Nona Lisa

Nona Lisa
menemaninya


__ADS_3

...Sebuah rasa yang tak bisa di ungkapkan, tapi bisa dengan perbuatan....


.


.


.


.


Bima selalu setia menemani Lisa sampai satu pekan, di rumah duka yang masih menyimuti kesedihan mendalam. satu minggu pun Bima tidak masuk ke kantor dan pekerjaannya ia kerjakan di rumah Lisa, sampai meeting pun ia harus lewat zoom. Karna dirinya tak ingin meninggalkan Lisa.


Sebagai seorang pria sejati, Bima datang dan meminta izin ketua rt Lisa untuk menginap di rumah tunangannya. Ya, dirinya harus berbohong dan memberi sedikit sogokan pada Rt Lisa agar mau memberikan izin dan tidak membuat para tetangga bergaduh di rumah Lisa lantaran ada seorang pria menginap di rumah Lisa.


Berbohong demi kebaikan tidak masalah, mengaku sebagai tunangan Lisa dan sebentar lagi akan menikah dengannya. Tampang Bima bisa membuat semua orang percaya, karna ketampanan dan juga prilaku bertanggung jawab. Dari prosesi pemakaman, hari selamatan pertama hingga tujuh hari ibu Lisa, Bima yang memenuhi kebutuhannya semua. Tidak sepersenpun Bima meminta pada Lisa.


Dan bukan hanya Bima saja yang tidur di rumah Lisa, melainkan ada angga dan suster santi yang juga ada di rumah. Hingga itu tidak akan ada timbul fitnah, meskipun mereka sudah tau akan status Bima yang menjadi tunangan Lisa.


Bima mau tau akan tata krama di kampung, hingga itu ia meminta Angga untuk menemaninya. Ataupun tetangga Lisa untuk menjadi saksi, jika mereka tidak akan berbuat zina.


Duduk bersama dengan para tetangga Lisa, menceritakan tentang mendiang ayah dan ibu Lisa. Yang ternyata ke dua orang tua Lisa ramah, sering beramal dan juga sering membantu.


Di mata para tetangga orang tua Lisa sangatlah baik. tak pernah membuat masalah dan tidak pernah sama sekali mendengar orang tua Lisa menjelek-jelekkan tetangga. Itulah kenapa, para tetangga suka dengan keluarga Lisa, hingga sekarang. meskipun sudah tidak tinggal di kampung, keluarga Lisa tetap selalu menjadi donatur di salah satu panti tak jauh dari kampungnya. Dan entah kenapa para tetangga bisa tau akan hal itu.


Malam semakin gelap, para tetangga memutuskan pulang. Berterima kasih pada Bima yang selalu memberikan sajian dan juga bingkisan buah tangan pada mereka yang mengajaknya begadang. Ya walaupun Bima jarang sekali berbicara, dan hanya mendengar serta menjawab saat di tanya.


Masuk ke dalam rumah bersama Angga, dengan Angga yang langsung berjalan ke kamar Lisa, kala dirinya merasa mengantuk dan lelah akibat di ajak begadang oleh para tetangga Lisa dan juga Bima.


Ingin rasanya menolak, tapi melihat tatapan Bima ia pun menciut dan terpaksa ikut. Benar-benar menyebalkan.


Bima yang juga akan masuk ke dalam kamar Lisa itu, berhenti dan melihat suster santi membawa nampan makanan keluar dari kamar ibu Lisa dan melihat makanan yang tak tersentuh.

__ADS_1


" Apa Lisa tidak makan?" Tanya Bima, memhuat suster Santi sedikit terkejut menatapnya.


" Mbak Lisa, tidak mau makan pak." Lirih Suster Santi dengan menundukkan kepala.


" Biar saya coba untuk membujuknya makan." Pinta Bima, Suster Santi menyerahkan nampannya pada Bima dan meninggalkan Bima yang akan masuk ke dalam kamar Lisa.


Masuk ke dalam kamar, dan membiarkan pintu kamar terbuka sedikit. menaruh nampan di atas meja dan duduk di samping Lisa yang meringkuk membelakanginya.


" Kamu tidak mau bangun?" Ucap Bima, membuat Lisa membuka mata tanpa melihatnya.


" Aku tidak mau makan." Lirih Lisa tau akan kehadiran Bima yang mungkin akan membujuknya makan.


" Kenapa?" Tanya Bima, masih menatap punggung Lisa yang membelakanginya.


" Aku tidak lapar." Jawabnya dengan suara yang mulai serak.


menyentuh lengan Lisa dan membalikkan badannya untuk menatap dirinya. Hingga melihat wajah Lisa dengan mata yang setiap hari begitu sembab.


" Jangan menangis?" Ucap Bima, menghapus air mata Lisa. dan Lisa mulai duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.


" Kamu masih belum iklas." Tanya Bima, kembali menyeka air mata Lisa.


" Aku sudah mencoba iklhas, tapi hati ini sangat sulit." Jawabnya dengan Lirih. "Jika waktu bisa di putar kembali, aku gak akan pulang dan menuruti kemaun ibu. Biarkan aku menjadi putri durhaka, asal tidak kehilangan ibu." Ujarnya lagi.


mengingat bagaimana ibunya berusaha keras untuk sembuh agar bisa pulang ke kampung halamannya, serta tak sabar untuk berkunjung ke makam bapak. Dan kesembuhan ibu hanyalah sesaat, kala kini dirinya tau apa maksud ibu untuk sembuh.


Untuk meninggalkannya sendiri dan memilih bersama dengan ayahnya.


" Aku tau iklhas itu sulit, tapi berusahalah. Demi ibu dan bapak kamu, biar mereka tenang." Kata Bima, membuat Lisa semakin menangis hingga Bima memeluknya untuk kesekian kali.


Bima tau bagaimana rasanya kehilangan, bagaimana rasanya sendiri dan bagaimana ia menjalani pahitnya hidup tanpa keluarga.

__ADS_1


Tak ada kasih sayang di usianya yang masih menginjak belasan tahun. Ayah di penjara, dan ibu meninggal akibat sakit yang di deritanya demi menyambung hidup mereka dulu, kala suaminya mendekam. entah kapan akan di bebaskan.


Sungguh, pilu kehidupan Bima. Berkat kepintaran dan kegigihannya untuk bertahan hidup, ia bekerja keras dan belajar untuk mendapatkan beasiswa. Hingga sekolah ia tak pernah membayar dan selalu mengharumkan nama sekolahnya.


Mempunyai teman, Bima jarang sekali bergaul dengan teman. Bukan sombong, hanya saja waktunya ia habiskan dengan bekerja, bekerja bekerja. Dan kadang menjenguk ayahnya di penjara.


Tak malu dengan status ayahnya sebagai napi. Karna dirinya tau yang sesungguhnya, jika ayahnya di jebak. sebagai orang kecil, mereka selalu di tindas dan tidak ada keadilan bagi orang-orang miskin untuk menyuarakan suaranya.


Memilukan.


Menutup mata, kala mengingat itu. Mencoba meredam emosi saat ia tak ingin lagi mengingat masa lalunya. Mencium puncak kepala Lisa untuk memberinya ketenangan, hanya itu yang bisa Bima lakukan.


Melepas pelukannya, mengusap pipi Lisa dengan ke dua tangannya. Dan tersenyum hangat terpancar di bibir Bima.


" Kita makan ya." Ajak Bima.


" Kamu belum makan." Tanya Lisa, terasa mata sangat berat sekali untuk di buka.


" Sudah tadi, tapi aku lapar kembali." Jawab Bima, dan sukses membuat Lisa sedikit tersenyum, mengangguk dan mulai makan bersama dengan Bima. dengan Bima yang menyuapinya, Bima benar-benar pria perhatian dan sabar.


Makan berdua dalam satu piring, sedikit memaksa meskipun Lisa sudah tak ingin lagi makan.


" Sudah malam, sekarang tidurlah." Ucap Bima, yang akan berdiri dari duduknya tapi di tahan oleh Lisa, membuat dirinya kembali duduk dan mematap Lisa.


" Tolong, temani aku malam ini?" Pinta Lisa, begitu lirih dan takut.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2