My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LI


__ADS_3

Waktu terus bergulir, tak terasa sudah dua minggu berlalu sejak hari Andreas mengumumkan pertunangan mereka.


Namun, tak ada seorang pun di antara mereka yang mengungkit atau membahas tentang pertunangan itu. Masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Andreas masih bergelut dengan proyek pembangunan rumah yatim-piatu, yang seharusnya sudah selesai.


Namun, ada kendala yang tak terduga datang menerpa. Mariana pula sibuk dengan urusan toko cendramatanya. Banyak pesanan dari pelanggan yang harus disediakan dengan segera. Waktu malam pula Mariana menghabiskan sisa harinya di kelap malam.


Walaupun begitu, bila ada waktu kala mereka bertemu di rumah, Mariana selalu mengambil peluang mengusik dan menjahili Andreas. Ada saja yang selalu mereka pertengkarkan.


...***...


Dia menggeliat. Bangun lalu mengingsut turun dari ranjang. Rambut panjang kriting dilepaskan dibiarkannya terurai menyentuh pinggang.


Langkah kaki beranjak menuju pintu kamar. Pintu terkuak. Dia berdiri merenggangkan badan, melemaskan otot-otot yang tegang sambil menguap lebar-lebar. Kebiasaan buruk setiap kali dia bangun tidur. Menguap lebar-lebar di balik pintu.


Andreas yang juga baru keluar dari kamar, hanya berdiri memandang Mariana. Langsung tak merasa heran, melihat tabiat buruk gadis itu.


"Selamat pagi, Tuan Pengecut," sapa Mariana.


Andreas merengus. Dia tidak suka dipanggil pengecut. "Selamat siang," sindirnya.


Mariana terkekeh. Dia melirik sekilas pada jam yang tergantung di dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.10 WITA.


"Selamat pagi menjelang siang." Mariana mengukir senyum. Mereka kemudian sama-sama mengatur langkah menuju dapur.


Langkah Andreas mendadak berhenti, membuat Mariana yang berjalan di belakang menabrak punggungnya.


"Kau tak kerja hari ni?" tanya Andreas, setelah membalikan badannya menghadap Mariana. Dia merasa heran, karena sudah jam sebelas lebih gadis itu baru bangun tidur.


Mariana biasanya bangun tidur jam 8.30 - 9.00, karena dia perlu membuka tokonya.


"Aku libur beberapa hari. Kenapa?"


"Bagus. Siap sedia sekarang."


"Sedia untuk apa? Mau pergi mana?"


"Ikut aku ke Maumere. Sekarang belum terlambat untuk berkemas."


"Untuk apa aku ikut kamu ke Maumere? Mau ketemu calon mertua?" Dia tersengih, tayang gigi.


"Ayah aku mau ketemu kau. Kita juga belum bahas kelanjutan perjodohan ini."


"Oke. Tunggu aku sepuluh menit." Tak perlu diperintah dua kali, Mariana berlalu meninggalkan Andreas menuju ke kamar mandi.


Andreas kembali ke kamarnya untuk berkemas.


...***...

__ADS_1


Terminal bus Oka yang terletak di desa Lamawalang, Larantuka sangat ramai hari itu. Banyak penumpang yang sedang menunggu bus yang akan membawa mereka ke destinasi yang dituju.


Hari itu juga bertepatan dengan hari pasar yang terletak bersebelahan dengan terminal bus, yang dibukakan seminggu sekali yaitu pada hari Rabu. Sehingga tidak heran kalau hari Rabu pengunjung lebih ramai dari biasanya.


"Tunggu di sini sebentar," kata Mariana sambil menyerahkan koper milikinya pada Andreas.


"Mau ke mana kau?" Andreas menarik koper Mariana yang beratnya hampir mencapai 100 kg.


"Ini seperti orang mau pindah rumah," gerutu Andreas.


Mariana hanya terkekeh. "Kau ni lelaki, tarik koper pun lemah."


Andreas tak menjawab. Dia mengangkat koper milikinya dan Mariana, menyerahkannya pada konjak (konduktor). Konjak mengangkat koper mereka berdua, diletakkannya di atas bagasi (bumbung bus).


"Jangan lama-lama. Bus mau gerak ni," pesan Andreas.


"Iya," jawab Mariana. Ia berlari anak menuju ke pasar yang bersebelahan dengan terminal. Sedangkan Andreas menaiki bus yang akan membawa mereka menuju destinasi nanti.


Liar anak matanya mencari barang yang dibeli. Tak perlu butuh waktu lama. Kurang lebih dalam sepuluh menit, tangannya sudah pun penuh dengan beberapa kantong plastik yang berisikan buah tangan untuk keluarga Andreas. Ada pisang mas, jagung titi, kue-kue dan beberapa jenis makanan lain sebagai cemilan untuk dimakan dalam bus nanti.


Mariana kembali ke bus yang bertuliskan nama Ago go. Bus itu sudah beroperasi sejak tahun 90an, yang sudah dimodifikasi menjadi lebih cantik. Mungkin bus itu lebih tua usianya berbanding usia Mariana.


Gadis itu menapaki kaki menaiki tangga bus. Sampai di dalam bus, dia melihat Andreas duduk di bangku paling belakang berdekatan dengan jendela sebelah kiri sambil bermain ponsel.


Banyak mata yang memandang Mariana. Gadis itu hanya membalas dengan senyuman. Dia kemudian mengatur langkah menuju tempat duduk Andreas.


"Kita tukar tempat," katanya pada Andreas, setelah sampai di hadapan lelaki itu.


"Aku mau duduk dekat jendela."


"Tidak mau."


"Ayolah, Sayang." Mariana membuat mimik muka kasihan.


"Tidak! Duduk di sini." Dia menunjuk tempat duduk di sebelahnya. "Kalau tidak mau, cari tempat duduk lain."


Mariana merengus. Dia melirik sejenak tempat duduk dekat jendela sebelah kanan. Ingin meminta duduk di sana, tetapi ia mengurungkan niatnya setelah melihat seorang wanita duduk memangku anaknya yang masih berusia kurang lebih empat tahun. Sebelahnya duduk anaknya yang masih berusia tujuh tahun.


Mariana menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sebelah Andreas. Dia meletakkan barang yang tadi dibelinya tepat di bawah kaki lelaki itu. Andreas hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali menatap ponselnya.


"Banyak kau beli." Gadis itu membisu. Mariana menyeluk saku tasnya, lalu mengeluarkan sebiji pil obat. Menelannya bersama air Aqua yang dibelinya tadi.


"Apa tu?" tanya Andreas.


"Antimo (Antihistamin (cyclizine, dimenhydrinate, diphenhydramine, dan meclizine))," jawab Mariana singkat.


"Kau mabuk darat?"

__ADS_1


"Hmm."


Tak lama berselang, muncul seorang lelaki, bertubuh kurus tinggi, hitam manis dengan lesung pipi sebelah kiri saat dia tersenyum, berdiri di hadapan Mariana. Usianya tidak jauh beda dengan Andreas. Mungkin selisih beberapa tahun.


"Permisi, Cantik." Mariana menggeser tubuhnya lebih rapat pada Andreas, memberikan ruang untuk lelaki itu duduk.


Kendaraan roda empat itu pun tak lama kemudian mulai terdengar deru mesin, petanda bahwa mereka akan segera bertolak meninggalkan kota Larantuka.


"Siapa nama kamu?" tanya lelaki itu setelah duduk. Ia mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Mani." Mereka berjabat tangan. Andreas mengulum senyum mendengar nama baru Mariana.


"Arnol." Dia tersenyum senang. Menggenggam erat tangan Mariana sambil mengedipkan mata.


Mariana membalas senyumannya. "Perkenalkan ini suami saya, Herman Fernandez."


Andreas tersedak ludah sendiri saat diperkenalkan sebagai suami dan nama barunya. Lelaki itu sampai terbatuk-batuk.


Mariana menyodorkan air Aqua yang dia minum tadi. Andreas menyambut, terus meneguknya perlahan.


Arnol mengulurkan tangan bersalaman dengan Andreas.


"Nama kamu tidak asing. Herman Fernandez, salah satu pahlawan Nasional dari NTT, yang patungnya menghiasi pusat kota Larantuka."


"Wah, Kak Arnol tahu tentang sejarah ya?"


"Kita orang NTT harus tahu tentang pahlawan kita, terutama orang Flores." Mariana mengacungkan dua jempolnya.


"Betul sekali, tapi dia Herman Fernandez pahlawan untuk saya."


Terdengar lagu lawas yang diputarkan oleh sang sopir 'Demi Kau dan Si Buah Hati, Pance Pondang' mengalun merdu menemani perjalanan mereka.


Arnol ternyata seorang yang periang, pandai membuat lawak, sehingga Mariana tertawa terbahak-bahak. Sang ibu bersama anaknya yang duduk di sebelah mereka juga turut tertawa. Sungguh menghiburkan.


Arnol juga membagi makanan ringan berupa kacang tanah goreng. Mereka makan sambil bercerita. Andreas tidak memakannya, dia menolak walaupun didesak Mariana.


Kata Mariana, "Rezeki jangan ditolak."


Namun Andreas menolak. "Kau saja yang makan."


💝💝💝


maaf teman2 semua. hari ni baru bisa up..


beberapa hari ni, Ana agak sibuk dengan urusan dunia nyata, ditambah lagi jadi EMAK di dunia literasi. sbb tu Ana agak sibuk. ada beberapa masalah yang menguras emosi dan menyita banyak waktu Ana.. jd Ana tidak ada mood buat tulis.


tapi Ana janji untuk meneruskan kisah Mariana Andreas, walaupun perlu merangkak seperti kura-kura. biarpun perlahan tp Ana akan lari sampai ke garis finis.

__ADS_1


terima kasih karena sudah menemani Mariana Andreas, dan selalu menunggu Ana up.


dimana pun kalian berada, doa terbaik selalu untuk kalian 🤗🤗❤️


__ADS_2