Nona Lisa

Nona Lisa
Pesta orang kaya


__ADS_3

...Seharusnya aku senang, tapi justru sebaliknya. Aku tidak suka dan cemburu....


.


.


.


.


Turun dengan anggun dari anak tangga menuju ke ruang tamu, menemui pria yang sedang menunggunya dan membuatnya sedikit gugup dengan penampilannya. Yang pastinnya belum sempurna di matanya.


" Eehhmm." Deheman Lisa, membuat pria itu sedikit mendongakkan kepala, menatap Lisa dengan kagum tapi sulit untuk Lisa artikan tatapan Bima.


Berdiri dari duduknya, menaruh ponselnya ke dalam saku celana. Dan menghampiri Lisa yang menunduk malu karena penampilannya sekarang.


Bahu kulit putih bersih tereskspor, dengan jenjang leher begitu menawan dan rambut yang di sanggul seelegan mungkin. dres panjang berwarna merah sangat cantik dan cocok bagi wanita di hadapannya.


mencondongkan badan, membisikkan sesuatu di telinga Lisa Membuat wanita itu tersenyum malu dan memukul pelan lengannya


" Apa perlu kita ke penghulu malam ini. Kamu sangat cantik."


" Gombal!" Seru Lisa, melipat bibir menahan senyum yang tentu saja sulit untuk di sembunyikan.


" Ayo." Ajak Bima, membuat Lisa tersenyum dan mengangguk.


Dalam perjalanan, duduk berdua di kursi penumpang. Dengan satu sopir dan juga asisten yang ikut mendampingi Bima.


Bima lebih banyak diam, memandang jalanan malam sedikit ramai akan pengendara.


" Ada apa?" tanya Lisa, mengamati wajah Bima seperti ada keraguan dan juga diam seribu bahasa.


" Hmm, tidak ada apa-apa." Jawabnya, dan mengambil tangan Lisa untuk di genggamnya.


" Bim!"


" Biarkan begini." Ujar Bima, seakan ada aliran tenang menggenggam tangan Lisa. Tidak merasa keberatan, hanya saja ia malu jika di lihat asisten dan sopir Bima. Ini pertama kali Bima mengajaknya ke pesta kolagenya, mungkin banyak pengusaha-pengusaha yang datang menghadiri pesta.


" Tangan kamu dingin?" Ucap Bima, jelas tangan Lisa begitu dingin dan sedikit berkeringat.


merasakan bagaimana Lisa sangat gugup akan menghadiri pesta undangan yang bukan dirinya kenal dan juga pastinya sangat berbeda dengan kalangan Lisa.


" Jangan gugup, ada aku di sini." Ujar Bima, menenangkan Lisa membuat Lisa tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Hotel berbintang lima, karpet merah di gelar sepanjang jalan masuk ke dalam gedung. Banyak pengusaha datang. Ada yang datang sendiri dan ada yang membawa pasangan, bergandengan mesra di setiap jalan.


Bak seperti istri sesungguhnya, Lisa di perlakukan manis oleh Bima. Di bukakan pintu mobil, dan di gandeng tangannya menuju dalam gudang. Yang membuat dirinya semakin gugup dan juga sedikit tidak percaya diri.


Melihat banyaknya wanita, yang memakai pakaian lebih bagus, **** dan juga mahal dari dirinya. Sangat berkelas dan juga sangat sombong bagi wanita yang datang di acara pesta malam ini.


Jujur, Lisa sangat mulai tidak nyaman dan merasa dirinya paling bawah dari wanita yang berdandan sangat berlebihan itu.


Masuk bersama dengan Bima dan di ikuti asisten Bima di belakang. Yang setia dengan atasannya memana pun Bima pergi dan memerintahkannya.


" Pak Bima!" Sapa klaen Bima, turut hadir dalam pesta malam ini.


" Selamat malam pak Danu." Sapa balik Bima, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


" Ah! Selamat malam pak Bima." Ucapnya, menjabat tangan Bima dengan senang dan menyapa senyum Lisa di samping Bima. " Saya tidak menyangka bapak datang di pesta seperti ini."


" Kenapa tidak."


" Biasanya Pak Bima tidak akan pernah datang, jika bukan Pak Max atau pak Doni yang mewakilkan Anda." Sindir Pak Danu, yang memang jarang sekali Bima datang di acara pesta seperti malam ini jika bukan terpaksa karena Max dan Doni yang tidak bisa menggantikannya.


" Ya, karena Doni dan Max sedang ada banyak pekerjaan pak." Jawab Bima.


" Oh!" Sambil mengangguk-anggukkan kepala. " Kalau tidak begitu, pak Bima tidak akan pernah datang." Ujarnya lagi sambil tertawa, di ikuti Bima yang hanya membalas senyuman.


" Anda tau Nona." Melihat Lisa dengan senyum, dengan Lisa yang menatapnya datar. " Pak Bima ini wakil direktur yang sangat Pintar, gigih dan juga jujur dalam bekerja. Pak Bima, selalu memenangkan tander besar dan membuat perusahaan yang dirinya bekerja berkembang sangat pesat. Banyak sekali pemilik perusahaan yang menawarkan pak Bima bekerja dengannya, tapi pak Bima menolak dan masih tetap bekerja dengan perusahaannya sampai sekarang." Ujarnya.


Pak Danu juga pernah di tolak oleh Bima, yang menawarkannya pekerjaan dan membayarnya dua kali lipat dari bekerjaannya sekarang. Padahal jika pak Danu tahu Bima yang sesungguhnya, mungkin pak Danu akan diam seribu bahasa dan akan menundukkan kepala malu karna perkataannya.


Masih datar, tidak terkecoh dengan orang sombong seperti klaen di hadapannya. Peran yang sangat di nikmati Bima. Tapi tidak dengan Lisa, antara sebal dan juga kagum dengan pria di sampingnya ini.


" Ah.. Saya sampai lupa bertanya, Nona ini siapa pak Bima?" Tanya Pak Danu, menatap genit ke arah Lisa.


" Dia!" Menatap Lisa dengan senyum dan kembali menatap dingin pak Danu. " Calon istri saya." Imbuhnya. Membuat Lisa terkejut dan menatap lekat wajah Bima.


" Apa! Calon Istri!" Ulang Pak Danu, yang juga terkejut mendengarnya.


" Iya." tersenyum simpul.


" Tuan? meja kita sebalah sana." Ucap Asisten Bima, yang menghampirinya saat ia sudah menemukan temat duduk bagi Bosnya.


" Saya permisi dulu pak Danu?" Pamit Bima, meninggalkan Danu yang masih tercengang. Entah mendengar perkataan dari Bima atau perkataan dari Asisten Bima.


Berjalan mengikuti Asistennya menuju meja bundar di ujung tembok kokokh yang kosong dan sedikit jauh dari keramaian orang-orang yang mungkin sangat penting dan saling mengobrol.

__ADS_1


" Terima kasih." Ucap Lisa, menerima minum dari pelayan dan mulai meneguk minuman berwarna orange untuk membasahi tenggorokannya.


" Mau lagi?" Tanya Bima, hanya menggelengkan kepala dan merasa lega sudah membasahi tenggorokannya serta sedikit jaih dari orang-orang kaya.


" Tidak." Jawab Lisa.


" Apa seperti ini pesta orang kaya?" Lirih Lisa.


" Kamu tidak nyaman, mau kita pulang?"


" Hhmm! tidak, tidak." Sergah Lisa, merasa tidak enak sendiri, baru menginjakkan kakinya di gedung, sudah meminta pulang. Dan pasti akan membuat Bima malu nanti. Hanya karna satu orang yang menyombongkan diri dan menghina Bima, Bima pulang sebelum pesta berakhir.


Memalukan.


Menyerah sebelum berperang.


Dan terbuat apa pria di sampingnya ini, bisa setenang dan sedingin mungkin berhadapan dengan orang orang sombong. Seperti tidak ada beban sama sekali." Gumam Lisa dalam hati.


" Ada apa?" Tanya Bima.


" Kamu kenapa tenang sekali sih! Dia ucap panjang lebar, kamu hanya membalasnya dengan semyum." Kata Lisa.


" Apa aku perlu menyombongkan diriku juga?"


" Gak perlu! Cukup lawan saja." Sungut Lisa, seakan tidak terima jika Bima di rendahkan seperti itu.


Bima yang mendengarkan hanya bisa tertawa kecil dan mengangkat tangannya ke atas hingga Lisa memegang tangan Bima cepat, menurunkannya dan menggenggamnya. Serta memberikam pelototan mata padanya.


" Jangan merusak rambutku!" Sinis Lisa, yanga semakin membuat Bima tertawa mendengar protesannya.


Asisten yang duduk di depan Bima dan melihat Bima di tegur seorang wanita serta tertawa. Membuat Asistennya mengulum bibir menahan senyum dan juga tawa.


" Pak Bima!" Seru pria menghampiri Bima di meja duduknya. Membuat orang duduk di meja menatap sumber suara, dan dua pria menatap dingin pria yang menghampiri meja Bima.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃


Maaf atas keterlambatanya.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2