My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXIV


__ADS_3

"Benarkah ini, Darling?"


Angguk. Tangannya masih lincah menulis nama orang-orang kampung yang diundang.


"Aku masih tak percaya. Sudah berulang kali aku kucek mata ni, tapi nama ini langsung tak berubah."


Mariana tertawa. "Ada-ada saja kau, ni."


"Eh, kalau yang kau maksud Aloysius Krowe, pemilik perusahaan properti Krowe Brother's , siapa yang tidak kenal? Satu kota Maumere kenal, tahu."


"Sebegitu hebatkah?"


"Tentu. Punya banyak tanah. Anak cucu kau nanti hidup senang. Anaknya om Alo yang satu lagi ...." Hendra tiba-tiba menghentikan ucapannya. Ada sesuatu yang mulai mengganggu pikirannya.


"Ada apa?" tanya Mariana.


Hendra menggeleng. Dia menarik napas, mengembuskannya perlahan, lalu menegakkan punggung. "Selamat atas kejayaan Saudari naik ke kelas ikan paus," katanya, sambil mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat.


Suara tawa Mariana menggema, memecahkan keheningan malam di dalam kamarnya.


"Gigi, e. Pelankan suara kau, e. Anak aku tidur di sebelah." Hendra menendang kaki Mariana dari bawah meja. Gadis itu tertawa sampai matanya berair, terbungkuk-bungkuk sambil memegang perut.


"Aku sakit perut, Darling," kata Mariana setelah tawanya mereda.


Hendra mencebik. Dia kembali menatap kartu undangan, membaca kata demi kata, menilik huruf demi huruf. Mungkin ada yang kurang atau tersalah tulis. Namun, matanya belum rabun. Jadi, sangat jelas tertulis di atas kartu undangan tersebut.


'Yang dipersatukan Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia.'


Pasangan yang berbahagia, ANDREAS SUBAN KROWE & MARIA MARIANA KOTEN, mengundang: Ema/Bapa, Om/Tanta, Tiu/Tia, Kaka/Ade, Sahabat kenalan ... sekeluarga untuk turut meraihkan kebahagiaan bersama pasangan pada:


Hari/Tanggal: Minggu, 21 November 20xx


Waktu: Setelah Pemberkatan di Gereja


Tempat: Di Rumah Pengantin Perempuan


Turut mengundang:


Ayah: Aloysius Krowe


Ibu: Maria Xin Mei Lin


Nenek: Theresia Fernandez


Keluarga besar pengantin lelaki


Mama: Rovina Kelen


Nenek: Maria Barek Jurit


Keluarga besar pengantin wanita


'Nama bapanya (bapak) tak ada. Mungkin karena dia sudah meninggal,' batinnya.


"Darling, kau mengelamun?" Hendra tersentak mendengar teguran Mariana. "Cepat tulis! Masih banyak ni, besok anak-anak mau bagi undangan ke orang kampung."

__ADS_1


Hendra mengangguk. Dia masih merasa sesuatu yang menjanggal dalam pikirannya saat membaca nama pengantin pria. Dia merasa tidak asing dengan nama tersebut. Namun, tak ia temui keganjilannya walaupun setelah berpikir lama.


'Mungkin perasaan aku saja,' batinnya mencoba menepis sesuatu yang mengganggu pikirannya.


...***...


Alunan lagu Seroja menghentikan Hendra dari kegiatannya. Ditatapnya lama paras ayu sahabat yang tertidur. Kepala diletakkan di atas meja berbantalkan lengannya sendiri. Rasa simpati menjenguk jiwa, tak sampai hati membangunkannya, tetapi, lagu Seroja terus beralun dari ponsel Mariana.


"Darling!" Tak ada jawaban.


"Darling!" Suaranya sedikit dikeraskan, sambil menggoyang lembut tubuh Mariana.


Gadis itu menggeliat. "Hmm!"


"Ada orang telpon."


Mariana bangun, meraih ponsel yang terletak di atas ranjang. Dipandangnya lama ponsel tersebut.


"Kenapa tak jawab?" tanya Hendra setelah ponsel Mariana berhenti bernyanyi.


"Nomor tak dikenal dari luar negara," jawabnya.


"Kau ada kenalan dari luar negara?"


Mariana mengedikan bahu. "Tak tahu."


Tak lama kemudian, lagu Seroja kembali beralun. Nomor tak dikenal +65xxx


"Jawab saja, mungkin penting." Hendra memberi usul. Mariana mengangguk.


["Halo!"]


["I miss you."] Terdengar suara lembut dari seberang.


Mariana bergidik. ["Maaf, Anda salah nomor."] Panggilan terus dimatikan sepihak olehnya.


"Siapa?" tanya Hendra dari tempat duduknya.


"Dia pikir aku lesbian." Mariana bergidik.


Lagu Seroja kembali beralun. Hendra berdiri, berjalan menghampiri Mariana yang duduk di atas ranjang. Dia meraih ponsel tersebut.


["Halo!"] Suaranya terdengar lembut, sambil melabuhkan tubuhnya di samping gadis itu.


["Jangan dimatikan!"]


"Dia orang Indonesia," bisik Hendra perlahan di telinga Mariana.


["Oke, tapi dengan siapa saya bicara?"]


Tak ada jawaban.


["Halo!"]


["I miss you."] Suara di seberang terdengar bergetar.

__ADS_1


"Dia gila, e. Dia pikir kita lesbian," kata Mariana sedikit mengeraskan suaranya. Terdengar kekehan kecil di seberang telepon.


Mariana meraih kembali ponselnya. Dia merasa dipermainkan. ["Sepertinya Anda hanya ...."]


["I love you."]


["Maaf, saya sudah bert ...."]


["Darling!"]


Tangan Mariana bergetar. Matanya mulai berair. ["Gina!"] teriaknya mengejutkan semua penghuni rumah. Terdengar suara tangisan Noel dan Nini dari kamar sebelah karena terkejut.


Hendra merampas ponsel. ["Gigi, e."] Suaranya turut bergetar menahan isakan.


["Aku rindu kalian berdua."]


["Kalau begitu, pulanglah!"]


["Iya."]


Mama menjenguk kepala dari balik pintu kamar Mariana, ingin mengetahui apa yang terjadi. Hendra mengatakan kalau Gina telepon. Mama ingin berbual dengan Gina, bertanya kabar, tetapi diurungkan niatnya saat melihat tiga sahabat itu rancak berbual dalam telepon, melepas rindu setelah lama tak bertemu.


Banyak yang mereka ceritakan. Gina mengatakan kalau dia sekarang berada di Singapura. Mariana juga menceritakan kalau Hendra sudah menikah, dia juga akan menyusul beberapa hari lagi. Namun, dia tidak memberi tahu nama pasangannya karena Gina dulu juga merahasiakan tentang nama pacarnya. Berniat membalas dendam. Ha-ha-ha.


Mariana juga menceritakan pada Hendra dan Gina tentang perjanjian kontrak secara lisan antara dia dengan Andreas. Gina dan Hendra hanya terkekeh mendengarnya.


["Darling, siapa lelaki tu? Aku penasaran ni."]


["Pulanglah kalau kau mau tahu."] Mariana duduk bersandar pada kepala ranjang.


["Tahun depan aku pulang. Kontrak aku sudah habis. Utang juga sudah lunas, tapi tambah setahun lagi untuk simpanan. Mumpung kerja di sini gajinya lumayan besar."]


Mariana diam. Rasa bersalah menjenguk perasaannya. Teringat kembali saat sahabatnya itu dalam kesusahan, dikejar para rentenir karena utang keliling pinggang.


["Maaf!"]


["Tidak mengapa. Kau sudah terlalu banyak membantu, Darling. Tanpa kau dan Hen, mungkin sudah tidak ada Gina dalam dunia ini. Aku juga minta maaf, tidak kasih kabar, pergi pun tak bilang dulu."]


Suasana seketika hening, hanya terdengar deru napas. Dalam dunia ini banyak orang boleh dijadikan teman, tetapi hanya sedikit orang yang boleh jadi teman sejati. Teman ada bila kita senang, teman lari bila kita susah.


["Jadi, misi sekarang ni untuk dapatkan hati si Tuan Perjaka?"] Dia tergelak di seberang telepon.


"Tak semudah itu. Dia itu seperti ayam hutan, liat sekali. Susah tangkap, dagingnya juga keras, kunyah sampai rahang terlepas pun dagingnya belum hancur."


Serentak Gina dan Hendra tertawa terbahak-bahak.


"Ai, ke mana perginya semangat seorang Mariana? Kau dulu ungkapkan perasaan pada pak Hengki di depan semua murid saja bisa." Hendra bersuara.


Giliran Mariana pula yang tertawa terbahak-bahak. Kisah itu kalau diingat kembali memang lucu, malu pun ada. Namun, dia coba tebalkan muka ketika cinta monyetnya ditolak saat itu juga, di hadapan murid-murid waktu apel pagi. Maklum saja, darah muda Mariana sedang bergelora. Tidak pikir dulu sebelum bertindak.


Kejadian itu hampir saja menggagalkan rencana pernikahan Pak Hengki. Tunangannya cemburu, ingin membatalkan pertunangan tersebut. Mariana tampil lagi, menjelaskan perasaannya, tentang rasa kagum terhadap Pak Hengki berubah menjadi benih-benih cinta. Namun, bunga cintanya layu sebelum mekar, gugur tiada bermaya, pupus setelah ditolak.


["Darling, selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia hingga ke anak cucu. Doa terbaik selalu untuk kalian berdua."]


Mariana dan Hendra terdiam. Ada duka yang berselimut kabut. Kini semakin terasa jauh hubungan persahabatan mereka. Namun, Mariana masih berharap, jika perasaan ini hanyalah sementara. Apa pun yang terjadi, persahabatan mereka akan kekal untuk selamanya.

__ADS_1


["Semangat untuk menaklukkan hati si Tuan Perjaka. Kamu pasti bisa. Jangan kasih kendor!"] Dia terkekeh sebelum panggilan telepon dimatikan.


__ADS_2