My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXVIII


__ADS_3

Para jemaat mulai memadati gereja. Tak terlihat lagi bangku kosong, padahal pada hari Minggu biasa lainnya kehadiran jemaat hanya bisa dibilang dengan jari. Beberapa jemaat yang terlambat datang sibuk mencari bangku kosong. Iyalah, kalau selama perayaan misa asyik berdiri, bisa terseleo mata kaki. Sebelum mereka mendapatkan bangku kosong, Ben menuntut mereka duduk berdekatan tembok. Ada beberapa buah kursi plastik yang sengaja ditempatkan di sana.


Si pelontos Tomas dan Us sibuk merekam video, sedangkan Paul melayan kegelisahan Andreas. Lelaki itu duduk gelisah di bangku paling depan. Bangku yang disediakan untuk pasangan pengantin. Sudah lima belas menit berlalu, tetapi calon pengantin wanita belum juga kelihatan batang hidungnya. Keringat dingin mulai bercucuran, tapak tangannya pun terasa basah. Kepergian Rena dulu kembali menghantui pikiran dan perasaannya. Dia takut kejadian itu terulang kembali. Namun, dia masih menempatkan harapannya pada gadis itu. Mariana takkan mengaibkan dirinya sendiri dan ahli keluarganya. Dia percaya itu.


"Tak ada jawaban." Paul berbisik di telinga Andreas, sambil menunjuk ponsel yang digenggam.


Andreas menghela napas. "Tunggu sebentar lagi!" Paul coba menenangkannya.


Di Rumah Om Mias


Dia sibuk membetulkan sarung yang dililit pada pinggangnya. Tergesa-gesa kerena sudah terlambat. Hari ini dia bangun kesiangan. Untung pakaian pengantin yang diantarkan tadi malam, dia bawa bersama ke rumah Om Mias.


Pada saat fia sibuk membetulkan sarung, muncul dua orang gadis berusia enam belas tahun di depan pintu. Anak kembar bungsu Om Mias, Tia dan Tesa.


"Tata Ana belum siap?" tanya Tesa.


Mariana hanya tersengih. "Tak ada orang bantu tata," katanya.


"Ai, ratu kita ni diabaikan." Tia segera bergerak membantu Mariana memakaikan stagen.


Tadi malam mama menyuruhnya tidur di rumah Om Mias karena di rumah terlalu bising, sedangkan Mariana perlu istirahat yang cukup. Namun, mungkin karena kelelahan, Mariana tidur tak ingat dunia. Tak sadar hari sudah pagi. Fitri yang dipercayakan menjadi juru soleknya, tetapi calon kakak iparnya itu pagi-pagi buta sudah berangkat ke Larantuka mengambil barang-barang yang digunakan untuk memasak daging kambing.


"Tata, duduk!" perintah Tia, "aku mau dandan rambut Tata punya dulu."

__ADS_1


Mariana menurut. "Kalian bisakah?" tanyanya ragu.


"Percaya saja pada kami, Tata walaupun kami bukan pakarnya." Tesa tersenyum.


Gadis itu langsung menyambar peralatan makeup di atas meja. Sedangkan Tia mengambil sisir lalu mulai menata rambut Mariana. Tangan yang lincah mulai menari di atas permukaan kulit Mariana. Namun, kegelisahannya membuat dia tidak dapat berkonsentrasi penuh. Maklum saja baru pertama kali jadi MUA (makeup artist). Setelah mereka menyelesaikan pekerjaan, Mariana menatap dirinya melalui pantulan cermin.


...***...


Abang Budi tergesa-gesa mendatangi Mariana di rumah Om Mias. Gadis itu sudah menunggunya di depan rumah. Beberapa orang yang ada di sekitarnya asyik menoleh melihat pengantin wanita.


"Cantik sekali," bisik seseorang kepada temannya.


"Dia benar-benar seperti Vina waktu muda dulu." Tetangga sebelah rumah berkomentar.


Mariana hanya tersenyum mendengar pujian mereka.


"Ratu, ayo naik, Sayang!"


Mariana tertawa mendengar panggilan tersebut. Gadis itu terus meletakkan pantatnya menyamping di belakang Abang Budi. Selama perjalanan menuju ke gereja, beberapa orang yang berpapasan dengannya asyik menoleh. Ada yang berteriak-teriak memanggilnya.


"Tata Ana! Tata Ana!" Mariana tersenyum mesra membalas sapaan mereka, sambil melambaikan tangan.


"Adik sangat cantik," puji Abang Budi.

__ADS_1


"Terima kasih, Abang."


Sesampainya di gereja, dia sudah terlambat dua puluh menit. Romo Wens sedang menunggu kedatangannya. Ben dan Us juga ada di sana. Ahli keluarga dari kedua belah pihak pun sudah lama menunggunya. Senyuman ceria menghiasi wajah mereka. Mama terus menghampirinya.


"Mari, Sayang!"


Lonceng gereja ketiga langsung dibunyikan menandakan bahwa perayaan misa segera dimulai. Jantung Andreas berdebar-debar saat mendengar lonceng gereja berbunyi. Terdengar suara Paul yang membawakan acara pernikahan pagi itu bergema lantang.


MC Paul: Selamat pagi Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang terkasih dalam Kristus. Inilah saat penting dan berahmat bagi anak, adik, saudara, saudari kita Andreas Suban Krowe dan Maria Mariana Koten. Dua insan berbeda latar belakang ini memberanikan diri, berkat kuat kuasa Allah, untuk berkomitmen dalam ikatan suci pernikahan kudus. Kita semua yang hadir di sini pun menjadi bagian penting dalam hidup mereka karena kita akan menjadi saksi saat Allah mempersatukan ikatan hidup mereka dalam bahtera hidup berkeluarga. Semoga, dengan rahmat-Nya dan doa kita bersama, mereka dapat menghayati panggilan hidup ini dengan penuh kebahagiaan bersama Yesus Kristus junjungan kita!


Perayaan ekaristi sakramen perkawinan ini dipimpin oleh Romo Wensuslaus Doni Werang, Pr. Sekarang, marilah kita berdiri dan menyambut kehadiran kedua mempelai!


Andreas, Mariana, ahli keluarga dan saksi berkumpul di luar gereja depan pintu masuk.


Romo Wens lalu memulai dengan kata sambutannya.


Imam Romo Wens: Semoga Tuhan berkenan akan kehendak dan harapan kita semua. Marilah kita bersama-sama menuju ke depan altar Tuhan!


Perarakan pun dimulai, diiringi dengan lagu pembukaan yang dinyanyikan oleh jemaat dari lingkungan yang bertugas pada hari Minggu itu. Secara berurutan misdinar, imam, kedua mempelai, orang tua, saksi dan kerabat berarak menuju depan altar. Kemudian masing-masing menuju tempat yang telah disediakan. Mempelai laki-laki duduk di sebelah kiri mempelai perempuan.


Tari tersenyum melihat kakaknya. Rasa syukur dipanjatkan dalam doa. Namun, tak dapat dia nafikan, hatinya terasa digelitik. Tak ada gaun pengantin yang menyapu lantai, seperti bayangannya waktu pertama kali bertemu Andreas, tetapi pakaian adat Flores Timur, kewatek yang melilit tubuh Mariana dan baju senuji, rambut pula disanggul konde kemudian ditusuk dengan kokoleo/senula. Lawa.


Andreas pula memakai sarung nowing dan senuji, sedangkan di atas kepalanya dililit kain merah yang disebut lensu.

__ADS_1


Tak ada lagu 'Beautiful in white' yang diiringi musik, melainkan lagu 'Tulang Rusuk', lagu rohani Kristen untuk pernikahan yang diiringi dengan petikan gitar. Tak ada karpet merah yang membentang, tak ada peri-peri cantik yang mendampingi si bidadari. Namun, kebahagiaan dari kesederhanaan itu terpancar jelas dari sorotan mata dan senyuman yang tak pernah lekang dari bibir semua orang.


__ADS_2