
...Seribu satu teman, hanya satu yang bisa kau anggap sahabat....
.
.
.
.
" Nenek!!!" Teriak bocah kecil, begitu semangat melihat wanita paruh baya duduk di kursi roda di dorong oleh wanita cantik yang menemaninya pulang kampung.
Teriakan bocah perempuan manis membuat orang yang melihatnya menggelengkan kepala dan gemas dengan tingkah yang melompat-lompat rambut di guncir dua berayun-ayun.
Lisa dan ibunya juga yang melihat tingkah bocah itu gemas dan tersenyum hangat.
Ibu Lisa Merentangkan ke dua tangan, menyambut larinya bocah kecil kehadapannya. Memeluknya dan juga menciumi bocah perempuan yang sudah di anggapnya cucunya.
" Nenek? Rania kangen." Ucap Rania.
" Nenek ju ga kangen Rania? Ra nia sudah besar sekarang." Ucap Ibu Lisa, anak dari putri sahabatnya sudah tumbuh besar. Terakhir melihatnya secara langsung, dulu saat masih kecil berumur satu tahun.
Masih sering vidio call, mendengar perkembangan Rania dari putri sahabatnya. Yang periang, aktif dan juga cerewet. Tidak menyangka jika Rania sudah begitu tinggi dan mempunyai rambut lebat serta panjang. Mirip seperti ibunya.
" Buk?" Sapa Mawar, menyalimi ibu Lisa dan memeluknya.
" Bagai mana kabar kamu Ar?" Tanya Ibu Lisa.
" Alhamdulillah sehat buk? Ibu bagaimana?" Tanya balik Mawar.
" Alhamdulillah I bu sehat?" Jawab Ibu Lisa.
" Mawar!!"
" Lisa!!" Sapa bersamaan, saling memeluk melepas rindu lama tidak berjumpa dengan sahabat. Begitu heboh, jika sudah bertemu.
" Aku kangen sama kamu!!"
" Sama, Aku juga."
" Cih, padahal sering vidio call." Cibir Angga di belakang Mawar, membuat dua sahabat menatapnya dan berdecak mendengar cibiran Angga.
Ya, Angga ikut menemani Mawar menjemput Lisa di bandara. Sedangkan Suami Mawar tidak bisa ikut, karna sedang meeting bersama klaennya.
Bukan sering lagi, bisa di bilang hampir tidak pernah absen mereka vidio call. Yang di tanyakan juga itu-itu saja, apa lagi ponakannya yang cerewet saat berbicara pada Lisa.
__ADS_1
" Dihh gak terima!" Seru Lisa, menghampiri Angga dan memeluk adik Mawar yang sudah di anggap adiknya juga. " Adikku!! yang tampan." Ujarnya, membuat Angga geli dan mencoba melepaskan pelukan Lisa.
" Malu mbak!!" Seru Angga.
" Hahahaha, dia sudah besar ya. Gak mau di peluk lagi." Ucap Lisa tertawa kecil karna Angga yang malu di peluk di depan umum.
Dulu Angga dan dirinya selalu bersama, pernah membantunya juga berjualan dan juga pernah merawat ibunya dibsaat Lisa sedang bekerja. Angga begitu mengerti keadaan Lisa dan dia juga sudah menganggap Lisa sebagai kakaknya juga. Dimana Lisa juga pernah membantu Mawar masa kesulitannya dulu.
Sekarang Angga lebih tinggi darinya, terlihat lebih cakep dan juga keren. Remaja cowok di hadapannya ini sekarang sudah banyak yang mengaguminya, banyak yang mengejar cintanya dan banyak yang ingin menjadi pacarnya.
Tapi sayang tidak ada satu pun gadis yang mampu meluluhkan hatinya. Ataupun yang di sukainya. Angga terlalu cuek, dingin dan juga pendiam di sekolahnya.
" Ini anak sekarang gak mau di peluk." Kata Mawar.
Kenyataan, semakin adiknya besar, semakin dia bersikap dewasa. Tidak manja dan tidak mau di peluk, tidak juga merepotkan kakak ataupun kakak iparnya. Angga benar-benar mandiri, sejak kecil memang sudah di ajarkan begitu.
" Kenapa!"
" Sudah punya kekasih mungkin."
" Beneran!"
" Enggak." Elak cepat Angga, memang dirinya tidak punya kekasih ataupun teman wanita yang spesial. dekat wanita saja rasanya sudah risih apa lagi berpacaran. Cukup tiga wanita yang da di kehidupannya, dua kakaknya dan satu ponakannya. Menggemaskan.
" Angga punya pa car?" Tanya Ibu Lisa.
" Om Angga gak punya pacar Nek!" Timpal Rania, membela Omnya tersayangnya.
" Tu kan Rania saja tau." Ketus Angga, membuat dua kakaknya tertawa
" Ayo Ki ta pulang?" Ajak Ibu Lisa, sudah tidak sabar mengunjungi rumah lamanya.
Semangat ibu membuat mereka tersenyum, mengangguk dan mengikuti perintahnya.
" Ayo mbak Santi." Ajak Lisa pada Santi, tidak ingin mengabaikan suster ibunya dan memperkenalkannya pada Mawar serta Angga.
****
Memasuki perkarangan rumah yang tidak terlalu besar, tapi masih bisa untuk memarkirkan mobil dan juga jalanan rumah sedikit lebar. Hingga tak perlu turun jauh untuk ke rumahnya.
Rumah sederhana, sangat terawat dan masih tetap sama. Tidak ada yang berbeda meskipun di tinggal sang pemilik merantau jauh.
Kedatangan Lisa bersama sang ibu di sambut baik oleh tetangga yang mengurus rumahnya. Ibu Lisa Bersalaman dan saling memeluk pada tetangga yang sudah merawat rumahnya seperti rumah sendiri.
Air mata ibu begitu saja menetes, membasahi pipi memasuki rumahnya yang di bangun susah payah bersama mendiang suami. Rumah penuh kenangan di dalam sana, rumah saksi bisu antara dirinya dan mendiang suaminya. Bagaiman kehidupannya memperjuangkan rumah tangga yang di jaga dengan sepenuh cinta hingga sang kuasa memanggil suaminya terlebih dulu.
__ADS_1
Masih sama, foto dirinya, mendiang suami dan juga putri kesayangan mereka masih ada di dinding ruang tamu. Kenangan itu akan selalu ada dan tidak akan pernah terlupakan, meskipun sudah ada foto yang mengabadikannya.
" Ibu?" Sapa pelan Lisa, dan ibunya menghapus air mata mendengar sapaan anaknya.
" Kenapa buk?" Tanya Lisa, mengusap tangan ibunya. tersenyum menutupi rasa sedih yang mungkin ibunya sedang merindukan mendiang suaminya.
" Cuma ka ngen Bapak saja?" Terang ibu, tidak bisa menutupi kebenaran apa isi hatinya saat ini.
Ibu sangat merindukan mendiang suami tercintanya. Tatapan mata tidak bisa di bohongi meskipun ibu mencoba menyembunyikannya.
" Besok kita ke makam bapak ya buk, sekarang ibu istirahat dulu. Kan kita perjalanan jauh, kata dokter ibu gak boleh terlalu capek." Tutur Lisa,
Hanya mengngguk dan tersenyum, meskipun sebenarnya ibu merasa berat untuk mengiyakan. Rasanya ingin sekali ibu ke makam suaminya sekarang juga, tapi karna putrinya tidak ingin cemas dengan keadaannya ia pun menurut.
" Mbak tolong antar ibu ke kamar ya?" Perintah Lisa pada suster Santi, mendorong kursi roda dan membawa ibu Lisa ke dalam kamar ibunya.
" Ibu mungkin kangen sama Bapak?" Ucap Mawar, menatap kepergian ibu Lisa dengan sedih.
" Iya, ibu sudah beberapa kali minta pulang. Pengen ketemu bapak katanya." Jawab Lisa, membuat Mawar sedikit terkejut dengan jawaban Lisa.
Seseorang yang sudah pernah merasakan kehilangan orang terdekat, ia sudah tahu jelas apa maksud dari perkataan itu. Tapi dirinya berdoa, semoga saja itu hanya ucapan bukan kenyataan. Karna dirinya tidak ingin sahabatnya kembali merasakan kesedihan yang mendalam. Cukup satu kali saja dia sedih jangan terulang lagi.
" Aunty!!" Seru Rania, berlari menghampiri Lisa. Lisa mendudukkan Rania di pangkuannya, menciumi pipi gimbul dan memeluknya erat.
" Rania Habis beli apa?" Tanya Lisa.
" Beli jajan di warung situ?" Jawab Lisa, membeli jajanan coklat dan menyuruh Lisa untuk membukanya.
" Aunty minta boleh?"
" Ini?"
" Aunty minta yang Rania makan saja."
" Kata mama enggak boleh ngasih makanan yang sudah kita makan di kasih ke orang, itu gak sopan namanya!" Ujar Rania, membuat Lisa tersenyum dan kembali menciumi pipi gimbul.
Mawar mendidik anaknya dengan sangat baik dan sangat menghormati yang tua. sahabatnya benar-benar sudah menjadi ibu yang bijak. Mangka dari itu rumah tangganya tak pernah ada kata gosip atau pertengkaran hebat.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Nungguin Fahmi ya!!😄😄 Sabar ya. Harus siapkan mental nanti.