My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XCV


__ADS_3

Langkah kakinya terus berayun. Sesekali terdengar senandung kecil dari bibirnya yang melantunkan lagu 'Jatuh Cinta', dari band 'iamNETTA', sambil memikirkan Andreas. Tiba-tiba dirasakan detak jantungnya berdegup laju. Tak terasa mutiara jernih bertakung di pelupuk mata, tatkala ia melafazkan syair dari lagu tersebut.


Sehingga hujung duniaku


Ingin kau tahu


Kini aku jatuh cinta pada diri kamu


Segenap hujung duniaku


Ingin kau tahu


Kini aku jatuh cinta semua tentang kamu


Sehingga hujung duniaku


Jatuh cinta


Ia menepuk dada, mengurut-urut untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup laju. 'Ai, Tuan Perjaka. Jangan pernah berpikir untuk lepas dari aku!'


Saat kakinya sampai ke taman permainan yang ia lewati tadi, matanya menangkap sebuah objek yang sangat ia kenal. Ia berlari anak mendekati benda tersebut.


"Hei, Juragan! Mana bos kau?" Ia menepuk-nepuk tempat duduk Kawasaki Ninja HR2 milik Andreas. Lelaki itu pernah mengatakan padanya kalau Kawasaki itu ia namai 'Juragan'. Senyuman terus terukir di bibir Mariana. Perasaan gembira tak dapat ia sembunyikan.


"Mana bos kau, Juragan?" Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan lelaki itu. Sampailah ia menemukan Andreas duduk bersandar pada bangku semen di bawah pohon mangga, dekat tiang listrik yang terpadam lampunya.


"Patut pun tak kelihatan. Rupanya dia sembunyi di tempat gelap." Perlahan-lahan, ia mendekati Andreas dari belakang. Diusahakannya agar langkah kakinya tak mengeluarkan bunyi.


"Ha!"


"Marebolala!" latah Andreas ketika disergap Mariana dari belakang. Lelaki itu terkejut sampai pantatnya terangkat.


Mariana terbahak-bahak. Namun, takut suaranya didengar tetangga, ia berusaha menahan gelaknya. "Kau buat apa di sini?" tanyanya setelah tawanya mereda. Ia melabuhkan tubuh di samping Andreas.


"Duduk, to. Kau tidak lihatkah?" Nada suara Andreas terdengar ketus.


"Lihat, to. Mata aku belum rabunlah," jawab Mariana.


"Kalau sudah tahu, buat apa tanya lagi?"


"Maksud aku ... kenapa kau duduk di sini? Gelap lagi. Kenapa tidak pulang ke rumah? Kau buat aku khawatir, tahu tak?" Andreas diam. Rasa bersalah menjenguk jiwanya.


Tak ada yang bersuara, hanya keheningan malam yang menemani mereka. Andreas menatap ke depan, termenung dalam kehampaan yang menyesakan dada.


Mariana mengubah posisi duduknya, menghadap ke arah Andreas. Lelaki itu kemudian berpaling menatapnya. Mariana tersenyum, lalu memeluk Andreas. Sontak Andreas terkejut, ingin meleraikan pelukan Mariana. Namun, istrinya itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Diamlah! Sebentar saja," bisik Mariana. Perlahan Andreas mencoba meredakan perasaannya yang kian bergelora walaupun ia tak membalas pelukan Mariana.


"Selamat ulang tahun, Tuan Perjakaku! Terima kasih sudah lahir ke dunia. Semoga diberikan keberkatan dan Rahmat Tuhan selalu menyertai dalam setiap langkah hidupmu!"

__ADS_1


Andreas mengulum senyum. Detak jantungnya kian melaju, menghangat bersama dalam setiap untaian kata Mariana. Diam-diam jari telunjuknya mengesat mutiara yang membasahi pipi.


"Kau gembirakah aku lahir?" tanyanya sambil meleraikan pelukan Mariana.


"Iyalah. Kalau tidak, siapa yang akan jadi suami aku? Tak maulah asyik pegang lencena 'Wanita Penggoda Suami Orang'," jawab Mariana diselingi tawa.


Andreas turut tertawa, teringat wajah Ibu Novi, saingan Mariana dan Dokter Daniel, mantan kekasih istrinya itu.


"Kenapa tidak bilang kalau hari ini ultah kau? Kalau aku tahu, 'kan aku buat keik. Keik buatan aku lumayan enak, tahu?"


"Iyakah?"


"Iya, to? Kau belum pernah coba jadi tidak tahu."


"Ini ibarat peribahasa Melayu 'masuk bakul angkat sendiri'. Ha-ha-ha!"


"Ha-ha-ha!" Mariana memukul lengan Andreas. "Kira-kira begitulah. Ha-ha-ha!" Andreas tersenyum.


"Tidak usah susah-susah. Lagipun sudah dua puluh tahun aku tidak pernah lagi rayakan ultah." Ada kesedihan dalam nada bicaranya, tetapi, sedaya upaya coba disembunyikannya.


"Tidak apa. Aku masih bisa buat keik ultah sekarang. Tapi dengan syarat, kau tutup mata. Tidak boleh lihat." Mariana memaksa Andreas membuka jaket yang dipakainya.


"Mana mungkin!"


"Aku punya magic. Jadi tutup matalah!"


"Oke!" Andreas menurut.


"Cepat sekali!" Andreas membuka jaket yang menutupi wajahnya. "Mana?" Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan keik buatan yang dikatakan gadis itu.


Mariana menghidupkan lampu senter dari ponselnya, lalu menguluh ke tanah.


Mulut Andreas membulat. "Oo, jadi ini, to keik lima detik buatan si Kribo. Ha-ha-ha!" Keik lima tingkat terlukis di atas tanah.


Mariana tayang gigi. "Suka tidak?"


"Suka."


"Sebelum tiup lilin, doa dulu. Sebut apa hajat kau."


"Bagaimana caranya tiup lilin?"


"Hapus saja lilinnya, to?"


Andreas memejamkan mata. Rasa syukur ia panjatkan kehadirat Tuhan karena pada tahun ini, ia tidak sendiri. Ada seorang teman yang menemaninya merayakan ulang tahunnya.


Andreas berdiri menghapus lilin yang dilukis Mariana menggunakan ujung sepatunya, lalu kembali melabuhkan tubuh di atas bangku semen. Mariana turut melabuhkan tubuh di samping Andreas. Gadis itu menyeluk saku bajunya, mengeluarkan isi, lalu menyerahkan kepada Andreas.


"Ambillah, aku beli ini tadi di kedai!"

__ADS_1


Andreas menerima kek cawan yang disodorkan Mariana kepadanya. "Terima kasih."


Mariana membalas dengan anggukan kepala. Seketika tak ada yang berbicara. Keheningan mengisi kebisuan di antara mereka. Namun, tak lama karena Andreas kembali bersuara.


"Kau pasti sudah dengar orang di rumah cerita."


Mariana mengangguk. "Iya, tapi mereka tidak tahu ke mana kau menghilangkan diri dan apa sebabnya."


Andreas menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Waktu itu aku berumur tujuh tahun." Ia mulai bercerita. Entah mengapa, ringan saja mulutnya bila berdepan dengan Mariana. Mungkin sebab perangai gadis itu yang senantiasa ceria, sedikit sebanyak memengaruhinya. Namun, kata tetangga di kampung Mariana, kalau gadis itu selalu tertutup, pemalu, dan tak banyak bercakap. Sepertinya mereka tidak terlalu mengenali Mariana atau mungkin Mariana bersikap blak-blakan hanya kepada orang terdekat saja.


Mariana masih diam menanti butir bicara Andreas selanjutnya.


"Hari itu, ibu ajak aku jalan-jalan. Kami pakai sepeda motor ibu. Kau lihat sepeda motor di belakang dapur itu?" Mariana mengangguk.


"Itu motor ibu." Andreas menjeda sebentar ceritanya. Ia kembali menarik napas. "Kami keliling Maumere dari pagi sampai malam, makan di pantai karena kami bawa bekal. Seperti piknik."


"Jadi kau seharian ini keliling kota Maumere?"


"Hmm!"


"Kenapa tidak ajak aku. Kan, bagus kalau ada teman. Jadi kau tidak kesepian. He-he-he!"


"Alah, bilang saja kau mau jalan-jalan." Andreas menggigit kek cawan sambil tertawa.


"Mikel tidak ikut?" tanya Mariana mulai kembali ke topik semula.


Andreas menggeleng. "Kata ibu, itu untuk hadiah ultah aku. Jadi Mikel tidak diajak."


"Kau pasti suka ibu ajak jalan-jalan." Andreas tersenyum. Memang tak ia nafikan kalau ia memang bahagia kala itu.


"Setelah kami pulang, ibu suruh aku duduk di sini, tunggu dia." Andreas memalingkan wajah ke kiri, coba menahan sebak yang mulai menghimpit perasaannya. Digigitnya perlahan kek cawan pemberian Mariana.


"Ibu ke mana?"


"Dia pergi sebentar, katanya ada urusan. Tapi ... dia tak pernah lagi kembali ke sini."


Suasana hening seketika. "Kau benci ibu?"


"Hmm! Sangat!" Mariana kembali memeluk Andreas. Lelaki itu tak lagi menolak. Ia seperti merasakan kehangatan yang selama ini mengisi kekosongan dalam jiwanya.


"Ibu pasti punya alasan," kata Mariana.


"Apa alasannya sampai meninggalkan anaknya?"


"Alasan yang kau tidak tahu. Dalam dunia ini, tak ada seorang pun ibu yang sanggup meninggalkan anaknya." Mariana melerai pelukannya.


"Siapa bilang? Terlalu banyak ibu dalam dunia ini yang lebih teruk daripada binatang. Banyak yang sanggup membunuh anaknya dalam kandungan sekalipun."


Mariana diam. Ia tak punya kemampuan untuk mengubah pandangan Andreas. Memang ia akui apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya. Namun, bukan semua. Ada ramai ibu yang hebat, bahkan pelacur pun boleh jadi ibu yang baik. Kenyataan yang ia lihat dari almarhum Tanta Serli, ibu kepada sahabatnya Gina.

__ADS_1


Mariana kembali menatap Andreas. "Apa yang aku tahu, kebencian kau itu, bukti nyata kerinduan yang terpendam. Aku yakin, ibu juga merindukan kau."


Andreas tak mengatakan apa pun lagi, hanya termenung menatap ke kegelapan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang mengintai di balik pohon asam, tak jauh dari tempat mereka duduk.


__ADS_2