
Kebahagian pasti ada, dan akan selalu ada bila kita selalu bisa bersabar dan bersyukur apa yang kita punya saat ini.
Tuhan tidak pernah bosan mendengarkan permintaan dan doa-doa kita yang selalu kita panjatkan setiap detik, waktu dan hari. Tuhan selalu mendengarkan rintihan keluhan kita. Hingga Tuhan merasa sudah saatnya, memberikan keadilan serta wujud apa yang di inginkan umatnya.
Nikmat kesabaran dan rasa syukur membuat siapa saja merasa senang dan bahagia dengan tetesan air mata. Dan itu di rasakan oleh dua wanita yang berhasil mengubah keluarganya lebih layak dan di persunting pria kaya raya menerima keadaannya dengan apa adanya.
Dua pria yang bersahabatan, tidak menyangka akan menikah dengan wanita yang juga saling mengenal dekat.
Hari ini, Lisa menyaksikan saksi hidup kebahagiaan karyawan yang sudah di anggap sebagai sahabatnya, menikah dengan teman suaminya. Takdir itu begitu lucu, tidak pernah menjodoh-jodohkan teman, tapi takdir sendiri datang mempertemukannya dengan tidak di sengaja.
Lisa bersama dengan Bima, Riski bersama dengan Doni, di ikuti dengan karyawan Lisa yang lainnya memakai mobil di gudang. Untuk menghadiri pernikahan Santi dan Max, yang di selenggarakan di kampung halamannya.
Ya, Orang tua Max sudah bertemu dengan ke dua orang tua Santi di kampung halamannya. Bersilaturahmi dan mendiskusikan tentang pernikahan anak-anaknya. Orang tau Max tak ingin menunda pernikahan, pasalnya Putranya itu kadang suka berbuat nekat bila tidak segera di halalkan. Dan juga mamanya tidak sabar ingin mempunyai menantu lagi.
Dua pihak keluarga saling setuju, pernikahan di adakan di desa Santi. terutama Mama Max begitu sangat antusias, senang dan rindu dengan adat pengantin jawa yang sederhana tapi juga terlihat mewah, nantinya. Karna dulu pernikahan putra pertamanya, bergaya eropa dan tidak ada adat-adat seperti dirinya dulu menikah dengan papa Max. Tidak masalah, apapun yang di inginkan putra pertama dan menantunya dia akan tetap mendukung, asal tetap mematuhi etika yang sopan dan baik.
Lisa, Bima, Riski dan Doni tentu saja datang ikut bersama rombongan iring-iring dari mempelai keluarga pria. Yang datang begitu banyak dengan seserahan di tangan para keluarga Max.
Keluarga serta kerabat Max datang tentu saja membuat para tetangga mengalihkan matanya memperhatikan kedatangan orang dari kota.
Banyak mobil berjajar rapi, mengkilap dan bagus. Seserahan yang tak tanggung-tanggung. ada sekitar enam puluh lebih box seserahan dari berbagai macam-macam hadiah. Dari cemilan kering, buah-buahan peralatan tubuh dan juga tak lupa satu set perhiasan. Tapi yang mencuri perhatian para tetangga adalah, sebuah mobil warna merah berplat putih di hias dengan pita besar di angkut dengan mobil derek yang juga ikut dalam iring-irangan manten.
Banyak tetangga yang iri, melihat seseran dari lelaki kota yang menikahi gadis dari kampungnya. Dan banyak ibu-ibu memuji Santi yang bisa mendapatkan lelaki tampan dan juga kaya raya. Yang tidak perlu hidup susah-susah lagi seperti gadi-gadis lain yang menikah di usia muda dan masih tetap menjadi beban keluarganya.
__ADS_1
" Ki, banyak yang liatin?" Bisik Lisa di samping Riski. Yang bisa di andalkan buat bergibah bersama. kala dirinya tak mengenal kerabat Max, yang juga sama sedang saling berbisik-bisik. Entah apa yang sedang di bicarakan kerabat Max, mungkin saja sama dengannya.
" Iya mbak, mungkin tetangga mbak Santi kagum lihat seserahan dari keluarga Mas Max yang banyak." Jawab Riski.
" Pasti nanti banyak yang ghibah, nyebar sampai keluar kampung."
" Pastinya lah! Kayak gak pernah tau saja." Cicit Riski, sudah di pastikan para tetangga Santi akan membicarakan seserahan dari mempelai pria yang begitu banyak.
" Kamu capek?" Tanya Bima dengan lembut, mengusap tangan Lisa yang melingkar di tangannya.
" Sedikit." Jawab Lisa.
" Mau kembali ke hotel?" Tawar Bima, tangan beralih mengusap perut istrinya yang mulai terlihat besar.
Usia kandungan yang sudah menginjak lima bulan, terlihat Lisa tak merasa ada beban. Dia masih saja suka beraktivitas, meskipun di larang keras oleh Bima. Istrinya keras kepala dan mudah menangis bila keinginan tidak terpenuhi. Ibu Hamil selalu sensitif, dan harus sabar menghadapinya. Beruntungnya, Bima pria yang sabar dan mau menuruti keinginan istrinya meskipun ada rasa waspada, dan hati-hati.
" Aku masih ingin di sini? sampai acaranya selesai." Melas Lisa, tidak ingin Bima membawanya kembali ke hotel sebelum acara adat jawa Santi dan Max selesai.
" Ya sudah, habis dari sini kita langsung kembali ke hotel. Gak boleh kemana-mana." Tegas Bima, membaut Lisa mengangguk setuju dengan larangan suaminya.
Menikmati acara pernikahan adat jawa hingga selesai, semua keluarga dan kerabat Max kini di sajikan makanan dengan cara prasmanan. Mengambil dengan cara bergilir yang di sajikan dengan menu prasmanan ala jawa. seperti, urap-urap, ayam bakar, sate telur puyuh, tempe-tahu bacem, tahu campur dan masih banyak menu yang lainnya.
Lisa tentu sangat bersemangat, tidak akan malu mengambil apa saja. Dengan memanfaatkan kemahilan, Lisa bisa mencicipi semua makanan yang di sajikan oleh Santi.
__ADS_1
" Ki? Aku mau lumpianya lagi, ambilin dong! di bungkus kalau bisa, mau aku bawa pulang." Bisik Lisa.
" Ih!! Malu mbak! Enggak mau aku di suruh lagi." Kata Riski. " Minta mas Bima saja sana." Imbuhnya, sudah cukup malu Riski menemani Lisa mengambil makanan apa saja yang di lihat ibu hamil itu dan menyuruhnya membawa nampan berisi empat piring, dua kali bolak balik ke tempat duduknya.
" Enggak mau! Nanti suamiku di bilang rakus." Tolak saran Riski " Kamu saja dong Ki! Ini dua ponakan kamu maunya sama kamu lho!"
" Jangan bawa-bawa ponakan! Bilang saja kalau ibunya yang mau makan." Ketus Riski, menjadi tumbal ibu hamil.
" Mas Bima!" Rengek Riski pada Bima yang mungkin mendengarkannya.
Sedangkan Bima hanya mengangkat bahu dan juga menahan senyum. Sebenarnya Bima juga sedikit malu dengan istrinya yang mengambil makanan tidak tau aturan, tapi memaklumi jika istrinya hamil anak kembar dan makanan begitu banyak tidak akan mungkin menyerap pada dirinya sendiri. Bima lebih suka Lisa makan banyak dari pada Lisa muntah-muntah dan tidak berselera makan, itu pasti akan membuat dirinya khawatir dan sedih.
" Mas Doni!" Melas Riski menatap Doni.
" Ini makanan yang di ambil ibu hamil, aku juga sudah ikut habisin. Enggak mau aku kalau di suruh ambil." Kata Doni, dirinya ikut imbas karna ulah ibu hamil. Yang mengambil makanan tidak kira-kira, dan di suruh Lisa untuk ikut menghabiskan makanannya bersama dengan Bima dan Riski.
" Ya sudah kalau enggak mau gakpapa Ki!" Melas Lisa, sambil mengusap perutnya. " Sabar ya nak?" Ujarnya. Membuat Riski mengendus sebal melihat tatapan melas Lisa. Kalau sudah begitu Riski tidak bisa menolak dan mau menerima perintah Lisa.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃