi melindungi kepalanya, sambil membungkukkan badannya sedikit ke kiri.
Mariana tersenyum. Tangannya dengan cepat merampas ponsel dan empat keping uang kertas lima puluh ribu. Hatinya berlagu riang.
Tak merasa kepalanya bukan sasaran, Andreas kembali menegakkan punggungnya.
"Aku pikir kau tidak mau," ucapnya.
"Mana mungkin aku tidak mau. Rezeki jangan ditolak, Sayang," katanya sambil menghitung jumlah uang yang dipegangnya.
'Huegh! Ingin muntah rasanya," batin Andreas. Namun, dia tetap tersenyum menanggapinya.
Ada rasa kasihan juga dalam hatinya saat melihat dahi Mariana yang benjol sebesar telur ayam kampung. 'Pasti sakit sekali, tu.'
"Thanks," ucap Mariana, kemudian berlalu meninggalkan Andreas. Namun, baru beberapa langkah ia kembali berhenti, lalu menoleh pada Andreas.
"Kau suka makan apa?" tanyanya.
"Ha?" Andreas seperti tak mendengar.
"Kau suka makan apa?" ulangnya lagi.
"Apa saja. Aku tidak pilih makan."
"Tahi pun kau makan?"
"Kau pernah lihat ada orang makan tahi?" tanya Andreas kasar. Geram sungguh dia.
'Langsung tidak punya adab. Main loncat keluar kalau bicara. Tak pakai saring dulu!' marahnya dalam hati.
"Makanya, kalau aku tanya, jawab satu. Bukan semua, kalau semua tahi pun kau makan. Ha-ha-ha!"
__ADS_1
"Gado-gado," jawab Andreas asal, kemudian mengatur langkah meninggalkan Mariana dengan hilaian tawanya.