
...Di saat cinta, kita juga akan merasakan. Sedih dan senang akan menjadi satu....
.
.
.
.
Mengerutkan kening dengan mata yang terpejam. Rasa sakit di kepala sungguh sangat sulit membuatnya membuka mata. Memijat pelipis dan mencoba membuka mata perlahan.
Kamar terlihat terang dengan cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Perlahan bangkit dari tidur dan bersandar di ranjang besarnya.
Akibat meminum wine begitu banyak, membuat kepalanya terasa sangat pusing dan terbangun dari tidurnya begitu siang.
" Kamu sudah bangun?" Sapa dari ambang pintu, membuat Bima mendongakkan kepala dan menatap wanita yang berjalan membawa nampan berisi makanan ke arahnya.
" Lisa?" Lirih Bima, membuat Lisa tersenyum dan duduk di tepi ranjang menghadapnya.
" Minum ini dulu." Perintah Lisa, memberikan segelas air lemon hangat pada Bima. " Biar pusing kamu hilang, dan tidak mual." Imbuhnya, Bima menerimanya dan meneguknya sampai setengah gelas. Menaruhnya kembali di atas laci.
" Makasih." Ucap Bima, membuat Lisa mengangguk dan tersenyum.
" Mau makan?" Tanya Lisa.
" Nanti saja." Jawabnya. hanya deheman dan menggangguk yang Lisa jawab.
Kembali terdiam beberapa menit, Bima baru tersadar jika tangannya sudah di perban dan bajunya sudah tergantikan. Tidak seberapa mengingat apa yang terjadi semalam, hanya setengahnya ia mengingat dan dirinya tak sadarkan diri kembali.
" Semalam kamu mabuk, dan tangan kamu terluka." Lirih Lisa.
" Kamu yang mengobati luka ini."
" Hhmm, Pak Agus tidak berani masuk ke dalam kamar kamu. Saat kamu masih dengan keadaan marah." Jawab Lisa. mengingat semalam dirinya datang ke rumah Bima dengan khawatir, kala mendapat telpon dari teman Bima yang mengabarkan jika Bima sedang sakit parah. Dan temannya tidak bisa datang, karna sedang berada di luar kota.
Dan saat dirinya datang, bukan tubuh yang sakit di lihat Lisa, tapi tubuh yang berantakan dan berlumuran darah di kemeja Bima. Bau alkohol, muntahan, racauan dari bibir Bima dan juga air mata yang jatuh membasahi pipi pria itu sangat menyesakkan.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Bima benar-benar menyedihkan. Dan kenapa dia bisa begitu terpuruk. Meluapkan semuanya dengan minum-minuman dan juga menyiksa dirinya sendiri.
" Kamu sering mabuk dan merokok." Tanya Lisa, membuat Bima membisu tidak mau menjawab.
Jika memang benar dirinya pemabuk dan perokok. Tapi tidak mabuk seperti semalam, marah, memecahkan semua barang, melukai dirinya sendiri, hingga tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Dirinya juga tidak tau sejak kapan mabuk dan rokok melekat di dirinya. Tapi, dengan merokok dan mabuk sedikit bisa menghilangkan beban pikirannya.
" Jangan menyakiti dirimu, jangan pernah mabuk dan merokok lagi. Itu tidak baik dengan tubuh kamu nanti." Tutur Lisa, menundukkan kepala seakan takut jika Bima marah dengan tutur katanya.
Menasehati secara bijak di pagi hari, yang tak mungkin pasti akan membuat dia mengerti. Apa lagi dengan keadaan masih setengah sadar dari mabuknya.
" Aku enggak ingin kamu seperti ini Bima." Lirihnya, mulai menitikan air mata saat ia terbayang dengan semalam yang sangat menyedihkan untuk di lihat dan di dengar.
Menyayat hati.
Lisa mendengar semua racauan dari bibir Bima, racauan kesedihan yang mendalam dari seorang anak yang kesepian, terlantarkan dan tidak di harapkan.
Lisa tak tau bagaimana jika itu terjadi pada dirinya, dan membayangkan bagaimana rasanya jika berada di posisi Bima saat ini. Mungkin sama. Hancur, marah, benci dan menangisi dirinya sendiri.
Sesak nafas ini untuk menghirup udara, tidak ada lagi yang bisa untuk di lakukan. Kenyataan pahit, jika memang dia di buang dan tidak ingin orang tuanya melahirkannya.
Menyentuh lengan Lisa, membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Saat ia juga tidak tau kenapa Lisa menangisi dirinya.
Sebegitu harganya kah dirinya pada Lisa.
" Kamu sudah berjanji padaku, untuk menjagaku, untuk melindungiku, untuk tetap bersamaku. Tapi kenapa? Kenapa kamu melukai diri mu sendiri dan ingin meninggalkan aku!" Serak Lisa dalam dekapan Bima. " Kenapa Bim!" Imbuhnya, memeluk erat tubuh Bima tidak ingin pria yang memeluknya itu meninggalkannya.
Seakan Bima itu begitu berarti dalam diriya saat ini. Janji dia pada ibunya, untuk menjaga putrinya. Seakan takut Bima mengingkarinya dan dirinya akan sendiri kembali.
" Aku tidak meninggalkan mu, aku sudah berjanji kan." Jawab Bima, mengusap rambut Lisa dan menciumi puncak kepalanya. Selalu saja kebiasaannya jika memeluk Lisa.
" Aku hanya terbawa emosi." Lirih Bima.
" Kamu tidak ingin berbagi cerita sedih kamu kepadaku Bim." Ucap Lisa, masih dalam pelukan Bima.
Bima hanya diam, kembali menepuk lembut punggung Lisa tanpa mau menjawab.
Belum saatnya.
Bukan tidak mau bercerita, hanya saja Bima tidak bisa untuk menceritakan semuanya. Hatinya saja masih sakit, dan bisa ia akan kembali marah jika mengingatnya lagi.
" Aku tidak memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk bercerita." Ucap Lisa, mendongakkan kepala menatap wajah Bima.
Hanya mengangguk dan tersenyum, serta kembali menatap mata coklat yang menenangkan baginya.
Saling menatap begitu lama, tanpa paksaan dan tanpa bisa berpaling.
Satu ciuman di pagi hari.
Hanya diam, tanpa melawan. tanpa memag*t, tanpa membel*t. Hanya menempel, hingga cukup lama. Dan saling melepaskan dengan mereka saling menunduk.
__ADS_1
" A..ku mau ke dapur." Ucap Lisa gugup, meninggalkan Bima yang tersenyum manis menatap kepergiannya.
Kamu sudah menjadi milikku, selamanya." Gumam Bima dalam hati, beranjak pergi menuju kamar mandi.
Menyandarkan tubuh di dinding, menyentuh dada yang berdegup kencang. Pikiran melayang beberapa saat, kala mengingat beberapa menet dirinya bersama Bima.
Menyentuh bibirnya, membayangkan kembali bagaimana dirinya bisa berciuman dengan Bima.
Ciuman manis.
Tanpa paksaan.
Tanpa marah.
Dan tanpa sadar.
Menggelengkan kepala, ini salah sangat salah. Bagaimana bisa dirinya berciuman dengan Bima. Miskupun hanya saling menempelkan saja, tanpa sesuatu yang lebih.
Bagaimana jika Bima berpikir yang buruk terhadapnya. Wanita murahan, dan gampangan.
Menghembuskan nafas berat, sedikit merasa takut dan jug kecewa dengan dirinya sendiri. Kenapa dirinya tidak bisa menghindar dan memberontak. Kenapa dirinya seperti menikmati ciuman dari Bima.
Ada rasa tersendiri.
Berjalan ke lantai bawah, menuju dapur dan mencoba untuk melupakan kejadian sangat memalukan baginya.
****
" Kenapa kamu memberitahukannya!" Seru Max, pada asisten Bima.
" Tuan Bima memaksa ingin tau pak Max." Jawab Asisten Bima, ada rasa menyesal saat ia memberitahukannya tentang wanita tua itu. Dan apa hubungannya wanita tua itu dengan Bima, hingga Bima melukai dirinya sendiri.
Max hanya bisa menghembuskan nafas panjang, memijat pelipisnya kala dirinya tau akan kenyataan jati diri Bima, yang dirinya selidiki dan juga mengambilkan kesimpulan sendiri.
Menyedihkan.
Dan hanya Max yang tau, semua tentang Bima. Dan rahasia itu akan dirinya simpan, hingga Bima memberitahukannya sendiri padanya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Yuk kak jangan lupa like, vote, dan comen ya. Kalau boleh kasih tips dong kak!!😁😁