
...Aku tidak tau harus merasa senang atau sebaliknya. Karna kamu pasti tau, kita sudah sudah lama berpisah....
.
.
.
.
Menepati janji pada ibunya, mengantarnya ke makan bapak. Memilih berjalan kaki dengan pelan. Di temani suster Santi yang mendorong kursi roda karna takut ibu kelelahan. Makam bapak Lisa sedikit jauh dari rumah, ia pun tidak masalah. Karna ibu juga ingin menyapa para tetangga kampung dan juga menikmati sorenya hari di kampung halamannya yang sudah sedikit ada perubahan.
Saling menyapa, ada yang menanya kabar dan berhenti untuk saling mengobrol sebentar. Hingga melanjutkan kembali perjalanan.
Makam Bapak Lisa sangat terawat, batu Nisan berwarna hitam mengelilingi tanah merah. terpampang jelas nama bapak, tanggal dan lahir kematian.
Anak dan ibu, duduk di samping makam kepala keluarga. Mengusap batu nisan dan mulai terurai air mata. Dua tahun lamanya, Lisa dan ibu tidak mengunjungi makam bapak, meskipun begitu Lisa tetap mengirim doa untuk bapak tercintanya.
Bukan tidak sayang, karna tidak mengunjungi makam bapaknya. Tapi memang dirinya dulu sangat fokus dengan kesembuhan ibu dan juga kerja banting tulang untuk biaya ibunya.
" Pak? ibu datang pak." Ucap ibu Lisa, terdengar parau di telinga Lisa. Tidak sanggup lagi rasanya untuk menahan air mata, Lisa pun turut menangis dalam diam, air mata mengalir begitu saja tanpa bisa di bendung.
" Bapak bagaimana kabarnya, bapak sehat kan di sana. Bapak baik-baik sajakan. Ibu kangen pak?" Ujarnya lagi, bergetar tubuh ibu Lisa, tangisan begitu pecah mengungkapkan kerinduan pada mendiang suaminya.
Lisa mengusap punggung ibunya, mencoba memberikan kekuatan dan ketenangan untuk ibunya agar tidak menangis begitu dalam. Lidah terasa keluh untuk mengungkapkan sesuatu pada ibu dan mengucapkan sapaan di makam bapaknya. Hanya bisa menyapa lewat hati dan tatapan cinta di batu nisan nama bapaknya.
Sungguh bibir ini sulit sekali berbicara secara langsung, ia hanya bisa berbicara sendiri sambil melihat bulan. Itulah yang di lakukan sejak dulu, saat di tinggal pergi bapak selama-lamanya.
Bukan hanya Lisa saja yang menangis, tapi suster Santi yang melihat dan mendengar Ibu Lisa mengungkapkan isi hatinya. Turut ikut meneteskan air mata, mengusapnya beberapa kali hingga hidung memerah.
" Apa bapak tidak kangen sama ibu, apa bapak tidak ingin bersama ibu."
" Buk?!" Tegur Lisa, untuk tidak membahas masa lalu yang pastinya sangat sulit di lupakan oleh ibunya.
__ADS_1
Menghapus air mata, menatap putrinya mengulas senyum dan juga mengusap pipi Lisa.
" Lihatlah pak, putri bapak sekarang sudah dewasa, mandiri, sudah punya usaha sendiri dan juga sukses pak? Ibu bangga pak dengan putri kita, ibu bangga. Dan Ibu tidak khawatir lagi pak. Ibu sudah siap." Ujarnya.
" Ibu ngomong apa! Ibu gak boleh bilang seperti itu!" Tegur Lisa, seakan takut dengan maksud dan juga mengerti ucapan ibunya.
Lisa tidak bisa membayangkan itu, dirinya tidak ingin itu terjadi. Tidak ingin, dan tidak akan ingin. Cukup dan sudah hanya satu saja ia kehilangan orang tercintanya, tidak ingin lagi dan jangan lagi.
" Ibu hanya ingin bersama bapak." Lirih Ibu.
" Tapi Lisa ingin bersama ibu." Tukas Lisa, membuat ibunya tersenyum dan mengusap air mata putrinya.
" Ibu masih bersama Lisa, akan tetap bersama Lisa, di sini. Sama seperti bapak yang ada di sini." Ujar Ibu, Menunjuk dada Lisa. " Tidak akan pernah terganti." Imbuhnya, membuat Lisa semakin menangis dan memeluk ibunya.
Suster Santi menangis tersedu-sedu, mendengar semua percakapan ibu dan anak.
Tidak sanggup rasanya, membayangkan saja sudah membuatnya takut apa lagi kenyataan. Bagaimana kehidupannya Lisa nanti. Apa dia sanggup menerima atau malah akan menyalahkan penciptanya, atas ketidak adilan bagi hidupnya.
Meskipun Lisa tak pernah menunjukkan kesedihan pada penghuni rumah, tapi suster Santi bisa melihat dari raut senyuman paksa.
Selesai berdoa di makam bapak, Lisa, ibu dan suster santi mulai beranjak pergi dari makam dengan mata sedikit sembab dan juga hati yang terasa sedih. Tapi masih bisa untuk tersenyum, meskipun sedikit di paksa.
Memasuki perkarangan rumah, Lisa sedikit mengerutkan kening melihat sosok pria duduk di kursi teras. Hingga mata membulat saat melihat pria itu berdiri tegap dengan senyum mengembang.
****
" Loe dari mana saja! Semalam ngilang gak kasih kabar." Gerutu Doni, duduk di mini bar bersama dua temannya.
" Semalam gue ke luar kota." Jawab Max.
" Ngapain ke luar kota!"
" Gantiin bos, di acara pesta perusahaan." Jawabnya, sambil meneguk wiski dari bartander. Sedangkan bosnya hanya diam sambil meminum kopi hitam hangat, duduk di sofa sambil melihat laptop.
__ADS_1
" Loe gak ngajak gue!!"
" Ribet ngajak loe, bukan cepat selesai malah menambah acara saja!! Sindir Max, malas mengajak Doni ke acara pesta perusahaan di cabang luar kota.
Pernah Doni ikut beberapa kali dengannya, membuat dirinya geram dan malu dengan tingkah laku Doni. Yang suka meminta nomer ponsel karyawan Bima, dan mengajaknya berkenalan. Sangat memalukan, tidak ada wibawanya sekali di hadapan wanita.
Mungkin karna lama menjomblo, dan juga tidak pernah merasakan berpacaran. Ia sampai rela menjadi pria ganjen, tebar pesona untuk memikat hati wanita.
Bukan mendapatkan, justru membuat wanita risih dengannya.
" Tega loe sama gue! Gue di sini tersiksa, ngerjain laporan bos sendirian semalam." Gerutu Doni, mengingat semalam dirinya harus begadang karna mendapat pekerjaan dari Bima. Yang mungkin itu adalah hukuman karena sudah membuat bosnya sedikut geram.
Tak apalah dirinya di siksa semalaman mengerjakan laporan pekerjaan, dari pada dirinya harus di mutasi ke desa terpencil jauh dari perkotaan atau penurunan jabatan. Sungguh memalukan.
" Loe dapat salam Bim dari pak Yoga." Ucap Max pada Bima. " Putra pak Yoga baru lulus kuliah di inggris."
" Wow keren!!" Sahut Doni cepat, Bima yang mendapat salam dari pak Yoga, kini teringat dengan cabang perusahaannya di kota xx. Kota di mana Lisa pulang kampung.
" Suruh orang ajarkan dia terlebih dulu, sebelum menempati posisi kerja." Perintah Bima, membuat Max menganggukkan kepala.
Ya sebagai balas terima kasihnya pada pak Yoga yang sudah mengabdi lama padanya, Bima tidak menseleksi putra pak Yoga. Bima justru langsung menerima putra pak yoga bekerja di perusahaannya tanpa syarat apapun dan menempatkan putra pak Yoga di posisi yang pastinya sama dengan Doni dan Max.
Meskipun Bima tidak tau wajah putra pak Yoga, tapi dirinya pasti percaya akan kemampuan putra pak Yoga, yang sama pintarnya dengan orangtuanya dan bisa di percaya akan kemampuan serta kejujurannya.
Dan ada satu yang membuat dirinya senang sekarang. Ia akan bertemu dengan Lisa kembali.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Maaf update terlambat.🙏🙏