Nona Lisa

Nona Lisa
Memaksanya


__ADS_3

...Tidak semua yang hadir akan menjadi takdir, Jadi sewajarnya saja berharap....


.


.


.


.


Berjalan cepat mengikuti langkah pria dingin yang berjalan dengan langkah besar menuju mobil terparkir di pinggir jalan.


Pria yang sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin ia pun dengan cepat menghadangnya, hingga membuat pria dingin itu mengerutkan kening melihatnya.


Lisa dengan cepat masuk ke dalam mobil, tanpa di suruh atau pun meminta ijin terlebih dulu. Dan pria dingin menatapnya tajam.


" Keluar!" Ucap Pria dingin, dengan Lisa menggelengkan kepala cepat.


" Kelur!!" Ucapnya sekali lagi.


" Enggak mau!!" Jawab Lisa nyaring, ada rasa takut kala di tatap tajam dan di bentak seperti itu pada orang yang belum di kenalnya, tapi sudah menolongnya tiga kali.


Mendesah tak percaya, pria itu tak mempedulikan Lisa. Menatap depan dan menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Lisa cepat-cepat memasang sabuk pengaman dan juga berpegangan erat.


" Ibuk!! Lisa masih pengen nikah! Enggak mau mati muda!!" Racau Lisa menutup mata takut dengan pria dingin yang mengemudi dengan kaju kencang. Pria itu menggelengkan kepala tak mempedulikan racauan wanita yang entah kebetulan atau tidak, dirinya sudah tiga kali menolong dan membantunya dalam masalahnya sendiri.


Pertemuan yang sangat mengesalkan dan juga sangat membuatnya ingin selalu marah, bila bertemu dengan Lisa yang tak ada habisnya dengan masalahnya. Tapi tetap saja ia menolongnya, entah kenapa! Kaki begitu saja berjalan ke arahnya dan tangan dengan cepat menghadang orang yang akan memukulnya, dan hati nurani tak bisa menolaknya untuk membantu wanita di sampingnya.


" Ibu!!" Ucap Lisa sekali lagi dan terdengar sedih, mulai meneteskan air mata masih tetap dengan menutup matanya. Pria itu mulai melirik sekilat dan tetesan air mata itu membuatnya seketika menepikan dan berhenti.


" Damn!" Gerutu pria itu.


Perlahan membuka mata, tidak merasakan lagi goncangan mobil yang melaju di jalan dengan kencang. Melihat keluar jendela, jalanan yang gelap dan sunyi, membuat dirinya semakin takut dan kembali menatap pria dingin itu.


" Jangan turunkan aku di sini!" Mohon Lisa. " Anterin aku pulang!" Pintanya memelas, dan begitu cepat pria dingin itu menatap.


" Jangan menatapku seperti itu!!" Kata Lisa, merasa takut dengan tatapan elang dari pria di sampingnya.


" Anterin aku pulang, ibuku pasti cemas putrinya belum pulang-pulang." Ujarnya lagi, dengan wajah sedih dan menunduk.


Lagi dan lagi, wanita di samping begitu menyusahkannya. Masuk ke dalam mobilnya hanya meminta di antarkan pulang.


Yang benar saja!


Rasa ingin menolak, tapi bibir tak bisa di ajak berkompromi. lagi dan lagi ia pun mendesah tak percaya.

__ADS_1


" Alamat rumah." Ucap Pria dingin itu, membuat Lisa mendongak dan menatapnya.


" Alamat rumah." Tanya ulang Lisa, hanya deheman, tanpa menatap Lisa yang tersenyum memandangnya


" Jln. xxxx." Jawab Lisa cepat, dan pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dengan Lisa tersenyum-senyum sendiri


Mencuri pandang wajah pria dingin itu, seperti tidak mempedulikan orang di sampingnya, tetap fokus pada jalanan. Ingin rasanya Lisa mengajaknya berbicara, tapi rasa takut masih ada dan tidak ingin membuat pria itu kembali berhenti di tepi jalan atau melajukan mobilnya dengan kencang.


Memilih berdiam, hingga mobil itu berjalan pelan saat pria itu akan sampai di Rumahya.


" Yang mana?" Tanya Pria dingin itu.


" Pagar kayu coklat." Kata Lisa, dan tepat berhenti di depan rumah Lisa.


" Bunyikan klacsonnya." Perintah Lisa, membuat pria itu mengerutkan kening. Tanpa berpikir panjang Lisa menyambar kemudi dan membunyikan klakson mobil Pria dingin.


Pak Yanto yang mendengar suara klakson mobil ia segera keluar, mencoba melihatnya dan melihat Lisa yang membuka jendela mobil sambil melambaikan tangan.


" Ayo masuk!" Perintah Lisa, meskipun sedikit talut ia berusaha untuk menunjukkannya dan mencoba seperti biasa.


Ayo cepat!!" Perintah Lisa lagi, membuat pria dingin itu membelokkan mobilnya dan masuk ke halaman rumah Lisa.


Rasa kepala sudah pening dan punggung begitu sakit. Tidak sanggup untuk berdebat dengan wanita yang banyak masalahnya.


" Ayo turun!" Ajak Lisa, dengan senyum.


" Turun sebentar, pamalik gak pamitan sama orang tua." Kata Lisa, hingga pria itu mengerutkan kening.


" Tu! ibuku lagi nungguin aku." Ujarnya lagi, menatap ibunya yang menunggunya di depan teras bersama Riski yang sudah sampai rumah terlebih dulu.


" Ayo!!" Seru Lisa, dan sebagai seorang pria dewasa ia pun turun dari mobil bersama dengan Lisa yang menunggunya dan berjalan di belakangnya dengan tatapan yang sit di artikan.


" Ibu?" Sapa Lisa.


" Lisa?" Sapa ibunya dengan senyum dan memeluk putrinya.


" Ibu kok belum tidur!" Tanya Lisa, dan menatap Riski yang ada di belakang, tau akan kode dari bosnya Riski hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu tanda tak tau.


" I bu nung guin Li sa pu lang." Jawabnya.


" Tapi ini sudah malam buk, gak baik buat kesehatan ibu?" Kata Lisa. " Kita masuk ya buk." Ajaknya, ibu Lisa sempat terdiam dan menatap pria yang ada di belakang Lisa.


" Oh!! Kenalin buk ini teman Lisa." Kata Lisa,


Berdiri dari hadapan ibunya dan menggeser tubuhnya ke samping pria dingin itu.

__ADS_1


" Bima." Ucap Pria itu, dan ibu Lisa hanya mengangguk serta tersenyum.


Ohh!! ternyata namanya Bima." Gumam Lisa dalam hati.


" Ma suk du lu nak Bi ma." Ajak ibu Lisa.


" Iya." Jawab Bima dengan sedikit senyum pada ibu Lisa.


" Hei, kenapa sama ibu nurut gitu! cepat sekali maunya." Heran Lisa.


mengerucutkan bibir saat ia tak terima akan perlakuan Bima padanya. Dimana Lisa harus memaksa, mengemis dan juga mendramai akting menangis agar pria di sampingnya mau di ajak ke rumahnya untuk membalas kebaikannya, yang sudah tiga kali menolongnya.


Sungguh pria ini sangat menyebalkan!


" Li sa?" Tegur ibunya, di samping Bima yang melamun dan merucutkan bibir.


" Hmm, Iya buk?" Jawabnya, menghampiri ibunya dan berganti alih mendorong kursi roda dari tangan Riski.


Mengikuti dari belakang masuk ke dalam rumah dan menyuruh Bima duduk di ruang tamu.


" Nak Bi ma su dah ma kan?" Tanya ibu Lisa.


" Sudah." Jawab Bima.


" Ibu sudah makan? Sudah minum obat? " Tanya Lisa.


" Su dah." Jawabnya.


" Lisa antar ke kamar ya, ibu harus istirahat."


" Bi ar Ris ki yang antar kan i bu ke ka mar.." Larang ibu Lisa. " I bu ting gal du lu nak Bi ma." Pamit ibu Lisa.


" Iya." Jawab Bima.


Membuat Lisa menggelengkan kepala. Pria itu benar-benar irit bicara, tapi manis menjawab ucapan ibunya. Tidak seperti dirinya, pria itu selalu ketus jika menjawab ucapannya dan terkadang tidak menjawab ucapannya sama sekali.


Sangat berbeda sembilan puluh sembilan persen.!


Menatap kepergian ibunya, menuju kamarnya dan kembali menatap Bima yang datar kembali.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2