Nona Lisa

Nona Lisa
kembali tertawa


__ADS_3

...Jalani saja dulu, hingga aku akan bilang, I love You....


.


.


.


.


" Mbak!!" Rengek Riski, " Aku capek!! Dari tadi muter-muter terus. mbak Lisa enggak pegal apa." Imbuhnya, sambil berjalan lemas mengikuti Lisa dari belakang, yang entah maunya apa, mengelilingi luasnya mall dari lantai dasar ke lantai enam dan sama sekali tidak ada hentinya.


Jangankan berhenti, minum pun ia susah dan tak bisa untuk membeli.


" Sapa yang suruh ikutin sih Ki!!" Ketus Lisa.


" Kalau enggak di ikuti nanti mbak nyasar!" Saut Riski cepat.


Jika bukan karna Bima, mungkin dirinya lebih melmilih di gudang. Menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


" Cih! kayak aku anak kecil saja!" Gerutu Lisa. " Bilang saja kalau mau di belanjain." Tuduh Lisa, yang pastinya ada benarnya.


" Nah! Itu tau mbak." Jawab Riski sambil tersenyum lebar.


Karyawan rasa saudara.


Tidak ada tau malunya, tapi juga bisa membut Lisa terhibur dan juga tidak sendirian lagi.


" Potong gaji."


" Gak usah di potong mbak! Aku traktir saja hari ini, khusus untuk mbak Lisa." Mencoba merayu, agar bosnya mau berhenti dan bisa membuatnya duduk saat kaki rasanya sudah mulai tegang.


" Ayo ke restoran yang mbak suka." Ujarnya Riski lagi.


" Yakin?" Tanya Lisa, memicingkan mata tidak merasa yakin dengan ucapan Riski yang akan mentraktirnya


" Iya!" Seru Riski, membuat Lisa tersenyum mengembang.


"Ayo!" Semangat Lisa, menarik tangan Riski dan membawanya menuju restoran kesukaannnya. saat dirinya ingin sekali makan-makanan pedas untuk meluapkan segala kesedihannya dan beberapa hari dirinya tidak teratur makan.


Gak papa mentraktir bosnya, nanti juga akan minta ganti rugi pada Bima. Senyum licik terbit di bibir Riski.


Menjengkelkan.

__ADS_1


*****


Memasuki lorong apartemen, bersama dengan ke dua orang tuanya. Saat mereka sudah tiba di kota besar yang orang bilang akan penuh dengan kemacetan di hari kerja.


Bertemu dengan pemilik apartemen, dan memberikan uang kesepakatan yang sudah di tentukan oleh pemilik dan penyewa.


Tidak perlu membeli semua perabotan rumah tangga, semua sudah tersediakan dengan kapasitas yang sudah di tentukan oleh pemilik apartemen.


Apartemen dengan dua kamar tidur, dapur dan ruang tamu yang tidak terlalu besar tapi masih nyaman di tempati. Cocok untuk pria bujang saat ini.


" Maaf Pa, Ma. apartemennya tidak terlalu besar." Ucap Bima, menaruh koper dirinya dan orang tuanya di pinggir sofa.


" Tidak apa-apa Fahm, ini juga sudah bagus untuk kamu yang sendiri." Jawab Mama Fahmi, melihat sekeliling ruangan apartemen yang akan di tinggali putranya.


Dan sangat pas untuk putranya yang memang suka menyendiri dan hidup mandiri. Tidak perlu lagi untuk membeli perabotan, hanya tinggal menempati saat di dalam ruangan yang sudah ada semuanya.


" Ya, semua sudah tersedia. Tidak perlu lagi kamu membeli barang apapun." Imbuh Pak Yoga, juga merasa pas apartemen yang di pilib putranya.


Dan menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi. Saling beradu repotasi dan kinerja untuk mendapatkan sanjungan dari para pebisnis. Dan setiap orang ingin bekerja di perusahaan yang terpopuler.


Melihat satu gedung dengan nama terpopuler dan juga di segani oleh para pebisnis lain, membuat pak Yoga tersenyum.


" Apa itu kantor kamu bekerja nanti Fahm?" Tanya pak Yoga, membuat istri dan putranya berjalan ke arahnya dan melihat gedung yang sama dirinya Lihat.


" Iya Pa, itu kantorku nanti untuk bekerja." Jawab Fahmi.


Bukan membandingkan putranya ataupun iri dengan Bima, Hanya saja pak Yoga sangat senang dengan pria yang seperti Bima. Menunjukkan jika dirinya yang dulu sangat rendah, kini di pandang tinggi oleh seluruh orang meskipun statusnya sebagai pemilik perusahaan masih di sembunyikan dan tak ingin ada orang yang tau.


Entah kenapa.


Setiap pria pasti senang di sanjung dan di hormati saat mereka tau akan kedudukan tinggi sebagai pemilik perusahaan. Tapi Bima, tidak seperti itu. Lebih memilih menyembunyikan dan menjadi pria kalangan biasa.


Dan sampai sekarang setiap klaennya selalu bertanya-tanya, tentang siapa pemilik perusahaan yang dirinya bekerja dan bagaimana orangnya. Karna pemilik perusahaan tak pernah menunjukkan dirinya di hadapan mereka. Yang mereka tau adalah Bima, wakil direktur yang selalu di percaya oleh pemilik perusahaan untuk mengawasi kantor-kantornya. Hingga mereka mengira Bima, Bima adalah pemiliknya. Dan yang aslinya, memang iya.


" Mama dan Papa istirahatlah, Fahmi mau membelikan makanan dulu di bawah." Ucap Fahmi, membuat ke dua orang tuanya menangguk dan tersenyum.


Menatap kepergian Fahmi, pak Yoga pun juga berharap. Putranya bisa seperti Bima, ya meskipun putranya belum mempunyai pengalaman untuk membangun perusahaan.


Tapi apa salahnya, orang tuanya berharap. Ya walaupun harapan itu tak akan mungkin bisa.


Tapi, setidaknya bersyukur. Meskipun belum bisa membangun perusahaan, Fahmi bekerja di perusahaan yang bagus dan menempati posisi sangat tinggi. Dengan bayaran yang juga sangat menggiurkan dan tunjangan banyak yang bisa menghidupi keluarganya kelak tua nanti.


****

__ADS_1


" Gila! Aku harus bayar segini banyaknya!" Gumam Riski, melihat nota pembayaran makanan yang dirinya hanya makan sedikit dan lebih banyak wanita di hadapannya. Seperti tidak pernah makan-makanan di restoran kesukaannya dan seperti orang kelaparan saja.


" Mbak!"


" Katanya mau traktir! Aku enggak mau patungan." Sahut cepat Lisa, tau rengekan Riski yang mungkin membuat dompetnya terkuras hanya dalam beberapa jam bersama bosnya.


Menyebalkan.


Memanfaatkan kesempatan untuk mengerjai karyawan yang resek seperti Riski.


" Aku makan dikit lho mbak!" Seru Riski melengkungkan bibirnya ke bawah, memelas dengan Lisa yang sudah membuatnya akan tidak makan selama satu bulan ke depan.


Gak segitunya juga kali!


" Terus!"


" Ya sudah kalau mbak gak mau bayar gakpapa, pakai uang aku saja. Nanti pulang dari sini, aku minta ganti rugi sama Mas Bima." Ucap Riski,


" Eh!" Pekik Lisa dan melototkan mata mendengarnya.


" Ngapain minta ganti rugi sama Bima!"


" Ya kan Mas Bima yang nyuruh aku nganterin sama ngikuti mbak kemana saja!" Jawab Riski. " Terus soal makanan aku minta ganti rugi lah! orang bajet aku gak sampai segitu banyaknya, bayar makanan yang di beli mbak mahal-mahal. " Imbuhnya, dengan wajah bete karena Lisa memilih menu makanan yang mahal dan banyak.


Lisa yang mendengar gerutuan Riski hanya bisa menahan tawa dan senyum. Memang dirinya sangat keterlaluan, memilih makanan yang mahal dan banyak untuk meluapkan semuanya serta memanfaatkan situasi kesempatan di traktir oleh Riski.


Mengambil kartu debit dan memberikannya pada pelayan yang tersenyum dan tertawa kecil melihat Riski menggerutu pada Lisa, karna tak sanggup membayar makanan yang sudah di pesan. Dan pergi saat nota debit sudah keluar serta memberikannya pada Lisa.


" Cih! Memalukan!" Sindir Lisa. " Gimana mau dapat pacar kalau makan saja gak sanggup bayar." Sindir Lisa.


" Sanggup bayar mbak!! Pokoknya jangan yang mahal dan rakus kayak mbak Lisa ini." Sahut cepat Riski, tak terima jika dirinya di tuduh pria gak bermodal.


" Kapan lagi di traktir sama kamu di restoran seperti ini."


" Ya tapi jangan memanfaatkan juga mbak!!" Seru Riski, membuat Lisa tak bisa lagi menahan tawanya.


" Udah ayo pulang, aku kenyang ini! Mau tidur, capek." Ajak Lisa, menyudahi tawanya dan berdiri dari tempat duduknya.


Riski hanya mengangguk dan juga berdiri. Rasanya Riski senang melihat Lisa tersenyum dan tertawa kembali lagi. Sudah lama Riski tidak melihat tawa dan senyum Lisa setelah kepergian ibunya yang hampir satu bulan.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2