My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLIII


__ADS_3

Sepeda motornya diparkirkan dekat tiang listrik. Helmet ditanggalkan dari kepala, lalu diletakkannya di atas tempat duduk motor, sambil membetulkan tatanan rambutnya.


Jubah putihnya sudah ditanggal, diganti dengan celana jeans panjang, T-shirt coklat lengan pendek. Terlihat sangat santai.


Kenapa kita ke sini?" Pandangannya tak lepas dari papan nama yang dihiasi kelap-kelip lampu berwarna-warni, KELAP MAWAR MERAH. Sedangkan yang ditanya hanya membisu.


"Pakai ini." Andreas menyodorkan sehelai topeng mulut berwarna hitam.


"Untuk apa!" tanya Romo Wens.


"Berjaga-jaga, jangan sampai ada yang mengenali kamu. Bahaya kalau mereka lapor ke keuskupan, kalau pemimpin jemaat mengunjungi kelap malam."


"Kalau sudah tahu, kenapa ajak saya ke sini?" Tak paham dengan pikiran Andreas. Sudah beberapa kali dia bertanya, tetapi lelaki itu hanya membisu. Pikirannya melayang entah ke mana.


"Saya mau memastikan sesuatu."


"Mau memastikan apa? Katakan, kalau tidak saya tinggalkan kau di sini!" Pura-pura mengancam.


"Mariana ... adiknya bilang, dia kerja di sini."


"Jadi kau sudah ketemu Mariana?"


Angguk. "Sejak hari pertama saya datang ke sini. Tapi saya tak tahu, kalau dia orang yang saya cari."


"Yang benar saja," merasa kurang percaya.


Andreas mengangguk, "Saya bahkan tinggal di rumah dia."


Romo Wens melongo tak percaya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Kapan kau tahu, kalau dia orang yang kau cari?"


"Beberapa hari lalu."


"Hmm, lalu untuk apa kita di sini?" tanya Romo Wens lagi.


"Mau lihat, memastikan kalau dia benar-benar penyanyi."


Romo Wens mengangguk paham. "Jadi, sekarang ni kita tukar profesi sebagai detektif?" Andreas tak menjawab.

__ADS_1


"He-he-he!" Romo Wens terkekeh setelahnya.


Masing-masing mereka memakai topeng mulut, kemudian melangkah mendekati pintu masuk Kelap Mawar Merah.


"Aku gemetar," bisik Andreas tiba-tiba. Langkah Romo Wens terhenti. Andreas turut berhenti.


"Aku juga." Dia menoleh menatap Andreas. "Lihat tangan saya, lutut saya juga."


Saat itu beberapa orang muda-mudi yang berpapasan dengan mereka, menatap curiga. Termasuk para bodyguard yang sedang berpatroli di luar kelap. Namun mereka hanya mengabaikannya.


Andreas merogoh saku celananya, lalu dikeluarkannya beberapa biji pil obat yang tersimpan kemas dalam botol plastik kecil. Lalu, menyerahkan sebiji pada Romo Wens.


"Apa ni?"


"Vitamin. He-he-he!" Andreas terkekeh. "Pil penenang. Aku sel ...." Belum selesai ucapannya, Romo Wens sudah lebih dulu menelan pil tersebut.


Andreas turut sama, menelan pil itu sebiji.


"Tak cukup," kata Romo Wens. "Doa dulu," lanjutnya.


Romo Wens mengatupkan kedua tangannya, diikuti oleh Andreas. Masing-masing berdoa dalam hati, meminta pada Tuhan untuk menguatkan hati agar tidak mudah tergoda lalu terjerat kemudian terjatuh dalam lembah nista.


Setelah berdoa dan menetapkan hati, mereka pun kembali mengatur langkah memasuki Kelap Mawar Merah.


Belum lagi anak muda berdansa, goyang pinggul mengalahkan para pendangdut koplo, dengan pakaian yang minim kekurangan bahan, sungguh menodai mata kedua lelaki dewasa tersebut.


Langkah kaki keduanya terpaku di tempat. Melongo tak percaya. 'Beginikah tempat kerja kau, Kribo?' batin Andreas bertanya.


"Hai," sapa seorang wanita cantik mengejutkan mereka berdua.


Andreas mengambil langkah berdiri di belakang tubuh Romo Wens. Bersembunyi. Pandangan si cantik terarah padanya. Curiga.


"Ha ... hai," Romo Wens balas menyapa.


"Kenapa pakai topeng? Takut dikenal?"


"Hussssttt!" Jari telunjuk Romo Wens refleks diletakkan di depan bibirnya, memberi isyarat untuk diam.


Wanita itu mengangguk. Dia menawarkan minuman, namun ditolak oleh keduanya.

__ADS_1


"Kami sedang cari orang," kata Romo Wens mengeraskan sedikit suaranya agar didengar oleh si cantik.


"Siapa yang kalian cari?" tanya si cantik, sambil mengajak mereka duduk di sudut ruangan sedikit menjauh dari keramaian pengunjung kelab.


Ketiganya lalu melabuhkan tubuh di atas kursi yang disediakan.


"Siapa yang kalian cari?" tanya si cantik lagi.


"Namanya Mariana," jawab Romo Wens. "Katanya dia kerja di sini."


"Aan?"


"Bukan! Mariana namanya."


"Iya, di sini kami panggil, Aan."


'Cis! Macam-macam dia punya nama,' batin Andreas.


"Oo, itu dia." Si cantik hendak mengangkat tangan melambai pada Mariana, saat gadis itu menoleh ke arah mereka, namun ditahan oleh kedua pria itu.


Tak tahu apakah Mariana menyadari kehadiran Andreas ataupun tidak.


"Jangan!" teriak mereka serentak.


Si cantik yang bernama Fitri itu mengerutkan dahi. Bingung. "Kenapa?" tanyanya.


"Ehem ...!" Romo Wens berdehem sambil membetulkan letak duduknya.


Sedangkan Andreas kembali membisu. Duduk bersandar memandang Mariana, ke mana arah gadis itu bergerak.


"Begini, Saudari. Sebenarnya kami ini sahabat kepada lelaki yang akan menikahi Mariana." Andreas terus menoleh ke arah Romo Wens, namun tak bersuara.


"Aan mau nikah?" Fitri terlihat kaget mendengar berita itu.


"Saudari tak tahu? Maksud saya kalau saudari Mariana sudah bertunang."


"Tahu. Aku tahu dia sudah bertunang dengan lelaki yang tak pernah lihat batang hidungnya. Tetapi Aan orang yang setia. Dulu dengan dokter Dan juga dia setia, cuma sayang ... mereka tak berjodoh." Dahi Romo Wens berkerut mendengar nama yang disebut oleh Fitri.


'Ooo, jadi dia juga pernah putus cinta,' Andreas manggut-manggut paham.

__ADS_1


"Lalu siapa yang menjadi tunangan Aan?"


"Sahabat kami, tapi maaf ... sebagai sahabat kami ingin membantu menilai orang yang akan dia nikahi. Apalagi kami mengetahui bahwa saudari Mariana bekerja di sini."


__ADS_2