
Mariana menggeliat. Tubuhnya terasa sangat lelah. Bangun duduk bersimpuh, sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa lenguh. Diliriknya sekilas ke samping kiri, Andreas masih terlelap. Ingatannya kembali pada acara pernikahannya dua hari yang lalu.
Saat pesta sedang berlangsung, ada beberapa pemuda yang mabuk. Saling bersinggungan, akhirnya terjadi perkelahian. Untung Abang Budi dan anak buahnya cepat bertindak meleraikan mereka. Maklum saja, anak muda. Darah masih panas. Suka mempertahankan ego, demi maruah diri. Anak lelaki, sudah biasa.
Walaupun sempat terjadi kekacauan, pesta tetap berlanjut. Anak muda yang lain tetap berjoget, goyang pinggul. Cacha, dolo-dolo, tak kira apa jenis lagu, asalkan musik diputar, lantai dansa takkan kosong. Apalagi saat anak-anak gadis mengetahui ada mantan gitaris band Kaula, makin meriah rumah pesta Mariana. Mereka bahkan meminta tanda tangan Mikel. Lalu apa yang dilakukan pasangan pengantin?
Jangan ditanya. Mariana dan Andreas takkan ketinggalan. Mariana paling heboh. Beberapa kali juga Mariana berjoget dengan Mikel, adik iparnya. Baginya, ini yang terakhir ia melepaskan masa bujangnya, walaupun ia sudah bergelar isteri sejak tadi siang. Sedangkan Andreas, lelaki itu lebih banyak duduk, bersembang dengan pemuda-pemuda yang duduk dekat DJ.
Pesta berlangsung sampai cungkil matahari. Sepanjang malam pasangan pengantin langsung tak tidur. Jangan tanya tentang malam pengantin. Itu tidak pernah berlaku sepanjang sejarah pesta pernikahan di Flores Timur.
Mariana kembali berbaring di samping Andreas. Ingatannya kembali melayang saat mama memanggilnya untuk bersiap-siap berbulan madu. Sepanjang malam tak tidur, langsung disuruh mandi. Mariana tak menurut. Ia hanya sekadar membasuh muka, kaki, dan tangan. Tidak lupa menggosok gigi. Sedikit parfum disemburkan ke seluruh badan hanya untuk menghilangkan bau keringat. Begitu pun Andreas. Ia juga melakukan perkara yang sama.
Mariana sempat menolak untuk berbulan madu ke Bali. Baginya, tempat wisata di Flores Timur juga banyak yang belum ia kunjungi. Kalau setakat berbulan madu, Pulau Konga tak kalah cantik. Namun, ayah mertuanya berkeras berbulan madu di Bali. Mariana pun mengalah. Tak perlu membantah, apalagi ayah mertua yang mengeluarkan biaya. Daripada menolak, lebih baik terima saja. Toh, dia tak rugi sesen pun.
Sebelum mereka berangkat, Tari menyerahkan koper miliknya. Entah sejak kapan adiknya yang seorang itu menyiapkan semua keperluannya. Beberapa orang kampung yang mengetahui mereka akan berbulan madu, berbisik-bisik di belakang.
"Untung sekali, ya, Ana nikah dengan anak orang berada. Mungkin dia orang pertama di kampung kita yang pergi bulan madu." Yang lain hanya tertawa menanggapi.
"Itu sudah rezeki dia," kata yang lain.
"Harap anak perempuan aku dapat suami seperti pak Ande." Begitulah orang kampung.
Saat Om Alo ingin membeli tiket pesawat, Mariana menolak. Ia beralasan, menggunakan kapal laut lebih menyenangkan. Berlayar sambil mencuci mata menikmati keindahan laut. Ide itu diterima oleh ayah mertua. Andreas juga setuju. Pelayaran dari pelabuhan Larantuka ke pelabuhan Bolok Kupang selama lima belas jam menggunakan kapal Ferry, lalu berganti dengan kapal Awu, berlayar dari Kupang hingga ke Bali menempuh perjalanan selama dua hari, sungguh melelahkan tubuh.
Makan tak kenyang kerena makanan dalam kapal selalu disediakan sedikit saja. Tidur tak lena karena takut ada yang mengambil kesempatan saat mereka terlelap. Mandi pun tak basa, ala-ala kerbau sebab yang lain sedang menunggu giliran. Tidur berhimpitan dengan penumpang lain. Mariana merasa kasihan pada suaminya itu. Ia memang sudah biasa begadang, tetapi, Andreas tidak. Namun, lelaki itu langsung tak mengeluh.
Saat mereka berdiri di dek kapal, lelaki itu begitu menikmati pelayaran mereka. Melihat betapa indahnya panorama laut. Ikan-ikan yang muncul di atas permukaan laut, burung-burung camar yang berterbangan mencari mangsa.
Deburan ombak bergulung-gulung menghantam badan kapal. Memperhatikan penumpang kapal lain yang bermacam ragam. Mendengar mereka bertutur dalam bahasa yang berbeda-beda. Sungguh seronok. Itu yang dikatakan Andreas saat Mariana bertanya tentang keadaannya.
Kemudian, perdebatan kecil mereka saat sampai di Hotel Daun Bali Seminyak. Mariana tersenyum bila mengingat kejadian tadi pagi. Andreas meminta dua kamar, tetapi, Mariana menolak. Alasan, kalau ayah mertua hanya menyiapkan satu kamar dan segala keperluan mereka. Ia akan melaporkan kepada sang ayah, kalau Andreas berani menyewa dua kamar. Lelaki itu terpaksa menerima.
Saat sampai di kamar, Andreas ingin menguasai ranjang. Namun, sekali lagi Mariana membantah.
"Ini acara bulan madu kita. Kau dan aku. Bagaimana mungkin aku tidur di sofa. Tak akan," katanya, sambil bercekak pinggang.
Akhirnya, terjadilah perang bantal, tarik-menarik, tolak-menolak memperebutkan kepemilikan ranjang. Namun, dua-duanya kini menguasai ranjang tersebut menjadikan bantal guling sebagai pembatas.
Mariana bangun setelah merasa istirahatnya sudah cukup. Ia melirik sekilas jam pada layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA. Langkah kaki terus berayun menuju ke kamar mandi.
Saat ia keluar, Andreas sudah bangun, duduk bersimpuh di atas ranjang. Mariana berjalan ke meja, mengambil segelas air putih lalu memberikannya kepada Andreas. Lelaki itu hanya terbengong melihatnya.
"Ambillah!"
"Tak apa, nanti aku ambil sendiri." Ia tak biasa dilayani. Semenjak ibu pergi, ia memang sudah biasa mengurus dirinya sendiri. Cuci, masak, makan, pakai, sudah biasa dilakukannya sendiri.
"Ambillah, anggap saja kita sedang latihan!" Mariana meraih tangan Andreas, meletakkan gelas tersebut ke dalam genggamannya.
"Latihan?" Andreas membeo.
__ADS_1
"Iyalah, latihan suami istri. Supaya saat kau bersama dengan istri masa depan, kau sudah biasa," katanya sambil berlalu duduk di sofa.
Andreas tak berkata lagi. Ia meneguk habis air dalam gelas tersebut. "Sudah pukul berapa?" tanyanya.
"Hampir pukul tujuh, ni," jawab Mariana, "mau makan di sini atau di luar?"
"Kamu, bagaimana? Mau makan di luar atau di hotel?"
"Aku ikut kamu saja."
Andreas diam. "Kita pesan makanan hotel saja. Aku malas keluar."
"Oke, aku juga sedang malas keluar. Ingin tidur-tiduran di kamar."
Andreas turun dari ranjang, berlalu menuju ke kamar mandi. Mariana mengikutinya, sambil membawa sehelai handuk yang dia ambil dari dalam koper Andreas. Lelaki itu terkejut saat menyadari Mariana berada di belakangnya.
"Mau ke mana?" Andreas memegang daun pintu, menghalangi jalan Mariana.
"Siapkan keperluan kau, to," jawabnya.
"Tidak perlu," katanya sambil mengambil handuk dari genggaman Mariana. Gadis itu hanya terkekeh geli melihat raut wajah Andreas yang masam.
"Kau pergi pergi pesan makanan!" perintah Andreas. Mariana pun menurutinya.
***
Giliran Andreas. Ia mengambil kartu di deck, mendapat As keriting. Sudut bibirnya tertarik hingga ke telinga, lalu membuang kartu angka enam love. 'Semoga kali ini aku yang menang!' Hatinya berbisik. Dalam tangannya kartu As ada empat, J keriting, wajik angka enam dan tujuh. Jadi, ia sedang menunggu angka lima atau delapan wajik.
Melihat Andreas tersenyum, Mariana mulai waspada. Matanya bergilir menatap kartu di tempat pembuangan dan kartu yang berada di dalam tangannya. Ia memiliki kartu J, Q, dan K sekop, kartu angka dua, tiga, empat hati, dan yang terakhir Joker.
Kali ini Mariana kembali tersengih seperti kerang busuk. Ia mengedipkan mata penuh arti.
"Tuan Perjaka, dahi kau sudah benjol. Mau aku jentik bagian mana?" tanyanya, sambil tertawa terbahak-bahak sampai ranjang yang mereka duduk berderit.
"Cis, kita lihat saja nanti! Kali ini kau belum tentu menang."
Mariana mengambil kartu angka lima dan enam hati di tempat pembuangan, lalu menyatukan dengan kartu angka dua, tiga, dan, empat hati yang ia miliki, diletakannya di atas ranjang. Kemudian diikuti kartu J, Q, dan K sekop, lalu ia membuang Joker sebagai penutup.
Wajah Andreas masam mencuka. Ia membuang kartunya begitu saja. "Kau curang," katanya, "bagaimana mungkin dari tadi kau menang terus. Aku baru dua kali." Ia menghempaskan tubuhnya, berbaring membelakangi Mariana. Sudah sejam mereka bermain kartu Remi, setelah makan malam tadi. Sudah beberapa kali putaran, tetapi Andreas baru menang dua kali. Itulah sebabnya hati Andreas terasa panas. Ia merasa tertipu.
"Eh! Kau lihat sendiri, kan? Aku tidak curang." Mariana manarik tangan Andreas. "Mari sini! Kau belum dapat hukuman," lanjutnya.
Akan tetapi, Andreas bergeming. Tubuhnya seperti batang kayu kering. Ia langsung tak mau membalikan badannya. Mariana juga tidak mau kalah. Ia mencoba melangkahi Andreas, ingin menduduki tubuh suaminya, supaya bisa menjentik dahi Andreas. Namun, usahanya gagal. Andreas menolak Mariana sebelum gadis itu melakukan aksinya, membuat Mariana terjerembab ke belakang menindih kartu yang berselerakan di atas ranjang.
"Kita main satu kali lagi," pinta Andreas, sambil bangkit dari pembaringannya.
"Kau tak takut?"
"Aku yang akan menang kali ni." Andreas membetulkan posisi duduknya. Mariana juga melakukan perkara yang sama.
__ADS_1
Gadis itu mengumpulkan kartu, mengocoknya lalu membagi seorang tujuh keping kartu. Andreas merengus melihat kartunya.
"Kocok ulang! Tangan kau majal. Lihat kartu aku jelek semua!" Dahi Mariana berkerut seribu. Tak paham dengan tingkah Andreas.
"Kalau begitu, kau saja yang kocok."
Andreas pun melakukannya. Setelah membagi kartu, ia menyusun sesuai urutannya. Wajahnya kembali masam mencuka.
"Apa ni? Ai, kau main saja sendiri! Kartu jelek semua." Andreas meletakkan kartunya di atas ranjang, lalu kembali berbaring membelakangi Mariana. Entah mengapa, suasana hatinya memburuk. Mungkin karena sewaktu tidur tadi ia memimpikan Rena, yang pulang untuk menagih janji setelah lama menghilang.
Mariana membungkukkan badannya guna melihat kartu milik Andreas. Setelah meneliti sebentar, ia pun berkata, "Tuan Perjaka, punya kau tidak buruk. Kartu As ada dua, angka lima dan enam keriting, angka dua wajik, angka sembilan sekop, K sekop."
Ia pun membandingkan kartu miliknya dan Andreas, lalu melihat satu per satu kartu yang ada di deck. Mariana akhirnya bermain sendiri.
Tiba-tiba ....
Put put put!
Put put put!
Terdengar letupan bom beracun dari lubang anus Andreas berturut-turut menggetarkan seisi kamar hotel. Karena terkejut, Mariana terjungkal ke belakang, sambil menutup hidung. Gadis itu lalu menolak Andreas menggunakan kakinya, sampai lelaki itu terjatuh dari ranjang.
"Tuan Perjaka, kau kentut tak permisi dulu. Kau kentut depan muka aku, tahu." Mariana mengibaskan tangannya menghalau bau beracun yang menghuni rongga hidungnya.
"Sorry, aku tidak sengaja," kata Andreas, sambil kembali memosisikan pantatnya di atas ranjang, lalu bersandar pada kepala ranjang.
"Tidak sopan, e, Tuan Perjaka! Masa kau kentut depan muka aku."
"Buang angin."
"Apa?"
"Kau bilang aku tidak sopan, tapi kau juga sama. Masa kau perempuan, tapi bahasa kau kasar sekali. Bu-ang a-ngin ...."
"Apa bedanya?" Mariana memprotes.
"Tentu beda. Buang angin, bahasanya lebih sopan. Lebih halus, daripada kentut."
Andreas mengelus perutnya. "Perut aku kembung."
"Bingo," kata Mariana, sambil menjentikkan jari di depan Andreas.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita ganti permainan?"
"Permainan apa?"
"Adu bunyi kentut, siapa punya yang bunyinya paling kuat. Ha-ha-ha!"
__ADS_1