Nona Lisa

Nona Lisa
Dia lagi


__ADS_3

...Hanya mengingat, bukan dendam. Dan biarkan mereka tau, hingga mereka terdiam sendiri karna malu....


.


.


.


.


Aktivitas yang padat, tak membuat Lisa lelah dan juga mengeluh dengan semua yang telah Tuhan berikan padanya.


Nikmat yang selalu mengalir dan selalu ada rejeki, tak lupa ia sumbangkan sebagian dari hasil kerja setiap bulannya pada fakir miskin. dan juga panti asuhan yang setiap bulan dirinya selalu memberi donatur begitu cukup pada anak-anak panti yang tak akan kelaparan dan mengemis di jalanan, meminta sumbangan pada para pengendara.


Awal bulan, dimana ia sudah memberi waktunya untuk selalu datang ke panti membawa mobil boxnya yang berisi beberapa karung beras, beberapa kebutuhan pokok yang pastinya sangat cukup dan tak akan kurang lagi dalam satu bulan penuh.


Selalu di antar dengan Riski, dan dua karyawan pria untuk menurunkan barang belanjaannya ke dalam panti.


Suara riuk para anak panti menyapanya, membuat dirinya senang di sambut hangat oleh anak yatim dan piatu.


" Mbak Lisa!!" Seru anak-anak panti, berlari menghampirinya dan memeluknya bersamaan.


" Eh!!" Pekik Lisa dengan tawa, merasa senang jika sudah kerumuni dengan mereka.


" sudah-sudah! Mbak Lisa nanti gak bisa nafas loh." Kata bu panti, menggelengkan kepala melihat mereka selalu senang dengan kehadiran Lisa.


" Maaf ya, Mbak Lisa gak bisa lama di sini, ada pekerjaan di gudang." Ucap Lisa, membuat anak panti terlihat murung.


" Mbak Lisa janji, minggu besok mbak akan ke sini." Ujarnya lagi, berusaha untuk tidak membuat anak panti kecewa saat dirinya benar-benar sibuk dengan urusan gudang.


" Janji?" Ucap anak perempuan.


" Mbak janji?" Jawabnya, mengacak rambut anak perempuan dengan gemas.


" Mbak Lisa, sama mas-mas bawa jajan banyak. sana makan?" tunjuk Lisa dengan kantong plastik berisi cemilan yang banyak, membuat mereka senang dan mengangguk serta berlari untuk memgambil cemilan yang di beli Lisa.


" Jangan berebut!!" Ucap Bu Panti. " Ayo berbaris, biar mbak chika yang bagi!" Ujarnya lagi, menunjung gadis remaja untuk membagikan makanan pada teman-temannya.


Memperhatikan sekilas anak-anak panti berbaris untuk mendapatkan jajanan yang dirinya bawa. Seulas senyum menghiasi bibirnya, tak ada yang lebih indah selain berbagi dan juga melihat senyuman anak panti. Karena dirinya sama seperti mereka, hanya saja dirinya masih beruntung.


" Kalau gitu saya pamit pulang ya buk." Pamit Lisa.


" Makasih ya nak Lisa, semoga Allah selalu melancarkan rejeki nak Lisa." Doa bu panti, mengusap lengan Lisa.

__ADS_1


" Amin." Jawabnya dengan senyum. Berjalan beriringan menuju keluar halaman dan melambaikan tangan kala dirinya sudah berada di mobil dengam Riski yang mengemudikannya.


" Kemana lagi mbak?" Tanya Riski.


" Ke toko xxx saja dulu Ki." Kata Lisa, membuat Riski mengangguk. Di saat setiap awal bulan Lisa selalu keliling toko untuk melihat tokonya dan juga membagikan gajian para karyawan yang pastinya tak sabar untuk menerimanya.


Tidak ada kata telat, atau mengulur gajian karyawannya. Karena Lisa tau mereka sangat membutuhkannya dan sangat senang akan awal bulan yang selalu di tunggu.


Sambutan hangat dan senyum lebar dari para pegawai melihat kehadiran Lisa dan Riski. Begitu antusias dan bekerja semangat serta menyapa bosnya.


" Senangnya! mau gajian." Goda Riski pada pegawai Lisa.


" Iya lah! tenang bisa bayar cicilan motor, sebelum di tagih." Jawab pegawai Lisa, membuat Riski tertawa dan ikut masuk ke dalam ruangan Lisa.


" Mbak kasir mana?" Tanya Lisa.


" Lagi ngasirin orang mbak." Jawab Riski dan di anggukkan Lisa.


Tidak begitu lama, kasir serta Kepercayaannya datang, memberikan data karyawan untuk mendapatkan gaji. Menghitung jumlah, dan memberinya pada kasir untuk dia yang membagikannya.


Lisa, benar-benar seperti bos yang membayar orang pekerja di tokonya. Dan dirinya mengatur segala keuangan dengan baik, di bantu Riski kepercayaannya.


Keliling ke beberapa tokonya hingga larut malam, Melihat tenda warung pecel lele membuat dirinya lapar dan berhentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Makan di sini saja?" Jawab Lisa, di anggukkan Riski. Dan mereka mulai turun bersama menuju warung makan di sebrang jalan. Sambil Lisa mengangkat telpon dari rumah.


Saat akan menyebrang, ada pesepeda motor mengendarai begitu pelan dengan sekejab membuat Lisa terkejut saat ponsel yang ada di tangannya lenyap di ambil pencuri yang mengendarai motor dan melaju dengan cepat.


" Jambret!!" Teriak Lisa bersamaan dengan Riski. Lisa dan Riski berlari mengejar pemotor sambil berteriak jambret hingga para pengendara berusaha untuk mengejar maling yang masih melihatnya.


Mobil Hitam yang berada tak jauh dari kejadian melihat dari spion dengan cepat menghadang maling hingga membuat pengendara maling itu terjatuh.


Dua Maling yang terjatuh dengan cepat berdiri dan akan berlari tapi tehadang oleh beberapa pengendara motor yang turun dan mulai mengeroyok dua maling itu.


Lisa dan Riski, yang mengejar begitu jauh sempat terengah-engah, keringat menyucuri semua tubuh dan wajahnya. Dan melihat para orang yang mengeroyok dua maling itu segera menghampirinya dan mencoba melerai mereka.


" Sudah Mas, pak! Sudah!!" Ucap Lisa melerai para warga yang mengeroyok dua maling yang meringkuh dan babak belur.


" Stop!!" Ucap Riski, yang juga ikut melerai. Tapi sayang warga yang sudah emosi sulit untuk di hentikan dan selalu main hakim sendiri.


Lisa yang begitu kasihan melihat dua maling yang sudah tak berdaya dan mengeluarkan darah begitu banyak di wajahnya, mau tak mau ia pun menerobos ke dalam kerumunan dan mencoba menghalangi para warga.


Satu orang yang masih terbawa emosi berusaha untuk mencoba memukul maling dengan helm dan Lisa yang mengetahuinya berusaha menghalanginya dengan berjongkok.

__ADS_1


"Mbak Lisa!!" Teriak Riski.


Buukkk


Suara pukulan begitu keras di telinganya, tapi tak membuat dirinya sakit. Hingga dirinya berbalik kebelakang serta melihat orang yang ternyata melindungi dirinya.


" Kamu?" Lirih Lisa, terkejut pria itu lagi yang menolongnya.


Dunia seakan sempit.


Dirinya bertemu kembali dengan pria dingin, dan sudah ke tiga kalinya dirinya di tolong serta di lindungi oleh pria yang ada di hadapannya.


Meringis kesakitan, rahang mengeras serta wajah memerah. Pria dingin itu berbalik dan menatap tajam pria yang sudah memukulnya.


" Maaf Mas." Lirih orang itu, mulai sedikit takut dengan tatapan pria dingin yang terkena pukulannya.


" Pergi! Jika kamu tidak ingin saya pukul." Ucap Pria dingin, menatapnya dengan tajam hingga orang itu pergi dari hadapannya dengan cepat.


Warga yang melihat sedikit mulai tenang, dan ada sebagian mulai membubarkan diri dan sebagian lagi memindahkan dua maling terkapar tak berdaya ke tempat yang lebih aman, menunggu polisi untuk datang.


" Mbak Lisa?" Ucap Riski, menghampirinya dengan wajah cemas dan takut jika Lisa kenapa-kenapa.


Masih menatap punggung pria dingin itu hingga dirinya mulai tersadar saat pria itu pergi dari hadapannya.


" Urus dua maling itu Ki!" Perintah Lisa, dan pergi menyusul pria dingin yang berjalan menuju ke mobilnya.


.


.


.


.πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Yeeeii tebakan kalian benar sekali sih!!😞 Masih ingat bang Bima saja.πŸ˜€πŸ˜€ tapi makasih lho kalian setia banget dengan bang Bima, love buat kalian😘😘


Nich aku kasih visual bang Bima buat kalian.




__ADS_1


Cakep gak visualnya bang Bim.πŸ˜€πŸ˜€


__ADS_2