My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLVII


__ADS_3

"Ana!" Tangan Mariana menggantung di udara.


Dia menoleh ke arah datangnya suara. Di sana berdiri Daniel yang tercengang melihat keganasannya. Ada juga Ibu Dita dan Om Lukas, ayah Daniel.


"Pelacur! Kau mau bunuh menantu saya?" Ibu Dita terlihat murka. Dia berlari menerkam Mariana. Namun, gadis itu mencengkeram tangannya yang hendak menampar pipi Mariana.


Dia menolak tubuh Novi ke arah Ibu Dita, membuat wanita paruh baya itu terpaksa menangkap tubuh menantunya.


Langkah kakinya mendekati Om Lukas dan Daniel. "Maaf, saya tampar menantu Om." Rasa bersalah menjenguk jiwa, saat menatap dalam anak mata Om Lukas. Hanya lelaki itu yang selalu bersikap baik padanya.


"Dia datang membuat keributan di sini lalu memukul Tari." Dia mengulurkan kedua tangannya ke arah Om Lukas, seperti seorang penjahat yang menyerahkan diri pada pihak berwajib.


"Kami tak memiliki kuasa untuk melakukan pembelaan. Terserah Om, mau buat apa pada saya."


Semua orang yang berada di situ tertegun melihat tindakannya. Tari histeris melihat kakaknya menyerahkan diri.


"Kenapa kami yang harus mengalah? Orang yang harus dipersalahkan itu, singa betina tu!" Tari menunjuk Novi yang berdiri di samping Ibu Dita.


"Dia datang maki-maki kakak saya. Apa salahnya?" Suaranya semakin serak, dadanya pun terasa sesak.


"Kakak saya salah, karena memiliki perasaan pada Kak Dan, tapi hubungan mereka sudah berakhir dua tahun lalu. Kenapa kalian tidak bisa lepaskan dia? Kenapaa?" Tari memeluk Mariana, menangis dalam pelukan kakaknya. Pilu hatinya melihat kakak kesayangan itu diperlakukan dengan tidak adil.


"Dia memang bersalah. Pelakor!" Novi berteriak dari sebelah ibu Dita. "Perebut suami orang. Pelacu ...!"


"Novi! Diam kau!" bentak Daniel tiba-tiba. Matanya melotot marah menatap istrinya.


"Kenapa? Kau marah aku panggil selingkuhan kau pelacur?" Novi berdiri di depan Daniel sambil bercekak pinggang menantang suaminya.


Kehadiran ayah dan ibu mertuanya seolah memberi suntikan semangat padanya. Dia mencoba untuk melemparkan kesalahan pada Daniel dan Mariana.

__ADS_1


Om Lukas hanya melihat pertengkaran mereka. Wajahnya merah padam menahan amarah dan malu. Dua berpaling menatap Mariana.


"Om tahu, Novi yang bersalah. Om takkan buat apa pun pada kamu." Dia mengelus kepala Mariana. "Om tahu, kamu gadis baik." Dia tersenyum melihat Mariana. Gadis itu kemudian menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca penuh haru.


"Jangan sembarang bicara! Siapa yang selingkuh?"


"Kau mau menyangkal? Aku punya bukti, kau tak bisa menyangkal lagi." Keadaan kembali riuh. Para tetangga semakin banyak berdatangan menonton pertunjukan langsung.


"Dan, kau masih berhubungan dengan perempuan itu?" tanya Ibu Dita.


"Tidak."


"Iya, Ibu," jawab Novi dan Daniel bersamaan.


"Jangan kau sembarangan, ya, Novi!"


"Aku punya bukti."


"Bukti perselingkuhan kau."


"Kau ...." Daniel semakin meradang dituduh oleh istrinya. Dia mengangkat tangan hendak menampar wajah istrinya yang sudah membengkak. Namun, suara keras ayah menghentikannya.


"Dan!"


Fendi yang baru pulang dari sekolah terkejut melihat halaman rumah mereka dipadati warga sekitar tempat tinggal mereka.


Ingin bertanya pada warga di situ, tetapi matanya menangkap sosok tubuh istrinya yang berada dalam pelukan Mariana.


Dia berjalan hendak mendekati mereka, tetapi langkahnya dihadang oleh Andreas dan Natan. Andreas menyerahkan Noel padanya, tanpa kata lelaki itu meninggalkan mereka.

__ADS_1


Andreas mengatur langkah mendekati Mariana, Tari dan Om Lukas.


"Pak, maaf! Sebaiknya kita bicara di dalam saja. Kegaduhan hari ini sudah mengundang perhatian masyarakat," kata Andreas setelah berdiri di samping Mariana.


"Iya, benar."


Andreas berpaling melihat Novi, Daniel dan Ibu Dita.


"Saudari Novi!" Novi yang mendengar namanya dipanggil, terus menoleh.


"Saya mau mengatakan pada Saudari, bahwa Mariana bukan pelacur. Dia seorang penyanyi, dan dia juga bukan perebut suami orang," lanjut Andreas.


"Kau siapa? Kau tidak tahu apa pun tentang dia. Jangan kau ikut campur! Kau tu hanya orang luar yang mengontrak di rumah pelacur!" marah Novi.


"Saya tahu semua tentang Mariana. Wajar saya ikut campur karena saya tunangan Mariana."


Semua yang mendengar tertegun. Merasa tak percaya akan pengakuan Andreas, termasuk Mariana, Tari dan Fendi.


Namun, wajah Mariana berbinar ceria. Dia seolah melihat malaikat Gabriel pembawa kabar gembira.


"Ha-ha-ha! Kau pikir kami percaya?" Novi tertawa sumbang. Rasa bencinya pada Mariana semakin menggebu dalam diri, merasuk hingga ke dalam jiwa.


Andreas menyeluk saku celana panjangnya. Dia mengeluarkan sebentuk cincin putih polos lalu memperlihatkan pada semua orang.


Mariana, Fendi dan Tari semakin terkesima. Andreas menoleh menatap Mariana, lalu menganggukkan kepalanya. Mariana paham akan isyarat tersebut. Dia kemudian melepaskan kalung yang tergantung pada lehernya.


Tangannya sedikit gemetar saat melepas cincin tersebut dari tempatnya. Dia tersenyum memandang Andreas, lalu memperlihatkan cincin pertunangan mereka.


Debaran dadanya bersenandung riang, menyanyikan lagu rindu yang lama terpendam.

__ADS_1


"Kami sudah bertunang sejak dua tahun lalu," kata Andreas.


Lutut Daniel terasa lemas, hampir saja dia tumbang ke belakang saat mendengar akan fakta yang dikatakan Andreas.


__ADS_2