
...Tiga kata yang akan aku ucapkan untukmu. Aku cinta kamu....
.
.
.
.
Rasa ingin menghilang dari bumi, dan ingin ia membunuh rasa malu ini, saat berhadapan dengan Bima yang sama-sama saling diam. Tidak berani mengatakan satu kata pun, seakan rasa canggung itu kembali menyeruak dalam diri mereka.
Lisa tidak tau kenapa dirinya begitu ceroboh dan bodoh jika selalu ada di samping pria itu. Sungguh ini bukan seperti dirinya saat berada di tempat kerja. Dirinya tak pernah seceroboh atau sebodoh itu di dalam pekerjaannya maupun ada di hadapan pria lain.
Sangat malu.
Pastinya malu sekali.
Bagaimana tidak malu, ia hampir masuk ke kamar dengan keadaan tubuhnya yang hanya terlilit handuk dengan Bima yang juga bertelanjang dad*, saling menatap dan juga saling membuang muka saat mereka baru tersadar. Sudah terbiasa dirinya seperti itu di rumahnya, jika tidak ada seorang laki-laki. Tapi ini, sangat memalukan. kepergok laki-laki dengan tubuhnya yang hanya memakai handuk.
Bodoh, itu di rumah kampung bukan di rumah kotanya. Yang pastinya kamarnya luas dan terdapat kamar mandi dalam, dan bisa leluasa ia melakukan apapun di dalam kamarnya tanpa rasa malu.Toh, tak akan ada yang melihat!
Lisa mengantarkan Bima pulang ke rumahnya dengan hujan turun sedikit lebat saat berada di jalan dan pastinya Bima yang menyetir mobil. mereka masih saling diam tanpa mengucap satu kata pun.
Memarkirkan mobilnya di gedung berjulang tinggi, dengan Lisa yang mulai menatap gedung itu tanpa berani bertanya.
" Hujan lebat, jangan pulang dulu." Ucap Bima. " Ayo masuk." Ajaknya, membuat Lisa mengangguk dan ikut keluar dari dari mobil.
Memang membenarkan ucapan Bima, malam ini hujan begitu deras tidak mungkin dirinya bisa pulang. Karna pandangannya begitu kabut, dan pastinya akan sulit untuk melihat jalanan atau pastinya akan ada banjir di mana-mana.
Berjalan mengikuti langkah Bima masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka untuk naik ke apartemennya.
Berjalan ke arah lorong, terlihat sangat sepi. Berhenti tepat di depan pintu putih, menekan tombol kunci pasword dan membuka pintu.
" Masuklah?" Ucap Bima, lagi-lagi Lisa hanya mengangguk dan masuk terlebih dulu ke dalam apartemen Bima.
Sedangkan Bima sempat melihat ke belakang, tepat berada di hadapannya, pintu berwarna putih tertutup rapat. Sekilas tersenyum, dan kembali masuk ke dalam apartemennya tanpa rasa yang sulit sekali di artikan.
Masa lalu.
" Ini Apartemen kamu?" Tanya Lisa, melihat-lihat seisi ruangan yang sangat rapi dan bersih tanpa debu. Seperti selalu di bersihkan.
" Iya." Jawab Bima, menaruh tasnya di sofa dan berjalan ke arah dapur, mengambil minuman kaleng di lemari dingin.
" Kamu selalu pulang?" Lisa sangat penasaran, dan melihat Bima mengambil minuman di dalam lemari dingin dengan di dalamnya penuh dengan perlengkapan makanan.
__ADS_1
" Tidak, dan ini baru pertama kalinya aku pulang ke sini." Jawab Bima jujur, meneguk minuman dan berjalan ke arah sofa.
Ini pertama kalinya dia pulang? " Gumam Lisa, mengerutkan kening menatap Bima.
" Sudah berapa lama kamu tidak menginjakkan rumah kamu."
" Tiga Tahun."
" Tiga Tahun!" Pekik Lisa terkejut mendengar jawaban Bima.
Selama itu Bima memang tidak pernah menginjakkan kakinya di apartemennya. Dan ini untuk pertama kali, selama tiga tahun ini, ia baru menginjakkan kakinya di apartemennya. Dan membawa wanita masuk ke apartemennya.
Tiga tahun sangatlah lama, tapi ia masih saja belum bisa melupakan masa lalunya. Semakin melupakan, semakin ia mengingatnya. Tapi, secara perlahan ia bisa melupakan itu, semua ini karna berkat dari wanita yang ada di hadapannya.
" Tiga tahun kamu tidak pulang, kenapa ini bersih sekali."
" Ada pelayan kebersihan yang setiap hari datang membersihkan ini." Jawab Bima, membuat Lisa mengerti dan menganggukkan kepala.
Ya, Bima mempercayakan kepala pelayan kebersihan di kantornya untuk membersikan apartemennya dua hari sekali. Dan saat ia akan pulang, ia menelpon kepala pelayan kebersihan untuk membersihkan dan mengisi bahan makanan di apartemennya.
Berjalan ke arah jendela, membuka gorden dan melihat pemandangan kota yang terguyur hujan begitu sangat lebat dan dirinya begitu terkejut saat melihat kilatan petir dan suara bergelegar di telinganya.
" Ibu!!" Teriak Lisa, berbalik ke belakang memeluk tubuh seseorang dengan erat serta menutup matanya.
" Aku takut!" Lirih Lisa, masih memeluknya begitu erat tanpa mau membuka mata. Hingga dia menarik gorden kembali untuk menutupnya.
Dimana Bima juga ikut berjalan menghampiri Lisa saat ingin menegur wanita itu untuk tidak melihat jendela kala hujan beserta kilatan petir.
Perlahan membuka mata, mendongakkan kepala untuk melihat dia yang ia masih peluk. Sama-sama saling memandang dan dengan cepat Lisa melepaskan pelukan serta mundur kebelakang.
" Maaf." Lirih Lisa. Dan kembali terperanjat mendengar lagi suara petir.
" Ibu!" Lirih Lisa, Entah kenapa dirinya merasa sangat takut mendengar suara petir saat hujan deras seperti ini. Apa lagi saat berada di ketinggian, kaki terasa lemas untuk berjalan, tubuh merasa bergetar dan mata selalu terpejam.
Menarik tangan Lisa untuk menjauh dari jendela. Hingga membawanya duduk di depan tv.
Saat Bima akan pergi, Lisa menahannya dan menggelengkan kepala dengan wajah yang hampir menangis.
" Jangan pergi, aku mohon!" Lirih Lisa, Dan Bima memilih duduk di sisi Lisa yang masih memegang erat tangannya.
Dirinya merasa kasihan melihat wajah Lisa yang terlihat sangat takut dengan suara petir dan sedikit merasa sakit tangan Lisa yang begitu erat menggenggam tangannya.
Mendengar suara ponsel berbunyi, Lisa melepaskan genggamannya dan mencari ponsel di tasnya.
" Mbak Sinta?" Lirih Lisa, dan mengangkat panggilannya.
__ADS_1
" Hallo?"
" Lisa? Apa di situ hujan Lis? " Ucapnya di sebrang sana.
" Ibu? Iya di sini hujan deras, Lisa belum bisa pulang buk." Ucap Lisa.
" Apa Bima adabersama kamu?"
" Ada?" Sambil melirik Bima.
" Ibu ingin bicara dengan nak Bima." Ucap Ibu Lisa.
" Ibu ingin bicara sama kamu." Ucap Lisa, menyerahkan ponselnya pada Bima, Dan Bima mengambilnya.
Kembali terdengar suara petir, membuat Lisa kembali berteriak memanggil nama ibunya dan memeluk lengan Bima.
" Lisa kenapa Nak?" Tanya Ibu Lisa, mendengar suara jeritan putrinya yang memanggilnya.
" Tidak ada apa-apa buk, mungkin Lisa terkejut mendengar suara petir." Ucap Bima.
" Lisa memang takut petir nak Bima? Kalau hujan masih belum reda dan ini sudah malam, jangan biarkan Lisa pulang ya nak." Ucap Ibu Lisa.
" Ibu percaya dengan kamu." Ujarnya lagi.
" Iya Buk." Jawab Bima, sedikit ada rasa salah tidak seharusnya ia mau di antar pulang oleh Lisa dan membuat ibunya khawatir seperti ini.
Dan ibu Lisa sangat percaya padanya, untuk menjaga anaknya.
Mematikan panggilan setelah berbicara pada ibu Lisa, dan dirinya mengerti jika Lisa memang takut dengan suara petir.
" Ibu bilang jangan pulang, menginaplah di sini malam ini." Ucap Bima, membuat Lisa mendongakkan kepala dan melepaskan tangannya yang lagi-lagi memeluk lengan Bima.
" Ibu bilang begitu." Lirih Lisa, tidak percaya kenapa ibunya sangat percaya pada Bima dan memperbolehkan putrinya menginap di rumah seorang pria.
" Iya." Jawab Bima, dan melihat ponselnya untuk membuka email masuk begitu banyak dari asistennya.
Lisa hanya bisa mendesah, membuang nafas berat dan kembali menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Bima. Dan juga ia mencoba mengirim pesan pada suster Santi untuk bertanya tentang ucapan Ibunya pada Bima.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃