
"Lalu siapa yang menjadi tunangan, Aan?"
"Sahabat kami ... tapi maaf, sebagai sahabat kami ingin membantu menilai orang yang akan dia nikahi. Apalagi kami mengetahui bahwa saudari Mariana bekerja di sini."
"He-he-he!" Fitri terkekeh kecil. Kemudian meneguk minuman yang mengandung alkohol. "Ha-ha-ha!" Dia tertawa sumbang.
Begitulah mereka di pandangan mata masyarakat. Hina dan tak diterima.
'Aan, kakak akan bantu kamu, semoga bahagia,' doa Fitri dalam hati.
"Oke. Apa yang ingin kalian ketahui?" tanya Fitri. Nada suaranya tak lagi terdengar ramah. Romo Wens jadi salah tingkah.
"Aan, dia tidak seperti kami. Dia gadis yang baik, berhati lembut. Kehidupan yang pernah ia lihat, yang membawa dia kepada kami." Fitri mulai bercerita sebelum diminta.
"Dia adik kecil kami, kakak dan juga ibu. Karena dia jugalah, hidup kami jadi lebih baik. Kalian pasti berpikir, bahwa pilihannya itu keliru. Dia tak seharusnya berada di sini.
Ya. Benar sekali. Dia tak seharusnya berada di sini. Tapi Tuhan mempertemukan dia dengan Abang Budi. Tu orang yang di sana!" tunjuk Fitri menggunakan muncungnya.
Pandangan mata Romo Wens dan Andreas teralih pada seorang lelaki yang sedang bercengkrama dengan Mariana. Mereka terlihat mesra.
"Mereka saudara angkat." Fitri kembali bercerita. "Abang Budi, lelaki yang suka mabuk-mabukan. Kalau dia sudah teler, dia tak ingat lagi dunia. Dia selalu telanjang apabila mabuk.
Dia akan tidur di jalan, emperan toko, pernah sekali dia tidur di pekuburan. Jadi, orang-orang suka anggap dia gila. Anak-anak akan jahili dia, lempar dia pakai batu. Tapi mau bagaimana lagi, orang mabuk mana dia sadar, kan?" Dia kembali meneguk minumannya. Wajahnya semakin memerah.
Pandangan Andreas masih tak lepas dari Mariana, walaupun telinganya setia mendengar cerita Fitri. Begitu pun dengan Romo Wens.
"Suatu malam ia mabuk berat, tidur di tepi jalan bertelanjang menyisakan CD-nya saja. Aan yang jumpa dia, pakaikan dia baju dan celana, lalu bawa dia ke kos-nya.
Aan bilang, kalau menginginkan orang lain untuk menghargai dan menghormati kita, kita harus menghormati dan menghargai diri sendiri dulu.
Sejak hari itu terjadi perubahan pada diri abang Budi, ia berubah menjadi sosok yang lebih bertanggungjawab, hingga kelap yang awalnya hanya menjadi rumah pelacur berubah dari kelap seperti yang kalian lihat sekarang."
"Lalu, bagaimana dengan Mariana?" tanya Romo Wens, karena dari tadi Fitri hanya menyebut tentang Abang Budi, sedangkan rasa ingin tahunya tentang Mariana lebih tinggi karena itu merupakan tujuan utama mereka datang ke kelap malam.
"Aan, saat dia datang ke sini, kami menolak dia. Pandangan matanya terlihat menghina dan merendahkan kami. Tapi kamu tahu apa yang dia katakan waktu itu?" Romo Wens menggeleng. Redup mata Fitri mengingat kembali saat itu.
"Pengorbananmu dipandang hina, tapi janganlah kau sesali apa yang telah kau lakukan. Biar pun dunia membencimu, tapi percayalah Dia yang di atas menyayangimu.
Seekor kupu-kupu akan selalu mengingat akan rasa sakit yang ia derita, tapi ia tahu keindahan senantiasa menanti di penghujung perjuangannya.
Dalam Alkitab, Yesus berkata, 'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit, bukan orang benar yang mengharapkan penyelamatan, melainkan orang berdosa.'
Aku bukan Tuhan, bukan juga pahlawan, bukan juga orang yang berilmu tinggi yang memiliki cita-cita mengubah dunia.
Tapi izinkan aku untuk menemanimu, bersama meniti hari yang kelam. Aku tak punya apa-apa, tapi hanya satu yang aku miliki ... suara.
Izinkan aku untuk menjadi penghibur di sini. Biarkan lagu-lagu, nyanyian-nyanyian yang berbicara mewakili kata hati kita, kalau kita layak untuk disayangi."
__ADS_1
Andreas merasa seperti ditampar oleh besi panas. Hatinya dicubit-cubit. Wajahnya memerah. Malu.
'Kribo.' Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Begitu juga dengan Romo Wens, 'Ya Tuhan, ampunilah hamba-Mu yang berdosa ini.'
"Terima kasih sudah menyadarkan kami tentang Mariana. Terima kasih sudah meluangkan waktu menemani kami," kata Romo Wens.
Fitri mengangguk. "Kami dapat lesen izin jadi PKS karena usahanya. Jadi tidak sembarang orang menyewa jasa kami. Begitu pun dengan kelap ini, kami mendapat izin dan kelulusan dari pemerintah untuk membuka kelap pun berkat usaha dia.
Tadi saat kalian masuk, di pintu kalian disuruh isi daftar nama beserta nomor KTP, bukan?" Romo Wens mengangguk.
"Jadi yang masuk ke sini hanya anak-anak delapan belas tahun ke atas. Kamu lihat yang duduk di ujung sana tu." Leher mereka berdua berputar ke arah jam 2.
"Itu kumpulan anggota pemerintah. Yang baju coklat tu, Sekertaris DPRD; Pak Raja; Pak Herman; Pak Domi (Menteri Keuangan); dan Pak Wilem dia tu polisi," jelas Fitri.
'Patut pun, orang ternama pun datang sini,' batin Romo Wens.
Pada saat itu, lagu Wakuncar dilaungkan Mariana dari atas panggung. Seketika Romo Wens dan Andreas terkesima, terkagum-kagum mendengar suara khas milik Mariana. Bersama goyangan pinggul Mariana memukau para pengunjung kelab, terutama yang bergelar bapak-bapak.
Pak Domi dan Pak Wilem mengangkat punggung dari kursi, terus naik ke panggung bergoyang bersama Mariana. Pak Wilem mengulurkan segelas minuman, namun ditolak oleh Mariana dengan senyum yang senantiasa mengembang di bibir.
"Aan tak minum arak," Fitri bersuara, membuat Andreas dan Romo Wens menoleh ke arahnya. "Dia satu-satunya yang tak terpengaruh langsung dengan bau alkohol. Abang Budi sediakan untuk dia jus dan air Aqua." Romo Wens dan Andreas melongo tak percaya, membuat Fitri mengangguk beberapa kali demi meyakinkan mereka.
"Suara dia sangat merdu, jernih, pengucapannya pun jelas. Suara dia sangat sesuai nyanyi lagu lama seperti lagunya Meriam Bellina, Nike Ardilla, Nava Urbach, Popi Mercuri, pokoknya penyanyi lama." Andreas mengangguk setuju. Dari tadi lelaki langsung tak bersuara, sesekali mengangguk seperti burung beo.
"Kami tak punya apa-apa untuk diberikan kepada saudari." Wajah Fitri berubah muram. Sangat jelas terlihat kecewa. Berbuih mulut dia bercerita, mengharap banyak akan isi dompetnya bertambah selain ia membantu Mariana, namun pupus sudah harapannya.
"Hanya doa yang panjatkan, semoga Tuhan senantiasa memberkatimu." Romo Wens meletakkan tangannya di atas puncak kepala Fitri, sambil mengucap doa lalu menggerakkan tangannya seperti tanda salib (cara para pastor/pendeta memberi berkat).
Hujan turun menyirami hati Fitri yang kering dan gersang, haus akan kesejukan rohani. Air matanya mengalir begitu saja. "Terima kasih," katanya lirih.
'Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang berdosa ini, hamba tak layak berdiam di taman Firdaus-Mu.'
...***...
Hentakan tumit tinggi menggema dalam lorong menuju ke toilet. Matanya menyipit saat melihat seseorang yang celingak-celinguk di luar toilet wanita. Bentuk tubuh dari belakang orang itu sepertinya dia kenal, namun merasa kurang yakin.
Mendengar bunyi tik tok tik tok, orang itu menoleh ke belakang. Dia tersengih seperti kerang busuk. Mariana memeluk tubuh sambil berjalan mendekatinya.
"Apa kau buat di sini, Tuan Pengecut?" Tatapannya tajam memandang Andreas. Yang ditanya hanya tersengih.
"Bisa minta tolong?" tanya Andreas.
"Minta tolong apa?"
Andreas mencondongkan kepalanya, lalu berbisik di tepi telinga Mariana, "Aku mau pinjam toilet wanita, bisa?"
__ADS_1
"Tidak bisa, toilet pria di sebelah."
"Busuk! Ada orang buang air besar tak siram."
"Lalu kau, mau kencing atau berak?"
"Kau ... kalau bicara tu tak bisakah pakai bahasa yang lebih sopan? Buang air!" marah Andreas.
"Ha-ha-ha!" Mariana terbahak-bahak. Geli sungguh hatinya melihat riak wajah Andreas. "Oke, sekarang kau punya yang mana? Besar atau kecil?"
"Kecil."
Mariana langsung menarik tangan Andreas, membawanya masuk ke dalam toilet wanita.
"Masuk! Jangan keluar sebelum aku panggil!" Andreas pun masuk, sedangkan Mariana, ia memasuki kamar kosong di sebelah Andreas.
Setelah keduanya siap, mereka sama-sama keluar dari toilet.
"Terima kasih," kata Andreas.
Mariana mengangguk. "Cepat pulang, tempat ni tak sesuai dengan kau. Jangan kau tambah lagi penghuni di neraka," ucap Mariana.
"Kribo, maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk malam tu."
"Isshh, jangan kau ungkit lagi, buat malu saja." Mariana menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kau bekerja di tempat begini, tapi pura-pura polos pula." Setelah mengatakan kalimat demikian, Andreas terkesiap saat tangannya tiba-tiba ditarik, lalu punggungnya menyentuh tembok.
Mariana mengunci pergerakan Andreas. Dia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Andreas, dia hanya menyisakan satu inci jaraknya.
Tatapannya yang seperti gadis penggoda, ia berbisik di tepi telinga Andreas. "Bagaimana kalau aku masih polos. Kau mau bukti?"
Dia meniup lubang telinga Andreas, membuat lelaki itu bergidik bulu romanya. Sekuat tenaga dia menolak Mariana, hingga gadis itu terundur beberapa langkah.
"Jangan kau sentuh aku!" Segera mengatur langkah seribu meninggalkan Mariana.
Mariana hanya terkekeh geli.
'Ayah, calon menantu Ayah sungguh senonoh. Tak boleh pakai, buang saja ke laut.'
✨✨✨
NB : Senonoh artinya : tidak patut atau tidak sopan
__ADS_1