
Tari sibuk melayani pelanggannya. Aksesoris yang dijual hampir semuanya merupakan hasil kerja tangan Mariana. Yang kebanyakan terbuat dari bahan kayu, rotan, potongan kain, kulit siput, dan ada juga yang terbuat dari kulit binatang. Seperti bingkai foto, patung, perhiasan dan sebagainya.
"Kak, buatkan aku patung ya, ikut foto ni," ucap seorang remaja, cantik, tinggi lampai, sambil menyerahkan selembar foto pasangan pada Tari.
Tari menerimanya. Dia tersenyum gembira. Memang harga setiap patung berbeda, tetapi, rata-rata di atas lima puluh ribu rupiah per buah.
Apalagi patung yang dipesan khusus. Harganya boleh mencapai dua ratus sampai lima ratus ribu rupiah karena Mariana memahatnya mengikuti rupa dalam gambar tersebut. Jadi, Mariana memerlukan konsentrasi tinggi. Kalau salah sedikit, akan ditolak pelanggan. Seperti hidung mancung, jadi hidung pesek. Nah! Siapa yang rugi?
Setelah melayani pelanggan, Tari mendekati Mariana. Gadis itu masih sibuk bergelak tawa melayani Hendra. Ia menyodorkan selembar foto dan sekeping amplop. Mariana menyambut lalu meletakkannya di atas meja.
Tari kembali duduk di kursinya karena memang sudah tidak ada pelanggan lagi, ia beristirahat sebentar.
"Daling, aku sibuk ni, esok-esok kita sembang lagi."
["Oke! Aku telpon di WA kau, lelaki yang angkat. Siapa tu?"]
"Orang tak waras. Abaikan saja. He-he-he!" Mariana terkekeh.
["Aku serius ni. Abang baru?"]
"Hmm!"
["*Eh, d*ari mana kau embat si abang tu? Aku pikir kau sudah tak laku lagi."]
"Iya, lakulah. Aku kan cantik lagi. Kau tak tahu saja, banyak yang sedang antre tu. Sudahlah, aku tutup dulu. Kirim salam buat Ita dan ponakan aku. Bye!"
["Oke! Bye bye!"]
Tut tut tut!
Panggilan pun berakhir. Mariana memalingkan wajahnya menatap sang adik.
"Foto ni punya pelanggan. Dia akan datang ambil dua hari lagi." Mariana mengangguk.
"Yang ini .... " Tari menunjuk amplop putih. "Bayar sewa sebulan dari pak Ande," lanjutnya.
Mariana diam berpikir. "Jadi sudah sebulan dia pinjam Hp saya." Mariana menghela napas, kemudian tersenyum penuh makna. Tari hanya diam memperhatikan.
"Tata!" Tari bersuara.
"Hmm!"
"No Agus ada telpon?" tanya Tari. Agus adalah adik lelaki Mariana. Mereka tiga bersaudara. Mariana merupakan anak sulung, nomor dua Agus yang menjadi lelaki tunggal, dan terakhir Tari. Tari lebih dulu bertemu jodoh.
__ADS_1
Jarak antara Mariana dan Agus terpaut enam tahun. Sedangkan antara Agus dan Tari hanya berjarak setahun.
Mariana menggeleng. Tari paham. Ia tahu hati kakaknya terluka atas perkataan saudaranya tempo hari.
"Kemarin dia VC di Hp kak Fendi. Dia tanya kamu, katanya rindu. Sepertinya dia sudah menyesal." Mariana diam tak menyahut.
Tari berdiri. "Beri dia satu kesempatan lagi, Kak." Tari meletakkan ponsel Android Xiaomi miliknya di atas meja. Kemudian berlalu pergi melakukan pekerjaannya, membersihkan barang-barang, menyapu dan mengepel lantai. Kalau ada pelanggan yang datang, dia akan melayani mereka.
Mariana memandang lama ponsel yang sengaja ditinggalkan oleh Tari. Hatinya juga merindukan adik yang seorang itu, tetapi, luka yang ditoreh sang adik sungguh menyakiti perasaannya.
Ia meraih ponsel tersebut, mencari nama adiknya. Tari menggunakan nama 'No Agus.' Mariana mengklik nama tersebut, membuat panggilan video.
Deringan pertama tak dijawab. Ia memanggil lagi, tak lama setelah itu muncul wajah sang adik pada layar ponsel Tari.
Agus terkejut melihat wajah kakaknya yang muncul pada layar ponselnya.
"Ta-tata!" panggilnya terbata-bata. Hatinya terharu, bila sang kakak masih sudi menelponnya.
"Maaf, Kak! Maaf!" Ia tak dapat menahan gejolak perasaannya. Air mata lelakinya terus tumpah membasahi pipi. Ia menunduk, malu memandang wajah sang kakak.
Mariana mengesat air matanya menggunakan punggung tangan, ia turut menangis. Namun, sebisanya ia menahan isakannya. Ia menengadah ke atas memandang langit-langit toko. Tari yang melihat turut menumpahkan air mata. Suasana begitu haru.
Liburan Semester Genap 20xx Tahun Lalu
Padahal antara Larantuka dan Makassar, hanya satu hari satu malam perjalanan menggunakan kapal laut Sirimau. Namun, demi menghemat keuangan, tidak! Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu bersama kekasih, itu sebabnya ia melupakan sejenak pada keluarga.
Pada tahun itu, mama mendesaknya untuk kembali berlibur. "Mama rindu mau ketemu, Gus. Agus sudah lupakan keluargakah?"
Kalimat itu yang meluluhkan hati Agus untuk pulang ke kampung, sekaligus mengobati hati karena putus cinta. Hmm! Putus cinta baru teringat kampung.
*K*ini sudah hampir dua minggu ia berada di kampung, bercengkrama bersama rekan-rekannya sekampung dan teman-teman sekolahnya.
Seperti hari ini Agus diajak teman sekolahnya waktu SMA dulu, nongkrong bersama depan pertokoan yang dulu sering mereka berkumpul.
'Hmm! Cuma tiga tahun tapi sudah banyak perubahan. Tempat ni dulu tidak ada toko elektronik, sekarang sudah ada dua di sini,' batinnya.
"Gus, ini wajahnya seperti kakak kau," ucap Tinus teman sekelasnya dulu, menunjuk seorang gadis dalam video di Facebook yang sedang mereka tonton.
Gadis berpakaian seksi sedang menari bersama dua lelaki dewasa. Goyangannya mengalahkan Inul Daratista atau bahkan mungkin memecah rekod Duo Serigala.
"*Ah, bukan! Kakak aku tu mana mungkin pakai pakaian seksi begitu, lagipun buat apa dia pergi ke kelab?" sanggahnya. Namun,
ia merasa sangat akrab dengan suara penyanyi tersebut. Memang selama ini dia tidak tahu Mariana kerja di kelab malam*.
__ADS_1
"Dia ni penyanyi di Kelap Mawar Merah." Toni bersuara.
"Kalau mau tidur dengan dia, harganya berjuta." Jimi menyambung, "nama dia Ann," lanjutnya.
"Tak mungkinlah, harganya berjuta. Orang dia rupanya biasa saja. Tak ada cantik amat," bantah Toni
"Pelacur, kalau korang ada duit, mata dia orang tu bintang-bintang. Mau aja dia orang ajak tidur. Goyangan dia orang tu , waawww! Kalah bini-bini di rumah." Muka Agus terlihat memerah.
"Lah, Ton, kau bicara seolah kau sudah ada pengalaman. Awek aja kau belum punya, tapi kau bawa-bawa bini segala."
"Aku tak ada bini. Aku pakailah bini orang, ha-ha-ha!" Toni tertawa.
"Gila kau, Ton!"
"Ha-ha-ha!" Toni kembali tertawa. "Cewek tu punya toko cendramata MARIANA BLING BLING," lanjutnya menunjuk pada gadis dalam video tersebut.
Tinus dan Agus saling berpandangan. "Jangan kau sembarang bicara, Ton!" Suara Agus meninggi.
"Lah, siapa juga yang sembarang bicara, aku member VVIP di Kelap Mawar Merah, tahu!" marah Toni tak terima.
"Kak Mariana yang itu?" tanya Jimi.
Toni mengangguk. "Iyalah!"
"Pantasan, keluarga aku tak setuju waktu dia pacaran dengan sepupu aku, Daniel." Agus menoleh ke arah Jimi.
"Rupanya dia memang pelacur. Aku pikir itu cuma alas ...." Jimi tak dapat melanjutkan ucapannya, karena Agus tiba-tiba menarik kerah bajunya.
"Jaga mulut kau, Jimi! Kakak aku bukan pelacur!" tegas Agus.
"Hentikan, Gus! Kakak kau memang perempuan murahan. Aku selalu lihat dia gonta-ganti ...."
*Bugh!
Agus meninju wajah Toni. Toni terdorong ke belakang*.
*Bugh!
Toni membalas meninju Agus. Perkelahian tak dapat dielakkan. Dua-duanya sama-sama kuat. Segera Tinus dan Jimi meleraikan perkelahian tersebut. Tinus menarik Agus, sedangkan Jimi menarik Toni*.
"Sudahlah! Kita ni semua teman sudah seperti keluarga." Tinus coba mengingatkan.
"Kakak aku bukan pelacur!" Agus berkeras membantah. Ia tak terima kakaknya dikatakan pelacur.
__ADS_1
"Kalau kau tak percaya, kau selidik saja sana." Toni bersuara. "Takkan ada asap, kalau tak ada api. Semua orang tahu kecuali kau," lanjutnya lagi.