
...Kita di pertemukan kembali, tapi kamu sudah berpindah hati....
.
.
.
.
" Dia sudah pulang?" Gumamnya, menatap rumah sederhana yang sudah sepi tak berpenghuni.
Fahmi, datang berkunjung ke rumah Lisa pulang dari kerjanya. Dan mendapati rumah yang sangat sepi, hingga seorang ibu menghampirinya karna Fahmi masih setia ada di teras rumah Lisa.
Sangat terkejut mendengar ucapan tetangga Lisa yang bilang padanya, jika Lisa sudah kembali ke kotanya dan berangkat ke bandara dua jam sebelum dirinya datang.
Dirinya terlambat datang dan tidak tau Lisa sudah kembali ke rumah kotanya. Tanpa mengabarinya, tanpa memberitahukannya dan tanpa pamit padanya.
Setidaknya Lisa bisa pamit padanya melalu telpon ataupun pesan singkat, agar ia bisa Mengantarkannya. Tapi tidak, Lisa tidak mengabarinya sama sekali.
" Kenapa Lis! Kenapa rasanya kita semakin jauh saja. Seakan kamu menghindar dariku." Gumam Fahmi.
" Enggak, kamu enggak boleh menghindar. Dan aku akan tetap mengejar mu, meskipun aku tau sainganku sangat berat."
****
" Makasih sudah menemaniku dan membiayai semuanya." Ucap Lisa tulus pada Bima yang sudah melakukan hal yang sangat membuatnya tak enak hati.
Saat mengetahui dari suster Santi jika biaya pemakaman ibu hingga selamatan selama tujuh hari semua di tanggung oleh Bima. Dan Lisa tak mengeluarkan sepersen pun uang, karna terlalu bersedih, diam dan juga menyendiri.
Sungguh, Lisa sangat tak enak hati pada Bima. Saat akan meminta nominal berapa yang sudah Bima keluarkan selama satu minggu lebih. Tatapan Bima sangat tajam kala mendengarnya dan juga dia tak suka dengan ucapa Lisa. Seakan Bima meminta uang yang sudah di keluarkannya dan tak iklas membantunya.
" Jangan pernah lagi bertanya seperti itu." Kata Bima, membuat dirinya mengangguk mengerti dan tak berani menatapnya.
" Aku pulang dulu." Pamit Bima.
" Sudah malam dan di luar hujan, menginaplah di sini." Tawar Lisa.
karna mereka tiba di rumah malam hari dan Bima juga mengantarkannya ke rumah, tanpa mempedulikan dirinya yang juga sangat lelah selama bersamanya dan perjalanan sedikit jauh.
__ADS_1
" Ada kamar kosong di sini?" Ujar Lisa lagi, seakan tau jika Bima sedikit berat serta mengingat di kampung kala mereka tidur bersama dalam satu ranjang. Yang belum muhrim dan juga belum menjadi status.
" Iya, baik." Kata Bima, membuat Lisa tersenyum.
Mengantarkan Bima ke kamar tamu, menyuruhnya untuk menyegarkan dirinya dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Dimana Lisa dan Bima belum mengisi perutnya malam ini.
" Makasih buk imah?" Ucap Lisa, melihat makanan di atas meja sudah tersaji.
" Sama-sama mbak." jawab Buk imah.
" Kita makan sama-sama ya buk." Ajak Lisa.
" Maaf mbak, kita sudah makan tadi." Tolak halus Buk Imah.
" Iya mbak." Imbuh Mbak Jum, Lisa hanya bisa mengangguk dan tidak memaksa sama sekali.
Meninggalkan Lisa, kala Bima berjalan ke arah meja makan. Hanya mengangguk sekilas dan tersenyum saat Art menyapanya.
Untuk ke dua kalinya, Lisa memperlakukannya seperti suami. Mengambilkan makanan dan melayaninya. Sungguh kenapa Bima bisa membayangkan jika suatu saat dirinya menikah nanti pasti akan seperti ini, di layani istri dengan punuh cinta.
Menghangatkan.
Makan bersama dalam diam hanya terdengar denting sendok dan piring yang terdengar. Bingung akan berbicara apa lagi, Bima yang memang orang pendiam, irit bicara, dan Lisa yang ikut diam karna berbicarapun ia masih malas dan masih mengingat kenangan ibunya di rumah ini.
Bima memperhatikan Lisa, yang menundukkan kepala, menyembunyikan mata yang ingin sekali mengeluarkan air mata dan diam tanpa mengucap kata apapun.
Selesai makan, Lisa membersikan piring kotor di bantu Bima yang sempat di larang Lisa untuk tidak membantunya. Dan buk Imah datang ke dapur mulai mencegah Lisa yang akan mencuci piring kotor dan menyuruh Lisa beristirahat saja.
Lisa berjalan ke lantai atas, menuju balkon rumah. berdiri di pembatas pagar, menghirup udara malam sambil menutup mata.
Udara malam dengan rintik hujan sangat di sukai Lisa. terperanjat kecil, membuka mata saat bahunya ada yang menyentuhnya.
Membalikkan tubuh Lisa, dan melihat wajah manis itu masih terlihat sedih. Dan Bima kembali membawa tubuh Lisa ke dalam dekapannya.
" Kenapa menangis lagi?" Pertanyaan konyol terlontar dari bibir Bima. Entah dirinya bosan atau kasihan melihat Lisa selalu menangis selama satu pekan lebih.
" Siapa yang menangis?" Kilah Lisa, mendongakan kepala untuk melihat Bima.
" Itu kenapa mata kamu merah?" Tanyanya lagi, masih melingkarkan tangannya di pinggang Lisa tanpa mau melepaskannya " Masih mengingat ibu?" Imbuhnya, membuat Lisa mengangguk dan merapatkan bibirnya, menahan suara tangis dan juga air mata.
__ADS_1
" Aku tidak menyuruh kamu untuk melupakan kenangan kamu dengan ibu mu, tapi aku menyuruh kamu untuk cobalah berusaha iklas, biarkan ibu kamu tenang di alam sana." Ucap Bima. " Kalau kamu menangis terus, ibumu juga akan ikut menangis." Imbuhnya lagi. Dan ucapan Bima membuat Lis menangis hingga membenamkan wajahnya di dada Bima.
" Sulit Bim! sulit." Lirih Lisa.
" Aku tau itu sulit, tapi jangan sampai menyiksa seperti ini. Kamu yang akan sakit dan jiwa ibu kamu yang tidak akan tenang karna putrinya. Apa kamu tidak kasihan?" Kata Bima.
" Aku akan berusaha mencobanya untuk iklas dan tidak menangis lagi." Ucap Lisa, pikiran sedikit terbuka mendengar perkataan Bima.
Benar, jika dirinya menangis. Ibunya juga ikut menangis dan tidak akan tenang di alam yang barunya. Seakan masih berat di dunia ini yang ingin melepaskan kepergiannya.
" Dan aku tidak akan membiarkan kamu sendiri." Ucap Bima, memeluk erat tubuh Lisa dan mulai candu dengan menciumi puncak kepala Lisa.
*****
" Gue turut berduka, atas meninggalkan calon mertua loe." Ucap Doni, duduk di depan meja kerja Bima bersama Max yang ada di sampingnya.
Ya, Doni dan Max sudah mengetahui ibu Lisa yang telah meninggal di kampung halamannya dengan Bima yang ikut membantu, serta melimpahkan pekerjaan selama satu minggu penuh pada Doni dan Max.
" Bukan calon mertua!" Ketus Bima.
" Jika bukan calon Mertu apa?" Tanya Doni, memicingkan mata menatap Bima.
" Hanya sebatas teman tidak lebih." Jawab Bima, menyerahkan berkas-berkas yang sudah di tanda tangani kepada Max.
" Loe yakin hanya sebatas teman! tidak lebih!" tanya kembali Doni, masih tidak yakin dengan ucapan Bima.
" Hmm." Dehem Bima. Dirinya juga bingung apa itu calon mertuanya atau tidak, karna dirinya dan Lisa masib belum mempunyai status yang jelas.
Status berpacaran atau berumah tangga.
Galau.
" Kalau sudah nyaman, cepat di beri status. Sebelum di ambil orang." Timpal Max, tau akan kegalauan Bima.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃
Maaf ya terlambat update.🙏🙏🙏