My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab CII


__ADS_3

"Ada apa dengan kau hari ini?" tanya Andreas. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dahinya berkerut seribu melihat sang istri masih menunggunya di dalam kamar.


"Memangnya kenapa?" Mariana balik bertanya.


"Kau jadi aneh."


"Tidak ada yang aneh. Aku memang seperti ini, 'kan?"


Andreas melangkah ke arah lemari hendak mencari pakaiannya, tetapi dihentikan oleh Mariana. "Aku sudah ambilkan," katanya.


Dia melangkah ke arah Andreas hendak melepaskan handuk yang melilit pinggang lelaki itu, Andreas langsung menjerit. "Kau mau buat apa?" Mata pria itu melotot.


"Layan kau-lah. Bantu kau pakai baju," jawab Mariana dengan santai. Tak lupa senyuman manisnya senantiasa merekah di bibir membuat Andreas semakin pusing.


"Tidak usah! Aku bukan orang cacat. Aku akan pakai sendiri."


Sudahlah setiap pagi gadis itu mengecoh mengancing butang pada kemeja kerjanya dan memakaikan dia dasi, malam pun mau dipakaikan baju. Andreas tidak ingin dilayani seperti itu. Mariana bukan pelayan. Pelayan sekalipun, dia tak akan meminta memakaikannya baju.


Setelah siap berpakaian, Andreas bertanya pada Mariana yang duduk menopang dagu di birai katil sambil memperhatikannya. "Ada apa?" Mariana menggeleng.


"Bilang saja. Aku tahu kau mau tanya sesuatu." Dia berdiri bersandar di lemari sambil bersedekap.


Mata bertentang mata. Agak lama mereka terdiam. Namun, setelah itu Mariana mengulum senyum. "Tuan Perjaka, hari ini kamu naikkan gaji aku?" tanyanya.


"Iya," jawab Andreas.


"Kenapa?"


"Projek di Larantuka berjalan lancar, jadi aku dapat bonus dan dinaikkan pangkat." Andreas tersenyum.


"Benarkah?" Mariana langsung berdiri. "Asyik! Kalau begitu kita mesti raihkannya."

__ADS_1


Dia bergegas membuka pintu. Sebelum keluar, dia berkata, "Jangan lama-lama!" Dia mengedipkan mata sebelum menutup pintu.


Andreas hanya tersenyum menanggapi kedipan mata si Kribo. Dia melangkah ke meja rias, melihat sebuah kado kecil beserta sekeping kertas yang ditempel di atas kado tersebut.


Hadiah untuk Tuan Perjaka. Jangan pakai buat pikat perempuan lain! Kalau tidak, siap kau ….


"Kasih hadiah, tapi pakai ancam segala. Menakutkan!" Andreas menggerutu, tetapi tangannya tetap lincah membuka bungkusan tersebut.


Dia tersenyum lebar setelah melihat isinya. "Perhatian juga dia. Kebetulan punya aku sudah habis," gumamnya.


Ternyata Mariana menghadiahinya sebuah botol parfum Rexona Men, merek yang memang dia suka. Sambil menilik beberapa saat botol parfum tersebut, Abdreas berdiri termenung. Entah apa yang dia pikirkan. Setelah itu dia memasukkan kembali botol ke dalam kotaknya, lalu turun menyusul si Kribo Mariana.


Sampai di tingkat bawah, Andreas tercengang melihat ruangan tamu hingga dapur begitu gelap. Dia bergumam, "Listrik matikah?"


Dia lalu memanggil nama Mariana, tetapi tak ada sahutan. Namun, ketika tangannya hendak menekan saklar, suara sang istri mengejutkannya. "Jangan hidupkan lampu!"


"Kenapa?" tanya Andreas.


Dia lalu melangkah menuju meja makan, menancap lilin tersebut pada tempat lilin yang bertangkai lima. "Begini baru kelihatan romantis," kata Mariana sambil mengedip mata nakal pada Andreas. Lelaki itu hanya berdecik melihat kedipan mata sang istri. Namun, diam-diam dia mengulum senyum—suka.


"Dari mana kau dapat lilin itu?"


"Minta sama kak Siti," jawab Mariana.


Setelah semua lilin terpasang, dia mengajak Andreas duduk. Mariana menyiapkan piring, lalu mencedok nasi untuk mereka berdua. Ketika membuka tudung saji, Andreas mendapati ada ikan kerapu panggang ditambah irisan limau dan sambal, acar mentimun dan kubis, kacang tanah tumbuk diasingkan, dan sub sayur campur.


Andreas menelan liur. Lauk yang Mariana masak untuk makan malam mereka kelihatan lezat. Semoga rasanya tak menghampakan.


"Kalau aku tahu kau dinaikkan pangkat, kita bisa buat barbeque sekalian ajak teman-teman kau," kata Mariana setelah mencedok nasi untuk Andreas. Tidak lupa dia mencubit isi ikan yang banyak untuk suaminya itu.


"Tidak perlu sampai seperti itu."

__ADS_1


"Hei, mestilah! Kita adakan syukuran sebagai ucapan terima kasih sebab kita diberikan keberkahan." Andreas hanya tersenyum menanggapi ucapan Mariana.


"Lain kali bisa ajak mereka ke sini," kata Andreas.


"Ok," balas Mariana.


Gadis itu menyodorkan sekaleng minuman bir Bintang yang sudah dia buka sambil berkata, "Tuan Perjaka, terima kasih atas kerja kerasmu. Makan yang banyak, ya."


"Terima kasih juga sudah menyediakan hidangan yang menggugah selera ini," balas Andreas.


"Sama-sama." Mariana tertawa. "Silakan dinikmati!"


Ketika Mariana hendak meneguk bir Bintang miliknya, Andreas menahan gerakan tangan gadis itu. "Memangnya kamu bisa minum bir?" tanya Andreas. Seingatnya sang istri tidak diizini oleh Abang Budi untuk mengonsumsi minuman beralkohol walaupun hanya sedikit sebab itu akan merusak pita suaranya.


"Sedikit saja tidak menjadi masalah. Lagi pula bir ini kandungan alkoholnya rendah. Hanya beberapa persen," jawab Mariana.


Mereka akhirnya menikmati hidangan malam dengan penuh sukacita. Mariana banyak bercakap, bercerita tentang segala aktivitasnya hari itu, termasuk pelanggan baru yang memesan banyak aksesori. Sesekali obrolan mereka dihiasi canda dan tawa. Kegersangan hati akibat ditinggal oleh orang yang dicintai, yaitu ibu dan sang kekasih, tidak lagi Andreas rasakan sejak perkenalannya dengan Mariana.


Gadis itu telah menceriakan hari-harinya yang sepi, menyirami taman hatinya dengan bunga-bunga rindu, mengisi kekosongan jiwa dengan canda tawa dan gurauan. Perlahan-lahan hatinya mulai menerima gadis itu dalam hidupnya. Semoga kebahagiaan ini kekal menjadi milik mereka berdua.


"Kribo, mari bersulang!" ajak Andreas sambil mengangkat kaleng bir-nya.


Mariana turut mengangkat kaleng bir-nya. "Tuan Perjaka, semoga pekerjaan kamu semakin berjaya kedepannya."


"Amen. Semoga pelanggan kamu juga bertambah, jadi bisa buka satu lagi toko Mariana Bling-Bling di sini."


"Amen. Ayo, bersulang!"


"Bersulang!" teriak mereka, bersamaan dengan kaleng minuman bir yang saling beradu.


__ADS_1


__ADS_2