My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LV


__ADS_3

"Mariana."


"Iya."


"Tak sangka kita ketemu lagi. Hebatnya itu, kau yang menjadi kakak ipar aku. He-he-he!"


"Ha-ha-ha, benar juga ya. Ternyata Flores ini terlalu kecil."


Andreas hanya mendengar perbualan mereka, tak berniat untuk menyampuk. Kadang terdengar gelak-tawa akibat dirinya yang dijadikan bahan gurauan.


"Mariana, bagaimana cara kau jinakkan si penakut ni?"


"Jinakkan?"


"Ha-a. Calon suami kau ni takut dengan perempuan."


"Ah, masa!"


"Iya, dia bukan saja penakut, bersentuhan dengan perempuan saja dia tidak pernah. Kecuali dengan nenek dan Tanta Vero."


"Berarti pernah dong bersentuhan dengan perempuan, tapi bukan sembarang orang. Buktinya nenek dan tantamu, aku juga termasuk. Itu artinya dia masih normal. Iya kan, Sayang?" Andreas yang pura-pura tidur, menjadi tak tentu arah saat dirinya dipanggil 'sayang'. Dia terbatuk-batuk hingga matanya berair.


Mariana dan Mikel tak dapat menahan tawa. Gadis itu sampai kelam-kabut mencari air Aqua, tetapi Mikel tidak ada persediaan air di dalam mobil. Sambil menepuk punggung Andreas, ia meminta Mikel menepikan mobil di depan warung dekat jalan raya. Mikel menurut. Mariana turun dari mobil, lalu membeli sebotol air Aqua di warung tersebut.


...***...


Toyota hitam yang mereka tumpangi memasuki dan berhenti di sebuah rumah besar dua tingkat. Terlihat dua orang pria paruh baya bersama dua wanita, sedang duduk bercengkrama di bawah pohon mangga, sambil menikmati hidangan petang. Hanya seorang diantara mereka yang Mariana kenal.


Om Alo terus berdiri, saat melihat Mariana keluar dari perut mobil. Dia berjalan cepat sambil merentangkan tangan.


"Selamat datang, anakku."


Andreas tersenyum. Dia turut merentangkan tangan siap menyambut pelukan sang ayah. Saat dia hendak memeluk ayah, lelaki paruh baya itu mengabaikan dia, terus berlalu ke arah Mariana yang masih berdiri di samping mobil.

__ADS_1


"Hmm." Andreas merengus. Kecewa.


"Selamat datang anakku," ulangnya lagi, lalu memeluk Mariana.


Gadis itu tersenyum bahagia. Hatinya berlonjak girang, terharu mendapat sambutan sedemikian rupa. Kerinduannya terhadap almarhum bapak terasa terobati sudah, melalui sosok seseorang yang memeluknya sekarang. Mariana menangis.


Kepergian sang bapak membuatnya mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergiannya pun mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan.


'Bapa (ayah), terima kasih sudah mengajarkanku bagaimana menjadi manusia yang baik dan bagaimana cara menjalani hidup yang sebenarnya. Aku mencintaimu, aku merindukanmu, bapa.


Entah kapan kita diberi peluang untuk bertemu lagi, mungkinkah di sana kita bisa bertemu lagi?' batin Mariana.


Melihat dirinya diabaikan oleh sang ayah, Andreas berlalu bersalaman dengan nenek, Tanta Vero dan Om Dorus. Sedangkan Mikel mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil, setelah itu bergabung bersama yang lain.


"Mari, Nak! Kenalan dengan nenek dan yang lainnya dulu."


Mereka bersalaman dan berkenalan. Om Dorus, Tanta Vero dan Nenek Esi menyambutnya dengan penuh sukacita. Anak-anak Tanta Vero dan Om Dorus juga gembira berkenalan dengan Mariana. Banyak cerita yang mereka kongsi bersama.


Suasana petang itu penuh keriangan dengan canda dan tawa, sehingga Mariana tidak merasa asing berada di tengah-tengah mereka.


...***...


Mariana mendongak menatap dada langit. "Langit malam ini terlihat cantik, 'kan?" tanyanya setelah Andreas duduk di kursi sebelahnya.


Andreas turut mendongak. "Apanya yang cantik? Biasa saja aku lihat."


"Cantik, karena aku tidak keseorangan melihat keindahan bintang malam ini. Kau tahu? Bintang akan terlihat lebih indah, jika kita berbagi keindahannya dengan seseorang."


Mariana merapatkan kursi plastik yang didudukinya dengan kursi Andreas. Dia menatap sayu wajah Andreas, sambil menopang dagu pada lengan kursi. Mereka berpandangan lama. Mata bulat dan besar milik Mariana terlihat bercahaya akibat pantulan lampu neon dari teras rumah.


Andreas terpesona. Jantungnya berdegup laju. Namun, ia menjadi salah tingkah saat gadis itu memoncongkan bibir sambil memejamkan mata, menunggu sesuatu darinya.


Cepat dia menyentil bibir Mariana, membuat gadis itu mengetap bibir karena sakit. Bibir atas dan bawah sedikit membengkak seperti digigit semut. Mariana kembali menegakkan punggungnya, duduk seperti semula menghadap ke depan menatap rumah-rumah, lampu-lampu dan kendaraan bermotor yang lalu-lalang di seberang jalan sana.

__ADS_1


Tanpa mereka sadar, ada empat pasang mata sedang mengintai mereka dari balik pintu.


Sambil berbisik, Nenek Esi bertanya, "Apa yang mereka buat?"


"Si gadis minta dicium, tapi sang lelaki menolak," jawab Tanta Vero.


"Si gadisnya cukup agresif." Nenek Esi memberi komentar. "Dia berbeda sekali dengan Rena. He-he-he," lanjutnya.


"Iya, tapi saya lebih suka dia, Mama. Kalian lihat Ande, dia tidak canggung dekat dengan Ana. Sepertinya fobia dia bisa sembuh." Kali ini Om Dorus yang berkomentar.


Yang lain mengangguk setuju. Om Alo merasa bangga dalam hati. Dia juga merasa Mariana adalah pilihan yang tepat dan penawar bagi Andreas. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mengintai.


Andreas mengulum senyum secara sembunyi-sembunyi, saat melihat bibir Mariana yang membengkak akibat perbuatannya.


"Sakit?" tanyanya.


"Tak ... enak!" Jawaban Mariana terdengar ketus.


"Maaf." Namun senyuman tak lekang dari bibirnya. "Kita perlu bincang tentang perjodohan ini," lanjutnya.


"Mau bincang apa?" tanya Mariana, "bukankah sudah jelas? Tinggal menunggu keluarga kamu datang ke rumahku meminang secara resmi. He-he-he." Dia terkekeh di akhir kalimatnya.


Andreas merasa aneh mendengar kekehan Mariana. "Kenapa?" tanyanya. Mariana hanya menggelengkan kepala.


"Sebenarnya, aku tidak menginginkan pernikahan ni apalagi dijodohkan, tapi aku tak sampai hati melihat kesedihan di mata ayah. Apakah kau punya cara untuk membatalkannya?" Mariana tak menjawab. Suasana hening seketika.


"Lagipun aku terima perjodohan ini, karena ayah mau memindahkan nama kepemilikan pada rumah yang aku tempati sekarang." Dia mendongak menatap bintang-bintang yang bertaburan di dada langit. Wajah ibu terlukis di sana.


Mariana masih membisu. Wajahnya terlihat muram. Perasaannya bercampur aduk. Kesunyian datang menyapa, saat hati dilanda sepi. Dalam gelapnya malam dia hanya mampu bersyukur daripada mengeluh akan sesuatu yang belum pasti dia dapatkan.


Tak mendengar sembarang jawaban, Andreas menoleh mendapati Mariana sedang termenung. Entah apa yang gadis itu pikirkan.


Dia kembali mendongak menatap dada langit. Wajah ibu dan Rena silih berganti menghias tubir mata.

__ADS_1


Angin berpuput lembut membawa rindu yang datang bertamu. Namun, kesangsian akan cinta di hati kian meraja dalam diri. Apakah aku masih bertakhta di hatinya? Berapa lama lagikah aku harus menunggu? Ke manakah aku harus mencari?


__ADS_2