
...Sesingkat itu kita berkenalan, dan aku mulai nyaman dengan kamu....
.
.
.
.
Mendudukkan Lisa di sofa ruang tamu, dengan dirinya yang juga ikut duduk di sampingnya.
" Makasih." Ucap Lisa, mengangkat kaki yang terkilir dan meluruskannya
Meringis kesakitan saat merasakan nyeri dan sedikit sulit untuk di gerakkan. Bima bisa merasakan itu saat melihat Lisa kesakitan, hanya bisa melihat tanpa membantu lebih.
" Tuan?" Sapa istri penjaga villa, membawa kantong plastik dan di serahkan pada Bima.
" Terima kasih bik." Ucap Bima, menaruhnya di atas meja.
" Makan siang sudah saya siapkan Tuan."
" Iya." Jawabnya. " Apa Bibik bisa memijat kaki terkilir." Tanya Bima, membuat bibik mengerutkan kening.
" Dia tergelincir di sungai." Tunjuknya pada Lisa, dan memperlihatkn pergelangan kaki yang merah.
" Nona terjatuh!" Khawatir Bibik, untuk pertama kali Tuannya membawa seorang wanita. Yang dirinya kira Lisa adalah kekasih Bima, dan membuat dirinya senang saat kekasih Bima begitu ramah dan sopan padanya.
" Iya bik." Jawab Lisa, sudah berkenalan dengan istri penjaga villa waktu dirinya akan ke kamar mandi dan melihat Bibik sedang memasak di dapur. Menyapanya, mengajak kenalan dan sedikit mengobrol hingga dirinya berpamitan pergi ke kamar mandi.
" Kenapa bisa sampai terjatuh Non?" Tanya bibik, membuat Bima mengerutkan kening mendengar kekhawatiran Artnya pada Lisa dan seperti akrab saja.
" batunya licin bik?" Ucap Lisa, membuat bibik mendekat dan melihat kaki Lisa yang memang memerah dan sedikit membengkak.
" Saya tidak bisa memijat kaki terkilir, tapi di dekat sini ada tukang urut." Kata Bibik.
" Kalau begitu tolong panggilkan, dan bawa orang itu kemari." Perintah Bima, membuat bibik mengangguk dan pergi untuk memanggil tukang urut.
" Ini." Mengulurkan kantong plastik yang ada di meja pada Lisa, menerimanya dengan alisa mengerut.
" Apa ini?" Penasaran dan membukanya, sedikut terkejut saat melihat dan menatap Bina dengan tajam.
__ADS_1
" Saya hanya menyuruh bibik." Jawab Bima santai.
" Bagaimana kamu bisa tau!"
" Tau apanya!" Tanya kembali Bima, belum paham apa yang di bicarakan Lisa.
" Ukurannya!" Malu Lisa tertutup dengan rasa dongkol.
" Kan ukuran kamu kecil." Jawab Bima, membuat mata Lisa melotot sempurna.
" Kamu ngintip aku di kamar mandi!!" Teriak Lisa dan melempar bantal sofa ke arah Bima dan dengan cepat ia menangkisnya.
" Buat apa saya mengintip kamu di kamar mandi!" Jawab Bima, tidak terima akan tuduhan Lisa dan masih belum sadar apa yang di katakan Lisa.
" Terus! Kenapa kamu belikan aku pakaian dalam." Ketus Lisa, membuat Bima melebarkan mata dan Lisa memalingkan wajah karna malu akan ucapannya.
" Mana saya tau! Kan bibik yang belikan bukan saya." jawab Bima, mengangkat bahu sebagai tanda memang dirinya tak tau.
Hanya menyuruh bibik untuk membelikan pakaian wanita, tapi dirinya tak tau jika bibiknya juga membelikan pakaian dalam satu set untuk wanita di hadapannya. Yang membuat dirinya di tuduh oleh Lisa dan juga mendapatkan lemparan bantal.
Mengendus kesal, antara malu dan juga sebal. Tapi dirinya juga harus berterima kasih. Jika sudah di belikan pakaian luar dan dalam, hingga begitu dirinya bisa berganti pakaian yang sudah basah.
" Makasih." Lirih Lisa.
" Mau kemana?" Tanya Bima, ikut berdiri dan memegang tubuh Lisa yang sedikit oleng.
" Mau ke kamar mandi." Ucap Lisa, dan tanpa menunggu Bima pun menggendong Lisa hingga Lisa terkejut dan mengalungkan tangannya cepat ke leher Bima.
" Biar cepat sampai kamar mandi!" Kata Bima sebelum Lisa akan memakinya, dan berjalan ke arah kamar di lantai bawah, membawa Lisa di depan kamar mandi dan menurunkannya dengan hati-hati.
" Makasih. Cepat keluar sana!" Usir Lisa.
" Enggak mau di bantu."
" Enggak!!" Sahut cepat Lisa, sambil melototkan mata ke arah Bima. Yang menahan senyum saat melihat wajah Lisa memerah.
Dirinya pun keluar kamar, dan merasa lega saat pria itu telah pergi dari hadapannya.
"Jantungku lama-lama enggak aman dekat sama dia." Gumam Lisa, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
****
__ADS_1
" Aduh!! Sakit buk! Sakit!" Teriak Lisa, menangis kesakitan saat kakinya di pijat oleh tukang urut.
" Jangan bergerak-gerak mbak! Nanti tambah sakit." Ucap tukang urut.
" Tapi ini sakit buk!" Kata Lisa, tak kuat menahan sakit saat di pijat tukang urut. Untuk pertama kalinya Lisa merasakan pijat dan urut.
Bima yang merasa kasian pun mendekat duduk di samping Lisa dan membuat Lisa memeluk kuat lengan Bima, menyandarkan kepalanya dan menahan tangis serta jeritan kala tukang urut masih membenarkan kakinya yang keseleo.
" Tahan sebentar." Lirih Bima, menyentuh tangan Lisa untuk menenangkannya, tidak menjawab hanya mengangguk dan menggigit bibirnya untuk menahan sakit.
Entah memang di sengaja atau tidak, Artnya membelikan drass selutut yang bisa membuat Lisa tak kesusahan dan bisa di urut tanpa harus memakai sarung penjaga villa.
Tapi itu sungguh membuat Bima tidak nyaman, memalingkan wajahnya dari kaki Lisa dan paha yang terbuka setengah saat ia tidak sengaja melihatnya sekilas.
Bibik yang tau akan Tuannya, membuang muka saat tidak sengaja melihat paha Lisa terbuka, bibik pun menutupinya dengan selimut agar tidak terlihat oleh Tuannya. Tuannya, adalah tipikal orang yang bukan seperti para pria hidung belang, walaupun dirinya seorang pemabuk.
Melihat wanita mulus dan ****, para hidung belang terpesona dan menggodanya hingga mengajaknya untuk berkencan semalam. Berbeda dengan Bima, justru Tuannya tidak tergoda dan terpengaruh oleh wanita ****. Sadis, Tuannya malah mengusir dan menatapnya tajam wanita yang menggodanya. Karna bibik pernah melihatnya waktu itu. Hingga membuatnya tertawa.
Dan ini pertama kali Tuannya bersikap lembut serta tersenyum, membuat dirinya yakin jika Bima berubah karna wanita di sampingnya.
Hingga tukang urut selesai memijat kakinya, dan pergi dari kamar Lisa bersama istri penjaga, meninggalkan Bima dan Lisa, dengan Lisa yang masih memeluk lengan Bima.
" Kamu ingin seperti ini terus!" Kata Bima, membuat Lisa menatapnya dan melihat sekeliling yang sudah tidak ada tukang urut dan Bibik.
Melepaskan tangannya di lengan Bima, mengusap mata yang sedikit bengkak dan mencoba menggerakkan perlahan kaki yang sudah di urut.
Memang sedikit sakit, tapi tidak separah saat tadi ia terjatuh dan belum di urut. Rasanya ia lega, dan senang jika kakinya tidak sampai terluka serius.
" Minumlah?" Ucap Bima, mengulurkan gelas untuk Lisa dan Lisa meminumnya dengan tandas. Mungkin merasa haus karna tenggorokannya yang kering akibat menangis.
" Makasih." Ucap Lisa.
" Telpon ibu kamu, bilang kita akan pulang besok." Perintah Bima,
" Iya." jawab Lisa sambil menganggukkan kepala.
" Istirahatlah, biar bibik nanti membawa makan malam kamu ke kamar." Kata Bima, berdiri dari duduknya menatap Lisa dengan senyum, membuat Lisa juga ikut senyum dan mengangguk.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃