
"Tunggu sebentar! Aku mau beli kerepek pisang dulu," cegah Mariana setelah Andreas selesai membuang hajatnya di belakang.
"Untuk apa? Tadi kau sudah beli banyak."
"Oleh-oleh buat calon mertua aku," ucapnya sambil melihat ke arah kedai menjual berbagai jenis buah-buahan, berbagai jenis keripik dan kerupuk udang.
"Tidak usah, di rumah hanya ada nenek yang sudah ompong, ayah dan Mikel." Mariana tersenyum. Dia jadi teringat pada neneknya.
"Kalau kau mau, nanti beli saja di Maumere. Harga barang di Maumere lebih murah dan banyak pilihan berbanding di sini dan di Larantuka," lanjutnya.
"Ago go, ayo berangkat!" Suara konjak mengingatkan mereka, bahwa waktu sudah selesai.
"Oke." Mariana menganggukkan kepala, kemudian menarik tangan Andreas menuju kendaraan mereka.
Semua penumpang secara teratur menaiki bus, duduk kembali di tempat masing-masing. Tak ketinggalan Arnol si hitam manis. Setelah semua penumpang naik, bus pun kembali bergerak.
Suasana menjadi sepi. Tak ada gelak-tawa dan gurauan Arnol. Mariana sibuk membalas pesan dari Tari dan beberapa pelanggannya. Sesekali terdengar geraman halus karena ponselnya yang loading seperti siput.
"Suami kamu kikir sekali," bisik Arnol perlahan sekali tepat di tepi telinga Mariana.
Gadis itu menoleh. Alis matanya terangkat membuat dahinya berkerut seribu.
"Dia pakai hp mahal, sedangkan kamu punya tu sudah layak masuk museum. He-he-he." Dia terkekeh diakhir kalimatnya.
Mariana tak membalas, hanya senyuman yang terukir di bibir. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya membalas pesan satu demi satu.
...***...
__ADS_1
Saat proses pencernaan berlangsung, tubuh akan melepaskan hormon tertentu seperti serotonin dan melatonin. Peningkatan kedua hormon tersebut bisa menimbulkan rasa kantuk.
Teori tersebut sangat nyata terlihat pada Mariana sekarang. Sudah beberapa kali dia menguap walaupun tak sampai membuka mulut.
Setelah membalas pesan terakhir dari seorang pelanggannya, dia menyandarkan kepalanya di bahu Andreas sambil memejamkan mata.
Andreas menolak kepala Mariana. Tak sudi menjadikan bahunya sebagai bantal. Mariana tak peduli. Dia kembali menyandarkan kepalanya. Andreas ingin kembali menolak kepala Mariana, tetapi diurungkan niatnya itu setelah ekor matanya menangkap lirikan mata Arnol.
Lagu 'Kenangan Terindah' dari audio yang diputar oleh sang sopir membawa Mariana ke dalam kenangan lalu tentang hidupnya yang penuh ranjau onak dan duri. Tak butuh waktu lama, Mariana terlena dibuai mimpi.
...***...
Ingin menggeliat, tetapi paha kanannya terasa seperti sedang bersentuhan dengan suatu benda. Lebih tepatnya ada benda yang bergerak mendekati pangkal pahanya.
Mariana mengetap gigi. Geram. 'Bajingan,' umpatnya dalam hati. Dia bangun tanpa membuka mata. Kedua tangannya direntangkan, pura-pura menggeliat.
Punggung tangan kanannya menampar keras wajah Arnol. Lelaki itu tersentak. Kaget, seperti monyet yang mendengar bunyi senapan.
Mariana kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Andreas. Arnol menatap Mariana. Gadis itu sedang menggaruk-garuk pipi dan leher. Wajahnya terlihat tenang.
'Dia bermimpi rupanya,' batin Arnol.
Terasa pahanya kembali digerayangi sesuatu. Mariana mengetap gigi sampai terdengar gemeletak di telinga Andreas. Deru napasnya kian memburu. Cuaca panas di luar semakin membakar api kemarahan dalam dirinya.
Andreas yang turut tertidur, terganggu mendengar bunyi gemeletak gigi Mariana. Dia menatap sekilas wajah gadis itu. Dahinya berkerut seribu, melihat Mariana yang seolah sedang menahan sesuatu.
Gadis itu beralih posisi, tidur bersandar pada bahu Arnol. Lelaki itu tersenyum. Suka. Mariana mencondongkan badannya sedikit ke depan, sehingga siku tangannya tepat berada di depan dada Arnol.
__ADS_1
Mariana mengepalkan tangannya. Sekuat tenaga tangannya menyiku perut Arnol.
"Argh!" rintihnya tertahan. Lelaki itu tertunduk menahan sakit pada ulu hatinya. Dia membungkukkan badan hendak mengeluarkan isi perutnya. Mariana cepat kilat menekan kuat tengkuk Arnol.
Dia kemudian berbisik di tepi telinga lelaki itu. "Jangan coba-coba ambil kesempatan ke atas saya. Saya tak segan-segan membunuh, tahu? Enyahlah dari hadapan saya, kalau tak mau video mesum kamu tersebar di internet!" Mariana mengedipkan mata pada gadis yang duduk di depannya.
Gadis itu terlihat kaget, tetapi dia menyunggingkan senyum manis. Dia balas mengedipkan mata.
"Ada apa?" Suara Andreas mengejutkan Mariana. Dia kemudian melepaskan tangannya dari tengkuk Arnol.
"Tak ada apa-apa, Sayang. Sepertinya Kak Arnol mabuk perjalanan." Dia tersenyum memandang Andreas.
Arnol, setelah tangan Mariana terlepas dari tengkuknya, dia segera mengambil langkah seribu meninggalkan tempat duduknya.
Bus masih melaju dengan kecepatan sedang. Setelah Arnol pergi ke depan, datang seorang gadis yang duduk di depan Mariana tadi, beralih duduk di sebelah Mariana.
"Kakak sangat hebat." Dia mengacungkan jempol. Mariana hanya tersenyum.
"Aku pernah jadi mangsanya, Kak. Lelaki tu sangat mesum. Dia lihat perempuan bening sedikit, matanya beliak seperti mau keluar."
Mariana masih membisu, hanya senyuman yang terukir di bibir.
"Bagaimana Kakak tahu saya rekam video?"
"Saat Kakak tampar muka dia tadi."
"Ooo." Pembicaraan berlanjut, sampai bus memasuki wilayah kabupaten Sikka, Maumere.
__ADS_1