
Warna jingga di ufuk barat memeluk langit 'tuk memancarkan keindahannya, tatkala senja datang berlabuh. Sang surya tak lagi tampak, hanya lambaian cahaya yang menggamit kehangatannya.
Suasana petang itu begitu indah ditemani secangkir kopi bersama pisang goreng. Sesekali terdengar gelak-tawa anak-anak Tanta Vero yang sedang bermain di halaman rumah.
Mikel gosok telinga. Sejak kepulangannya, lagu itu saja yang didengarnya. Naik bosan karena ia diputar berulang kali. Sekali dua bolehlah dikatakan menarik, tetapi kalau asyik diulang, telinga boleh pekak, kepala pun ikut pening.
Ia memandang ayah yang sedang duduk termenung memandang ke luar jendela. Lelaki itu langsung tak mengajaknya berbual. Asyik terlena oleh lagu yang didendangkan Orchid Abdulaziz, 'Penawar Rindu', dari piring hitam hadiah dari sahabat ayah beberapa tahun yang lalu, kini menjadi kegemaran baru untuk ayah. Kadang ia merasa kasihan melihat ayah yang asyik termenung itu, mungkin sedang merindukan ibu.
Langkah kaki yang datang dari arah dapur, mengalihkan perhatian Mikel. Wajah Om Dorus hadir di sana. Pria paruh baya itu tersenyum lembut memandangnya, lalu menghampiri ayah. Tak lama kemudian, kakak iparnya pula yang menyusul, menenteng sebuah dulang berisikan dua cangkir kosong, sebuah jag kopi panas, dan sepiring pisang goreng.
Mariana meletakkan dulang tersebut di atas meja, sebelah ayah. Lalu menuangkan air kopi ke dalam dua cangkir kosong tadi.
"Silakan minum, Ayah, Om!"
"Terima kasih," kata ayah, sambil tersenyum.
Mariana mendekatinya, lalu menuangkan juga air kopi ke dalam cangkirnya yang tinggal separuh.
"Terima kasih," katanya.
Mariana mengangguk. "Sama-sama."
Istri saudaranya itu melabuhkan tubuh di atas kursi di hadapannya, sambil mendekatkan ponsel ke tepi telinga. Wajah Mariana terlihat muram.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya kepada Mariana.
Gadis itu menggeleng. "Kau tahu Andreas pergi ke mana?"
Ia hanya mengedikkan bahu, lalu berpaling menatap ayah dan Om Dorus. Melalui ekor mata, ia melihat Mariana sibuk menelepon seseorang.
Kini perhatiannya kembali kepada dua pria paruh baya dihadapannya. Lagu Melayu dari piring hitam tadi sudah dimatikan. Om Dorus duduk sambil memegang gitar miliknya. Lelaki itu pasti mengambilnya di sebelah televisi karena ia menyimpan gitarnya tadi di sana.
"Om pinjam sebentar," kata Om Dorus ketika lelaki itu menoleh melihatnya.
Ia mengangguk, lalu meneguk kopi yang disuguhkan oleh Mariana tadi. Tak lama kemudian, terdengar lantunan lagu lama yang populer tahun 80an, 'Oh Marmoce'.
Kursi yang ia duduk diangkat, lalu diletakkannya di samping ayah. Ia turut bergabung bersama mereka. Nenek Esi pernah bercerita, kalau dua pria paruh baya di sampingnya itu sudah bersahabat sejak masih sekolah. Keduanya pun sama-sama menyukai musik. Mungkin itulah bakat yang diturunkan ayah kepadanya.
Petikan gitar Om Dorus membuatnya terpukau walaupun itu bukan yang pertama kali, tetapi selalu saja membuatnya terpana. Lagu Flores yang pernah didendangkan Tonny Pereira itu semakin rancak dinyanyikan.
Engko so pi jao, lepa kita sini
Tole bale, tengo lia kita di sini
Dudo peja diri sini gando ae mata.🎶
Suasana syahdu yang tadi ia rasakan, kini berakhir ceria walaupun isi lagu itu mengatakan tentang kekasih hati yang pergi meninggalkan pacarnya. Namun, seperti kata orang, musik itu penyembuhan semua luka walaupun bukan semua luka bisa disembuhkan melalui musik.
__ADS_1
***
Bumantara malam terlihat bersinar. Bintang-bintang memenuhi cakrawala. Dipandanginya langit sesaat, sebelum langkah kaki kembali berayun, mengitari kawasan perumahan dekat taman permainan. Diturutinya ke mana pun kaki melangkah, lalu berhenti di depan kedai roti seberang jalan yang masih buka.
Lama ia memandang kedai tersebut. Hatinya gundah gulana memikirkan Andreas. Lelaki itu langsung tak kelihatan batang hidungnya walaupun malam kian larut. Sewaktu di rumah Nenek Esi pun tak ada yang mampu menghilangkan kegundahannya, apalagi suasana rumah itu langsung tak bermaya, tak seperti hari biasanya.
Ayah mertua tak banyak bercakap. Mikel pun acuh tak acuh, tak seperti biasa yang membuatnya tak kering gusi bila mereka bertemu. Saat makan malam, ia bingung melihat kek rasa vanila dihidangkan bersama lauk lainnya. Kek itu habis dimakan anak-anak Tanta Vero.
Nenek Esi hanya memberitahu bahwa kek itu untuk merayakan ulang tahun Andreas. Namun, lelaki itu tak pernah merayakan ulang tahunnya karena ibu meninggalkan mereka pada hari istimewa tersebut. Mungkin itu juga sebabnya ayah tak bergembira di atas kesedihan anaknya, apalagi ia pun kehilangan teman hidup.
Mariana menolak perlahan daun pintu kedai. Seorang gadis berlesung pipi menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Kak!" Mariana hanya tersenyum membalas sapaan si gadis. Ia mengitari lemari kaca berisi berbagai jenis kue, kek, roti dan sebagainya. Menilik apa yang paling ia minat, sambil menyeluk isi saku celana. Pilihannya jatuh pada sebungkus kek cawan rasa karamel karena harganya yang sesuai isi kantong yang ia punya.
Si gadis penjaga kedai tersenyum saat Mariana membayar belanjaannya. "Tidak mau beli yang lain juga, Kak?"
"Isi kantong ini saja yang Kakak punya," katanya. Si gadis mengangguk. Paham.
Setelah membayar, Mariana keluar dari kedai. Ia termenung lagi di depan kedai tersebut, tak tahu hendak ke mana. Ingin pulang ke rumah, tetapi ia bosan ditinggal seorang. Akhirnya ia duduk di emperan kedai, sambil membuka ponsel melayari internet.
Merasa bosan duduk di emperan kedai, Mariana bangkit berdiri, mengatur langkah seribu untuk pulang ke rumah. Ia berharap, Andreas sudah pulang ketika ia sampai di rumah nanti.
💝💝💝
__ADS_1
Note:
Peribahasa Melayu 'Tak kering gusi' artinya: Tak berhenti tertawa karena suatu lelucon/lawak.