My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XVVI


__ADS_3

"Kenapa kemarin tidak datang?" tanya Tanta Mei setelah mencuci piring di wastafel, sambil melabuhkan tubuhnya di kursi. Mariana tak menjawab. Ia masih sibuk melayani pelanggan yang terakhir.


"Terima kasih, sila datang lagi besok!" Mariana tersenyum kepada remaja perempuan yang datang membeli lauk. Gerai Tanta Mei menyediakan pelbagai jenis hidangan lauk dan nasi, tetapi bukan setiap hari hidangan yang sama disajikan. Ada masakan Jawa, masakan Tionghoa dan masakan Flores.


"Kemarin suami saya ultah, Shifu," jawab Mariana sambil mencuci tangannya di wastafel.


Tanta Mei tersenyum, lalu menggamit Mariana untuk duduk di sebelahnya. Ia kemudian menepuk perlahan tangan gadis itu penuh kasih setelah Mariana melabuhkan tubuh di sebelahnya. "Jaga suami kamu baik-baik!" Mariana mengangguk.


"Anak Tanta juga kemarin ultah," katanya. Walaupun Mariana selalu memanggilnya dengan sebutan 'Shifu', tetapi ia tetap membahasakan dirinya 'Tanta'.


"Ultahnya yang ke berapa, Shifu?"


"Tiga puluh tahun," jawab Tanta Mei.


"Wah! Berarti dia sebaya dengan suami saya, Shifu." Tanta Mei tersenyum. Pandangannya menerawang jauh. Bayangan wajah anak dan suami mulai bermain di minda.


Dalam hati Mariana tertanya-tanya di mana keberadaan suami dan anak Tanta Mei. Wanita itu tak pernah bercerita kepadanya di mana keberadaan mereka. Mariana merasa, ada sesuatu yang dirahasiakan oleh wanita itu.


"Shifu tidak rindu mereka?" tanya Mariana tiba-tiba setelah merasa keheningan mulai menguasai mereka.


Tanta Mei tersenyum lagi. Wanita itu banyak tersenyum hari ini. "Rindu ... sangat!" Namun, nada suaranya terdengar lirih.


Mariana berpaling, lalu memeluk Tanta Mei. Wanita sebaya mamanya itu, balas memeluknya. Tiba-tiba terdengar isakan halus yang mengiris perasaan Mariana.


"Tanta sangat merindukan mereka," katanya di sela isakan, "tapi, Tanta takut ketemu anak Tanta. Takut kalau dia benci Tanta."


Mariana turut menangis. Ia teringat akan Andreas. Lelaki itu membenci ibunya, tetapi juga merindukannya.


"Tidak, Shifu. Saya yakin, anak Shifu sangat rindukan Shifu. Rasa benci itu bentuk lain dari rasa sayangnya. Dia marah karena terlalu merindukan Shifu." Mariana menepuk perlahan punggung wanita itu untuk menenangkannya.


Tanta Mei mengangguk, sambil meleraikan pelukan Mariana.


"Ai, Tanta tiba-tiba jadi cengeng." Mariana tertawa mendengar ucapan Tanta Mei.


"Muka Tanta jelek, 'kan?"


"Shifu tetap cantik. Jangan khawatir!" Mariana mengesat air mata di pipi Tanta Mei.


"Walaupun Shifu mandi lumpur pun, Shifu tetap cantik," kata Mariana mengundang gelak wanita itu.


"Ada-ada saja. Ha-ha-ha!" Mariana turut tertawa.

__ADS_1


Mariana berdiri, lalu mulai mengemas peralatan masak dan menyimpan perkakas lainnya. Setelah itu mulai menyapu lantai, lalu melap dengan kain basah.


"Ana!"


"Iya, Shifu."


"Nanti pulang, bawa ini!" Tanta Mei mengulurkan tiga kotak plastik makanan jenama Tupperware.


Mariana menyambutnya. "Terima kasih, Shifu." Lalu menatap makanan yang tersimpan dalam plastik tersebut. "Banyak sekali, Shifu," katanya.


Tanta Mei tersenyum. "Bawa pulang, makan sama-sama dengan yang lain!"


"Iya, Shifu."


***


Di Kantor


Andreas menatap layar ponselnya. Ia bingung melihat lima panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Sejak semalam nomor itu asyik mengganggunya. Ketika ia menjawab panggilan dari nomor tersebut, pemanggilnya langsung mematikan sambungan telepon.


"Jangan asyik termenung, sekarang waktu kerja!" Teguran Ben membuyarkan lamunan Andreas. Ketua Tim Perancangan itu menyerahkan sebuah dokumen kepada Andreas.


Lelaki yang ketahuan mengelamun itu hanya tersenyum. Malu ditegur oleh atasannya. Sebelum Ruben berlalu, Andreas menarik tangannya. "Kau kenal nomor ini?" tanyanya.


"Ini nomor luar negara. Kau ada kenalan yang tinggal di luar negara?" tanyanya.


Andreas menggeleng. "Tidak ada."


Ruben mengedikkan bahu, kemudian berlalu dari meja Andreas. Ruben kembali memutarkan tubuh. Ia terlupa sesuatu. "Proyek di Larantuka ada sedikit masalah. Kalau ada waktu selesaikan masalah itu," katanya.


"Oke."


Andreas kembali menekuni pekerjaannya, coba melupakan sebentar nomor yang mengganggu pikirannya.


Namun, konsentrasinya terganggu. Ia kerap kali melihat wajah Mariana terpampang di atas kertas. Senyumannya, kejahilannya, kekonyolannya, bahkan teriakannya yang kadang memekakkan telinga.


Masih terbayang kejadian tadi pagi ketika dia hendak ke kamar mandi. Dilihatnya Mariana baru saja selesai membuang hajat. Namun, yang paling mengejutkannya, istrinya itu lupa menutup pintu. Alhasil, mereka sama-sama berteriak karena terkejut.


Bukan itu saja, masih banyak lagi kejadian-kejadian tak terduga yang selalu membuatnya menggelengkan kepala.


Namun, kejadian semalam sewaktu Mariana merayakan ulang tahunnya, cukup membuatnya terharu. Kehadiran Mariana dalam hidupnya, sedikit sebanyak membuat dia melupakan kesedihannya. Gadis itu mulai mengisi kekosongan yang selama ini membuat hidupnya terasa hampa akibat ditinggal ibu dan kekasih hati.

__ADS_1


Andreas menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah buku nota berwarna hitam. Perlahan tangannya mulai membuka buku tersebut, selembar demi selembar sampai dia menemukan halaman kosong. Tangan diulur mengambil sebatang pulpen, lalu mulai mencoret di atas kertas tersebut.


Deburan ombak menghempas tepian pantai


Seirama detak jantung yang kian bergelora


Tak tahu kapan ia datang


Mengetuk hati yang lama tertutup


Senyummu penyejuk hati


Tawamu pelipur lara


Bayangmu menari-nari dalam minda


Bagai karang menari dihempas bena


Dalam diam kuterbuai pada nyanyian rindu


Terhanyut dalam setiap untaian katamu


Wahai, istri


Inikah cinta?


Aku gelisah bila kau tiada


Karena hadirmu selalu kunanti


Istri


Engkaulah penyeri hidup


Bagai chandra kala purnama


Istri


Kan kusebut namamu dalam setiap doaku


Maria Mariana Koten

__ADS_1


Kaulah suriku


__ADS_2