
Tepat pukul 12.00 WITA, sebuah mobil berwarna hitam terparkir di halaman sebuah rumah bercat biru muda. Rumah beratapkan zink, berdinding setengah tembok, dan setengahnya lagi terbuat dari anyaman bambu. Sederhana tapi terlihat nyaman. Halaman rumah juga luas, dihiasi berbagai jenis tanaman, seperti, bunga-bunga, mangga dan beberapa batang pokok pepaya.
Para tetangga mulai mengintip, berbisik-bisik mencari tahu, siapakah mereka? Apa gerangan yang terjadi di rumah mama? Rasa ingin tahu yang berlebihan, mengundang beberapa pasang kaki 'tuk melangkah mendekati rumah mama.
Setelah mobil diparkir, keluarlah empat orang penumpang dari dalam perut mobil. Om Dorus, Om Alo, Nenek Esi dan Om Sina. Tak lama kemudian, datang juga seorang lelaki paruh baya menunggangi sepeda motor Yamaha.
Mama menarik tangan Mariana masuk ke dalam kamar. "Apakah Mama perlu tutup muka pakai cadar?" Mariana menggeleng.
"Nanti mereka takut lihat muka Mama," lanjut mama lagi.
Mariana meraih tangan mama, mencium punggung tangan tua itu penuh kasih. "Seperti yang abang Budi bilang tadi, kalau kecantikan itu bukan bukan hanya dari rupa seseorang, melainkan dari hati. Mama wanita yang cantik lahir dan batin. Itu sebabnya, anak Mama ini juga cantik, jadi rebutan. He-he-he!" Mama turut terkekeh mendengar jawaban anaknya.
Mariana menatap sendu wajah mama. "Ana sayang Mama, wanita idola dalam hidup Ana. Dalam kepercayaan agama Buddha, adanya kehidupan semula, yang artinya manusia bisa dilahirkan dua atau tiga kali, mungkin juga lebih, yang disebut reinkarnasi. Jika itu memang nyata, di setiap kelahiran, Ana tetap ingin jadi anak Mama." Mata mama berkaca-kaca mendengar ucapan anaknya.
"Maafkan Ana, karena dulu Ana menolak mengakui Mama." Mutiara jernih itu juga mulai bertakung di pelupuk mata Mariana.
__ADS_1
Namun, belum sempat air mata itu mulai beranak sungai, suara Tari mengejutkan mereka.
"Jangan buat drama air mata duyung! Tetamu sudah sampai tu." Dia tersengih di depan pintu. Mereka kemudian tertawa, lalu melangkah keluar dari dalam kamar menyambut Om Alo bersama rombongannya.
...***...
Suasana di ruangan tamu itu terlihat tegang. Masing-masing belah pihak coba bernegosiasi, saling memberi pendapat dan menawar. Pihak keluarga perempuan ada nenek, Om Mias, Om David–sepupu almarhum bapa (bapak) sebagai juru bicara, dan Kakek–Bala ketua adat suku Koten, sedangkan pihak yang mewakili keluarga lelaki, ada Nenek Esi, Om Alo, Om Dorus, Om Sina dan Om Sipri.
Berdasarkan urutan tradisi adat perkawinan suku Krowe-Sikka, tahap pertama yang harus dilakukan adalah panu aho yang artinya merintis jalan.
Jika pano ahu ini berhasil, maka proses pertunangan dapat dilanjutkan. Pada tahapan ini seorang perempuan yang akan dilamar dan menjadi calon mempelai paling tidak harus melewati upacara dong werung, yakni upacara perkenalan kepada kedua pihak terutama pihak laki-laki jika perempuan tersebut telah dewasa dan telah siap menjadi seorang istri.
Tahap berikutnya adalah tung urut linong, yaitu upacara pemberian sisir, cermin, buah-buahan, serta kain kepada pihak perempuan. Pemberian ini menjadi tanda kalau perempuan ini sudah dipinang oleh seorang laki-laki.
Selanjutnya, ketika pemberian pihak laki-laki diterima, maka pihak perempuan juga akan memberi lipa, yaitu sarung laki-laki hasil tenunan sendiri dan lensu nujing, yaitu sapu tangan jahitan sendiri dengan sulaman khusus di bagian pinggirnya.
__ADS_1
Namun, dalam kasus Mariana dan Andreas, pernikahan mereka tidak ada rancangan yang sempurna. Semua berlaku dalam situasi mendesak karena baru tadi malam, Om Alo menyampaikan maksud kedatangan mereka hari ini untuk meminang. Sehingga tidak ada persiapan matang dari pihak perempuan, maka terjadi sedikit perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.
Akan tetapi, musyawarah yang dilakukan dengan kepala dingin, mendapatkan mufakat yang adil bagi kedua belah pihak. Keputusan pertama yaitu, sesuaikan tradisi perkawinan Lamaholot dan tradisi perkawinan suku Krowe-Sikka. Tahap pertama panu aho sama dengan maso minta.
Masuk ke tahap kedua dung wering, Marina hanya Memperkenalkan diri di hadapan semua orang, sekaligus mengatakan kalau Andreas sudah menyematkan cincin pada jari manisnya. Sehingga, tahap kedua tuka cince (tukar cincin) untuk tradisi Lamaholot tidak perlu lagi dilakukan. Jadi, secara resmi, Mariana sudah bertunangan dengan Andreas.
Pembicaraan ditunda sebentar, karena, mama mengajak semua tetamu untuk makan siang bersama. Setelah itu dilanjutkan lagi.
Tahap berikutnya adalah Tuli nara(nama)/tulis nama. Tuli nara merupakan kegiatan mencatatkan nama pasangan di gereja untuk mengikuti pemberkatan nikah. Peraturan gereja Katolik mewajibkan pasangan untuk mengikuti kursus perkawinan sebelum menikah.
Setelah itu, pasangan yang akan menikah diumumkan dalam tiga minggu berturut-turut. Nama mereka diumumkan di gereja asal pasangan. Melengkapi proses di gereja, kedua keluarga kembali bertemu dan mulai berbicara serius mengenai kegiatan pernikahan. Detail acara, dan perlengkapan yang diperlukan, sudah mulai dibicarakan dalam kesempatan itu. Kedua keluarga berkumpul sambil menikamati hidangan yang disediakan pihak wanita. Tanggal pernikahan mulai ditetapkan, dan juga mas kawin/belis.
Akan tetapi, pihak lelaki memberikan usul agar pernikahan segera diadakan. Kata Om Sina, kalau hari baik tak boleh ditunda lebih lama. Seandainya lebih lama ditunda, takut ditimpa perkara buruk. Jadi, untuk tahap tuli nara dan mengikuti kursus pernikahan Mariana dan Andreas yang akan lakukan, sedangkan penetapan tanggal pernikahan dilakukan pada hari itu juga, sekaligus membicaraka belis/mas kawin.
Keputusan kedua ini terjadi ketegangan antara mereka, karena keluarga pihak perempuan meminta gading sebagai belis. Akhirnya pihak lelaki menyanggupi permintaan tersebut. Sesuai kesepakatan, belis yang harus disediakan oleh pihak lelaki berupa sebatang gading sepanjang satu depa tangan lelaki dewasa. Sesuai kesepakatan, pernikahan akan dilangsungkan setelah Mariana dan Andreas mengikuti kursus pernikahan. Untuk resepsi pernikahan, akan dibicarakan lagi menjelang pernikahan nanti.
__ADS_1