
Terlihat beberapa orang muda seusia mereka sedang bergelak tawa. Si pelontos Tomas terus berdiri saat melihat mereka masuk, diikuti oleh yang lainnya. Hanya Tantri yang tetap duduk karena tengah sarat mengandung. Usia kandungannya sudah tujuh bulan, sama dengan Ita–istri Hendra–sahabat Mariana.
Ruangan karaoke itu terlihat sederhana, tetapi lengkap dengan peralatan karaoke. Ada juga disediakan minuman berkarbohidrat dan makanan ringan. Mereka bersalaman dan berkenalan. Tampak keceriaan terlukis pada wajah masing-masing. Mariana mengambil tempat duduk di sebelah Andreas.
Kemesraan yang diperlihatkan oleh sahabat Andreas menyentuh hati Mariana. Mereka tulus menerima dia masuk ke dalam persahabatan mereka. Ben sengaja mengajak semua berkumpul di kelab malam bukan niat merendahkan Mariana, tetapi mereka ingin mengenal kehidupan gadis itu.
Bagi mereka pilihan om Alo selalu yang terbaik. Tidak ada orang tua yang membuat pilihan buruk untuk anaknya.
'Lebih baik mencoba mengenali dirinya, daripada mencari kesalahannya. Ketika kita sibuk mencari aib seseorang, kita lupa bahwa diri sendiri juga memilki kelemahan yang harus diperbaiki.'
Mariana paham akan niat baik mereka, tetapi Andreas kurang setuju dengan tindakan Ben. Mengapa harus bertemu di tempat ini? Bukankah masih banyak tempat yang boleh dijadikan tempat berkumpul? Selama ini mereka tidak pernah mengunjungi kelab malam. Kalau hendak berkumpul, biasanya di rumah Ben ataupun di rumah Paul. Sesekali mereka berkumpul di rumah nenek Andreas.
Andreas tidak mengungkapkan ketidakpuasannya, hanya menyimpannya di dalam hati. Mariana yang melihat perubahan riak wajahnya, menepuk lengannya sambil tersenyum. Andreas memalingkan wajahnya saat mereka bertatapan mata. Lelaki itu selalu saja salah tingkah setiap kali melihat senyuman Mariana. Ada sesuatu yang mulai mengusik perasaannya, walaupun dia selalu mencoba menepis rasa dan menafikannya.
Mariana tidak memedulikannya lagi. Dia larut dalam suasana yang menghiburkan. Sesekali mereka bergantian menari dan menyanyi, diselingi lelucon yang dilakonkan oleh Tomas. Pria itu memiliki bakat melawak. Ada saja tingkahnya yang selalu menggelikan hati. Mariana sampai tertawa terpingkal-pingkal, begitu pun dengan yang lainnya.
"Mana, Ben?" tanya Andreas saat menyadari sahabatnya itu tidak ada dalam ruangan tersebut.
"Dia keluar merokok," jawab Susi, istri Ben, "tapi kenapa dia lama sekali?"
__ADS_1
"Pasti dia sedang merayu perempuan di luar," jawab Tomas.
"Dia mana berani. Benar tidak Susi?" Us yang selalu dipanggil Ustat (Us - Tantri) bersuara.
"Kalau dia berani, siap. Tak akan kukasih jatah makan. Ha-ha-ha!" Susi tertawa, yang lain juga turut tertawa. Andreas dan Paul hanya tersenyum sumbing.
Mereka sudah mengenal Ben sebagai sosok suami takut istri. Walaupun terlihat seperti Susi itu istri yang tegas dan suka mendominasi, tetapi sebenarnya, karena Ben yang tak suka berdebat. Jadi, dia lebih memilih untuk mengalah. Dia akan bersikap tegas pada sesuatu yang dianggap penting.
"Aku keluar sebentar, mau ke toilet," bisik Mariana di telinga Andreas. Lelaki itu mengangguk, mengizinkan Mariana untuk pergi sebentar.
Mariana kemudian berdiri, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Saat sampai di ruangan diskotik, dia melihat Ben yang sedang duduk di sudut ruangan pada sebuah kursi dikerumuni oleh beberapa orang gadis cantik. Ben melambaikan tangan memanggilnya. Mariana melangkah mendekati mereka.
"Ana, beritahu mereka kalau saya sudah beristri. Mereka tidak percaya ni," pinta Ben, memohon padanya.
Para gadis tersebut tidak suka melihat keterlibatan Mariana. Namun, mereka juga tidak ingin terlibat dalam masalah. Satu per satu mereka mulai meninggalkan dia dan Ben.
"Terima kasih. Susah sekali mau buat mereka percaya." Ben menyodorkan sekaleng Coca-Cola yang belum dibuka. Coca-Cola berpindah tangan.
Mariana kemudian duduk di sebuah kursi kosong berhadapan dengan Ben. "Tempat begini, tidak ada yang peduli kamu itu tua atau muda, beristri atau bujang. Yang penting ini masuk poket." Dia menggesekkan ibu jari dan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Lagi pula yang datang ke sini juga hendak mencari pelampiasan nafsu selain hiburan. Jadi, wajar saja mereka goda kamu."
Tak ada yang berbicara. Hanya suasana marak akan lampu-lampu, musik dan tarian yang mengisi keheningan di antara mereka.
Mariana membuka penutup kaleng Coca-Cola. Pandangannya lurus menatap para penari di panggung disko.
"Sis, bagaimana saudari bisa berkenalan dengan om Alo?" tanya Ben.
"Panggil saja Mariana." Dia tersenyum, kemudian bercerita serba sedikit tentang awal perkenalannya dengan om Alo, hingga terjadi perjodohan antara dia dan Andreas. Ben mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hari itu, saya baru saja putus cinta dengan pacar saya. Tak sangka kehilangan seseorang yang saya cintai, menghadirkan lelaki lain yang lebih baik. Walaupun perlu menunggu dua tahun untuk bertemu dengan si Pengecut itu."
"Ande juga ditinggalkan olah tunangannya dua tahun lalu. Kamu sudah tahu kisah itu, 'kan?" Mariana mengangguk.
"Menunggu akan sesuatu yang dianggap tidak pasti memang sangat membosankan dan perkara yang dianggap bodoh. Namun, kamu sudah melakukan yang terbaik. Saya harap, kamu tidak mengulangi kembali kesalahan yang pernah dilakukan oleh Rena."
Mariana menunduk merenung lantai. Dia teringat perjanjiannya dengan Andreas tadi sore.
"Bolehkah saya meminta kepercayaan dari Saudara?" Mariana mendongakkan kepala menatap Ben.
__ADS_1
"Kepercayaan?" tanya Ben.
"Iya, saya harap Saudara tetap memercayai saya apa pun yang berlaku kelak."