
Mama mengesat air mata menggunakan ujung lengan bajunya. Melihat perangai Mariana mengingatkannya pada alm. sang suami, ayah kepada anak-anaknya. Dulu suaminya pun begitu, asyik bertandang ke rumah, memujuk, menggodanya dengan tingkah lakunya yang lucu, walaupun waktu itu mak mertuanya tidak merestui hubungan mereka.
Namun, setelah pacaran beberapa bulan, mak mertuanya datang membawa rombongan untuk meminangnya. Kata Nenek Barek, mak mertuanya, anak lelakinya sudah tak sanggup menunggu. Sehari tak jumpa, seolah sudah berabad-abad lamanya. Orang yang sedang kasmaran, kelapa jatuh hempap atas kepala pun tak tahu, terasa seperti gula kapas yang kena kepala. Ha-ha-ha.
Mariana suka mengusil Andreas, tidak seperti waktu dia berpacaran dengan Daniel dulu. Bersama Daniel, Mariana lebih sopan dan lemah-lembut. Namun, ketika bersama Andreas, mama melihat anaknya itu lebih agresif.
Ada-ada saja tingkahnya yang membuat Andreas geram, asyik merayu dan menggoda Andreas. Mama perhatikan selama dua hari Andreas tinggal di rumahnya, Mariana asyik berkepit dengannya, tak boleh berpisah walaupun hanya sejengkal. Mariana asyik ikut ke mana pun Andreas pergi, kecuali ke kamar mandi dan saat tidur.
Mama tersenyum terkenangkan hal itu. Memang benar pribahasa ke mana lagi tumpah kuah, kalau tidak ke nasi. Mariana mewarisi perangai bapaknya. Bukan saja perangai mereka sama, hobi dan fisik mereka pun sama. Rambut keriting, warna kulit coklat, suka berburu. Kalau nyanyi, mereka suka berduet.
Kenangan indah dan pahitnya hidup bersama alm. sang suami takkan pernah dia lupakan walaupun semakin hari terkikis oleh waktu karena usia. Biarkan ia tersimpan kemas di dalam relung hatinya, jadikan sejarah yang tak mungkin lagi terulang kembali.
...***...
Dentuman musik yang diputarkan oleh DJ cukup membingitkan telinga, tetapi tidak bagi para penggemar kelab malam. Seorang gadis manis yang dipanggil si Kribo oleh Andreas, sedang duduk di hadapan Hugo, sambil menggoyangkan kepala.
"Sendiri?" Hugo menyodorkan segelas jus oren.
"Iya," jawabnya singkat.
"Andreas?"
"Dia sudah pulang tadi sore."
"Hai, Caten. Berseri-seri wajahnya, e." Mariana tersipu malu. Abang Budi melabuhkan tubuhnya di sebelah kiri Mariana. Dia datang bersama Fitri dan beberapa teman pekerja kelab yang lain.
"Tugas aku nanti jadi apa?" Fitri mengelus punggung Mariana sebelum duduk di sebelah kanannya.
Hugo menyediakan minuman untuk mereka.
"Ana, mari bantu!"
"Leni!" Abang Budi memberi isyarat kepada pekerjanya itu.
__ADS_1
Leni berdiri, membantu Hugo mengedarkan minuman. Mariana tersenyum. Dia memang bukan lagi pekerja di sana, sudah berhenti sejak sebulan yang lalu, hanya berkunjung ke kelab bila ujung minggu. Semalam dia datang bersama Andreas, tetapi hari ini dia datang sendiri sebab Andreas sudah kembali ke Maumere sore tadi setelah Penyelidikan Kanonik di gereja.
"Tugas calon kakak ipar nanti cuci piring saja, ya?" Mariana tertawa melihat mimik muka Fitri.
"Ai ... janganlah! Jadi juru kamera atau penyambut tetamu e, masa suruh aku cuci piring." Mariana tertawa lagi.
"Apa salahnya cuci piring. Kalau semua orang di depan, di dapur tak ada orang." Leni menyampuk.
"Kalau begitu kau saja e, Leni."
"Oke, asalkan malam goyang tenda sampai cungkil matahari."
"So pasti tu," jawab yang lain serentak. Mariana hanya tertawa saja melihat mereka.
Abang Budi menggamit lengannya. "Ikut abang sebentar!"
Dia mengangguk, lalu bingkas bangun mengikuti langkah kaki Abang Budi yang sudah lebih dahulu meninggalkannya, menuju ruangan yang tidak asing baginya. Itu bilik istirahat para pekerja sekaligus bilik kerja Abang Budi yang dibatasi oleh penyekat. Liar anak matanya menilik tempat itu. Masih tak berubah, sama seperti kali terakhir meninggalkan ruangan tersebut waktu dia memutuskan untuk berhenti bekerja di situ.
"Bagaimana persiapan pernikahannya?" Abang Budi bersuara, sambil menyuruhnya duduk di sofa.
"Lancar, Bang. Sudah hampir delapan puluh persen. Sekarang anaknya om Mias sedang cari binatang babi dan kambing."
Abang Budi mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa kasih tahu Abang."
"Iya."
"Besok Abang pulang ke rumah mama," kata Abang Budi sambil berdiri.
Dia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sesuatu dari dalam laci meja tersebut. Kemudian kembali lagi duduk di sebelah Mariana.
"Ambil ini!"
"Untuk apa?" tanya Mariana. Dahinya berkerut melihat sekeping kartu kredit yang disodorkan padanya.
__ADS_1
"Ini untuk pernikahan kamu. Abang siapkan sejak lama, nomor PIN-nya tanggal pada hari kita bertemu untuk pertama kali. Kamu ingat?"
Mariana mengangguk. "Abang tidak perlu buat sampai sejauh ini. Aku sudah dapat banyak sejak bekerja di sini."
"Itu gaji kamu. Hasil titik peluh kamu. Sedang yang ini merupakan kewajiban abang, sebab kamu adalah adiknya abang." Tangannya diulur, mengelus lembut kepala Mariana dengan penuh kasih.
"Ambilah!"
"Terima kasih, Abang."
"Kalau kurang, kasih tahu abang."
Mariana menggeleng. "Sudah lebih dari cukup."
Mereka tersenyum saat pandangan mata bertemu.
"Adik kesayangan abang ni sudah besar, ya. Rasanya baru kemarin abang lihat kamu, si gadis kecil yang baru berumur sembilan belas tahun."
"Ha-ha-ha! Sudah lama itu, Abang. Sekarang aku sudah hampir kepala tiga."
"Sudah berapa lama kita bertemu?"
"Hampir delapan tahun," jawab Mariana.
"Selamat menempuh hidup baru! Doa abang, semoga bahagia hingga ke anak-cucu," kata Abang Budi, sambil memeluk dan mencium puncak kepala Mariana.
Abang Budi diam-diam mengesat air mata. 'Andai Laila masih hidup, dia juga pasti sudah memiliki pasangan hidup. Tak apalah, Tuhan lebih menyayanginya. Tuhan juga sayang aku, karena mengirim pengganti Laila. Terima kasih, Tuhan.'
"Abang juga harus bahagia. Jangan anggurkan kak Fitri lagi. Dia sudah tunggu terlalu lama, tu."
Abang Budi terkekeh, kemudian mengangguk kepala, sambil meleraikan pelukan mereka. "Iya, setelah abang lihat kamu naik pelamin. Abang akan ikut jejak kamu."
Malam itu Mariana menghabiskan waktunya di Kelab Mawar Merah, tempat Mariana mengais rezeki dahulu bersama teman-teman, kakak, adik pejuang rupiah. Pejuang kehidupan untuk mencapai martabat yang lebih baik. Dia juga menyanyikan beberapa lagu atas permintaan pengunjung kelab. Mungkin malam itu, malam terakhir Mariana mengunjungi kelab. Jika, Tuhan mengizinkan mereka berkumpul kembali, akan memerlukan waktu yang lama karena dia akan menempuh kehidupan baru bersama insan yang sudah ditakdirkan untuknya.
__ADS_1