My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab IV


__ADS_3

"Stoooopppp!" teriak seorang wanita cantik yang berdiri di pintu masuk gereja. Seketika dirinya menjadi pusat perhatian. Dia terus berlari kearah pasangan pengantin baru, tanpa seorang pun dapat mencegahnya.


Sepasang tangannya yang cantik menjambak rambut pengantin perempuan, membuat dandanannya berantakan.


Semua orang tertegun menyaksikan kejadian tersebut. Keadaan menjadi kalang-kabut apabila pengantin wanita berbalik melawan wanita yang menjambak rambutnya. Dengan kemahiran bela diri yang dia miliki, dia serta-merta membalikkan keadaan.


Dia membalas menjambak rambut, mencakar kulit wanita tersebut, menendangnya, menarik tangan wanita itu, kemudian membantingnya secara terbalik dengan keras, sehingga wanita itu mengerang kesakitan saat punggungnya menampar lantai gereja.


Gerakannya begitu lincah. Gaun pengantin tidak dapat menjadi penghalang untuk dia membalas perbuatan wanita tersebut.


Mempelai pria dibantu oleh beberapa orang, berusaha meleraikan pertengkaran tersebut, apabila melihat pasangannya ingin mencekik wanita yang membuat onar.


"Berani kau rampas suami aku! Dasar wanita murahan! Pelacur!" teriak wanita pembuat onar, sambil terisak-isak penuh haru.


"Kenapa mesti suami aku yang kau rampas, huh! Hiks! Hiks! Hiks!" Dia menangis sesenggukan, dengan posisi berbaring miring di atas lantai.


"Apa? Istri? Jadi saya ini nomor dua? Ohh tidaaakkk!" Tak perlu waktu lama, mempelai pria menjadi sasaran empuk. Tubuh kekarnya menjadi santapan pukulan, tamparan, tendangan dari dua wanita yang menjadi istrinya.


Walaupun istri pertama masih menahan sakit pada pinggangnya, dia tetap tidak ingin melepaskan peluang tersebut.


"Dasar lelaki mata keranjang! Pergi mati kau!" Bergilir-gilir mereka menghajar sang suami. Ganas betul..


Semua orang terkejut mendengar pernyataan tersebut, terutama Tari. Rasa bersalah menusuk jiwa, karena dialah yang menjadi mak comblang untuk kakaknya. Yang lain hanya sekadar menonton, tak berniat untuk membantu. 'Ini masalah rumah tangga orang '


Tari memejamkan mata, menggeleng kuat kepalanya ke kiri ke kanan, 'Tidak! Tidak! Tidak mungkin!' teriaknya dalam hati.


Kepalanya terasa sakit seperti terbentur benda keras. Tari membuka mata, rupanya dia masih berdiri di ambang pintu, sambil tangan kirinya memegang daun pintu.


Gelengan yang kuat tadi menyebabkan kepalanya terbentur daun pintu. Dia tersadar, dihadapannya masih berdiri seorang lelaki dengan setia menunggunya sambil melemparkan senyuman mesra.


"Salom!" sapa Andreas lagi.


"Sa sa Lom!" balas Tari gugup. Dengan terbata-bata dia bertanya, "Ca cari si a pa?"

__ADS_1


"Benarkah disini alamat rumah ibu Mariana?" Tari mengangguk.


"Saya mau menyewa kamar disini."


"Oh ya, silakan masuk!" Tari melebarkan daun pintu agar terbuka lebih luas, karena tadi hanya kepalanya yang terjegul didepan pintu.


Dia juga menunjukkan kamar depan yang sudah dibersihkannya tadi kepada Andreas. Mereka juga saling memperkenalkan diri.


Setelah berbasa-basi sejenak, Andreas membawa barangnya kedalam kamar, lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Kamar tersebut tidak seluas mana. Tetapi cukup untuk memuat sebuah ranjang bujang (cukup satu orang), sebuah lemari pakaian satu pintu, sebuah meja dan sebuah kursi


...***...


Suara bising dan riuh-rendah mengejutkan Andreas dari lenanya. Dia bertolak dari Maumere waktu subuh tadi, ditambah dengan nasib malang yang datang tanpa memberi sinyal membuatnya kelelahan.


Dia melirik jam tangannya, sudah pukul 18.20 WITA. Pada saat itu sayup-sayup terdengar suara azan magrib dari masjid, mengajak umat Islam membentang sejadah bersujud menyembah Sang Ilahi.


Andreas keluar dari kamarnya, dia melihat dua orang kanak-kanak sedang menonton televisi yang menayangkan cerita kartun Spongebob Squarepants.


Dia mengatur langkah mencari letak kamar mandi. Saat kakinya menginjak ruang makan, dia hampir menabrak seseorang yang membawa semangkuk sayur kangkung goreng. 'Kenapa kami bertemu lagi?' desis hatinya.


Mariana terus berkata dengan tegas, " stop! Jangan bergerak!" Andreas menurut membiarkan Mariana berlalu. Dia tersentak saat Mariana menarik tangannya. Niat hendak ke kamar mandi terbantut.


"Mau apa kau sebenarnya? Kau mengikutiku sampai ke sini untuk apa? Ganti rugi?" Mariana menatap tajam kearah Andreas. Entah kenapa itu yang muncul dalam pikirannya.


Andreas diam. Mariana menolaknya perlahan. Dia terus menolak membuat Andreas melangkah mundur sampai didepan pintu rumah.


Karena Andreas masih membisu, Mariana pun berkata, "Ok! Sekarang kau bisa pulang. Sebelum itu kasih tahu aku, berapa harga yang perlu aku bayar. Tetapkan waktu dan tempat, kita ketemu besok." Mariana membuka pintu hendak membiarkan Andreas keluar.


Andreas masih membatu karena dia belum lepas dari keterkejutan, namun hatinya tergelak. 'Ini kesempatan saya.'


...***...


"Apa yang kak Ana buat?" Suara Tari mengejutkan Mariana sekaligus menghentikan kegiatannya. Setelah kedatangan Tari, Andreas menjarakan diri.

__ADS_1


Dia agak risih berdekatan dengan wanita. Dia berdiri di dekat sofa. Anak-anak yang sedang menonton, menoleh ke arah mereka dengan tatapan tanda tanya.


"Ehh, sudah bangun?" tegur Tari kepada Andreas.


"Pergi mandi setelah itu kita makan bersama," ucapnya, tetapi lebih kepada perintah. Andreas sekadar mengangguk.


"Kau kenal dia?" tanya Mariana kepada Tari.


"Dia penyewa baru."


"Ye eeee...eeee!" Mariana hampir pingsan mendengarnya.


"Apa hubungan kalian berdua?" Andreas pula bersuara.


"Aku tuan rumah, sekaligus kakak kepadanya," jawab Mariana.


Dia sudah kembali menutup pintu depan. Andreas tersenyum penuh makna. Dia menatap Tari dan Mariana silih berganti, kemudian dia berkata kepada Mariana, "Tidak perlu tunggu besok. Kita bincang sekarang!" Lalu melangkah menuju sofa dan duduk di sana.


Ruang tamu tersebut tidak terlalu luas. Tetapi dapat memuat satu set sofa, sebuah meja, sebuah lemari yang ukurannya agak besar. Ditengah-tengah lemari itu diletakkan sebuah televisi yang sedang menayangkan rancangan kartun.


Ruangan tamu tersebut dihiasi dengan berbagai bentuk kerajinan tangan yang digantung di setiap sudut. Ada ukiran kayu berbentuk gajah, ayam, kuda dan berbagai jenis binatang lain. Ada sebingkai foto keluarga dan beberapa lagi bingkai gambar yang digantung pada dinding rumah tersebut.


Anak-anak Tari masih khusyuk menonton, mereka tidak peduli akan hal orang dewasa. Andreas duduk memeluk tubuh sambil menyilangkan kakinya. Dia duduk di atas sofa tunggal. Lagaknya seperti seorang bos besar.


Dengan isyarat mata, dia meminta dua bersaudara tersebut duduk di atas sofa panjang berhadapan dengannya.


"Harga yang perlu kau bayar, atas kerugian aku hari ini ...." Andreas bersuara. Dia memberi jeda pada kalimatnya, sekadar melihat reaksi Mariana.


Mariana pula diam menanti, baginya tiada yang serius. 'Kalau hanya dua atau tiga juta, perkara kecil, saya mampu bayar. Asalkan kau keluar dari rumah ini,' hatinya berkata-kata.


"Berapa?" tanya Tari.


"Lima puluh juta." Terkejut sungguh. Mariana tersedak air liurnya sendiri.

__ADS_1


Mariana naik berang. "Kau gila! Lima puluh juta! Kau mau isap darah aku? Kau lebih buruk daripada lintah darat," telunjuknya menuding Andreas.


__ADS_2