My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XV


__ADS_3

Salom semua, seperti yang diketahui kalau cerita ini latar belakang tempat di NTT. Ana mau bilang kalau NTT terutama di kota Larantuka itu mayoritas penduduknya beragama Kristen Katolik. Pada part ini Ana singgung sedikit tentang agama. Jadi Ana mohon jangan ada perdebatan tentang keagamaan. Cukup baca dan tambah ilmu. Percuma loh ilmunya...... Dan sebelum baca sorak dulu semboyan Ben 7........... BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA BERANTAAAAAAKAAN


selamat membaca


________________________________________________


Suasana dapur begitu riuh dengan suara gelak tawa Mariana dan Andreas. Terkadang mereka bertepuk-tampar, bertos-ria kalau ada kesamaan dalam cerita mereka. Andreas langsung tidak merasakan kecanggungan, dia begitu bebas bercerita dan tertawa seolah sudah lama berkenalan dengan Mariana.


Sejak pulang menangkap hantu saat azan subuh tadi, mereka duduk bercengkrama di situ, sambil menikmati sepiring biskuit dan kopi panas yang diletakkan di atas kompor minyak sebagai pengganti meja.


Andreas memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa, begitu juga Mariana. Gadis itu bahkan meneteskan air mata.


"Waktu aku SD kelas 2, aku punya teman sebangku namanya Jeje." Mariana kembali bercerita.


"Dia anak yatim-piatu, dia cuma tinggal bersama neneknya. Saat itu guru kelas kami namanya Pak Raja, sedang memberikan dikte pelajaran bahasa Indonesia pada kami. Tiba-tiba seisi ruangan begitu gaduh. Mereka asyik mengendus-endus mencari punca penyebab udara tercemar.


Aku lihat Jeje, mukanya pucat-pasi. Pak Raja tiba-tiba datang dan berdiri di depan meja kami. Aku lihat Pak Raja seperti lihat hantu. Mukanya bengis, kulit hitam, jenggotnya panjang sampai dada, kumisnya juga panjang melengkung ke atas. Kalau dia bicara, kumisnya itu bergerak naik-turun.


Pak Raja tanya saya, 'Mariana! Hidung kau itu disumbat pakai apa?' Aku diam saja, lihat muka dia saja aku tidak berani. Kemudian dia tanya Jeje, 'Jeje! Hari ini kau makan apa?'


Jeje bilang, 'rujak mangga, Pak?'


'Kau makan sendiri?' Jeje angguk.


'Kau kikir tidak mau berbagi, pantas saja kelas ini bau kotoran kau!'


'Anak-anak! Angkat Jeje!' Anak-anak empat orang datang usung Jeje. Dua pegang kaki, dua pegang tangan. Aku tak tahu, ternyata Jeje berak dalam celana. Aku duduk sebelah dia, tapi tak dapat hidu bau tahi, karena hidung aku tersumbat inggus." Mariana mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Aduh! Kasihan itu anak." Andreas menimpalinya.


"Waktu aku SMP kelas 1, pas ujian hari terakhir semester dua, ada satu pelajar perempuan senior terkencing dalam kelas. Cerita itu heboh satu sekolah. Setelah ujian, dia tidak pernah lagi datang ke sekolah. Tahu-tahunya, dia sudah pindah sekolah." Giliran Andreas bercerita, sambil meneguk kopi hitamnya.


Tari yang berdiri di pintu dapur terperangah melihat keakraban mereka. Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, mereka seperti kucing dan anjing. Namun, dia tak berbicara sepatah kata pun, hanya tersenyum penuh makna.


Andreas berdiri, mengatur langkah menuju kamar ingin beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk ke gereja, tetapi, langkahnya terhenti saat Mariana memanggil namanya.


"Si Pengecut!" Andreas menoleh. Wah! Andreas punya nama baru.


"Aku mau bilang, kalau mau tinggal di sini, perlu ikut peraturan yang aku buat." Mariana berjalan mendekati Andreas, sambil memeluk tubuh. Wajahnya tampak serius.


"Yang paling utama adalah penghematan. Kau pikir aku bayar listrik pakai daun?" Andreas diam.


"Aku lihat setiap malam, lampu kamar terang-benderang. Kalau kau ingin buka lampu saat tidur, aku naikkan harga sewa. Tahu tidak?" Tanyanya agak kasar. Seperti burung beo, Andreas mengangguk.


Dia terkejut dengan perubahan sikap Mariana. Begitu pun dengan Tari yang melongo tak percaya. Fendi bahkan sampai menjatuhkan gayung yang dipegangnya. Mariana menatap mereka satu per satu, kemudian berlalu begitu saja tanpa menghiraukan keterkejutan mereka.


Andreas berjalan tergesa-gesa. Ia mengutuk dirinya karena terlambat ke gereja. Semuanya gara-gara Mariana. Dia tidak punya cukup waktu untuk tidur. Mariana menantangnya menangkap hantu dini hari tadi, yang kononnya meresahkan para penduduk.


Niat awalnya yang berbaring hanya untuk lima menit, rupanya dia terlelap dibuai mimpi, melihat Mariana menggoda dan bercumbu dengannya.


'Iblis,' batinnya. Ini juga karena Mariana yang sengaja membekap mulutnya karena asyik meronta. Mengingat itu, refleks Andreas menyentuh bibirnya. 'Ahh, bibir aku sudah tidak perawan lagi. Terkutuk engkau Mariana,' batinnya kesal.


Wajahnya memerah. Tingkahnya seperti anak ABG labil yang kasmaran, mengundang beberapa orang yang berpapasan dengannya tersenyum memandangnya.


Lonceng gereja berbunyi tiga kali, mengejutkan Andreas dari lamunannya. Rupanya dia sudah sampai di depan pintu gereja yang terbuka lebar, dan tak lama kemudian terdengar lagu pembukaan 'Hatiku Gembira' dinyanyikan semua umat yang dipimpin oleh seorang dirigen di barisan paling depan diiringi musik dari piano dan gitar.

__ADS_1


Andreas mempercepatkan langkahnya mencari tempat duduk. Ia berjalan menyusuri tembok sebelah kanan. Andreas mendapat tempat duduk di bagian tengah bangku panjang, yang diapiti oleh seorang pria tua berusia sekitar lima puluh tahun dan seorang pemuda belasan tahun.


Ekor matanya menangkap sosok seorang pria dewasa yang seumuran dengannya, yang dibaluti kasula dan stola berjalan di belakang tiga anak remaja dalam balutan pakaian misdinar atau yang disebut putra altar.


'Hmm, Romo Wens! Kapan dia pindah ke sini?' batinnya. Pada lagu pembukaan itu, semua umat berdiri menyambut imam dan putra altar yang memimpin perayaan Ekaristi pada hari minggu itu.


Acara terus berlangsung penuh khusyuk. Setelah lagu pembukaan, tanda salib, doa pembukaan dan seterusnya, sampailah pada liturgi sabda. Bacaan pertama dari kitab Perjanjian Lama, bacaan kedua dari kitab Perjanjian Baru, yang diiringi nyanyian Mazmur Tanggapan dan Alleluya, yang dibaca dan dinyanyikan oleh umat yang bertugas pada minggu itu. Selanjutnya bacaan Injil dan kotbah dari Romo Wens atau nama lengkapnya Rm. Wensuslaus Doni Werang, Pr.


Pada hari minggu itu Romo Wens membacakan kitab Injil Matius 4:10-22. Tentang Yesus memanggil murid-muridNya yang pertama di tepi danau Galilea. (Simon yang disebut Petrus dan saudaranya Andreas, Yakobus dan saudaranya Yohanes).


Yesus berkata kepada mereka: "Mari ikutlah Aku, dan kamu akan Ku jadikan penjala manusia."


Pada saat Romo Wens membacakan ayat dari kitab tersebut, ingatan Andreas kembali pada masa lalunya. Saat dia berumur tujuh tahun lebih, ayah membawanya menemui dokter psikologi anak yaitu dokter Herman Fernandez.


Setelah ayah menjelaskan masalah yang dialami oleh Andreas, dokter Herman melakukan pemeriksaan. Dia ingat lagi waktu itu dokter Herman membawakan sebuah patung perempuan cantik berambut panjang. Saat itu Andreas terus berteriak, histeris ketakutan, sehingga dokter Herman mengalami kesulitan menenangkan Andreas.


Kemudian dokter Herman membuat kesimpulan bahwa Andreas mengalami trauma karena perpisahan kedua orang tuanya, sehingga mengalami fobia terhadap lawan jenisnya. Walaupun berbagai cara dilakukan untuk kesembuhan Andreas, tetapi, hingga kini usaha itu tidak pernah membuahkan hasil.


Pada suatu hari, saat dia berusia dua belas tahun, Andreas pernah bertanya pada ayah.


"Ayah, kalau jadi romo, tidak perlu menikah, kan, Ayah?"


"Iya," jawab ayah singkat tanpa memandangnya.


"Kalau begitu, romo tidak perlu dekat dengan perempuan, kan?" Ayah tidak menjawab, karena sibuk membaca koran.


"Aku juga tidak mau menikah, Ayah. Aku mau jadi romo," ucap Andreas perlahan.

__ADS_1


Setelah tamat SMP, Andreas kembali mengutarakan keinginannya untuk masuk seminari, ayah menolak. Membantah keras dengan alasan, kalau Andreas akan mengambil alih usahanya kelak.


Ayah menentang keputusan Andreas, tetapi Andreas merayu, memohon dan keputusan Andreas itu didukung oleh nenek. Akhirnya ayah merelakan Andreas masuk seminari menengah San Dominggo Hokeng, yang terletak di kec. Wulanggitang, kab. Flores Timur, NTT.


__ADS_2