
...Karna dia, aku bisa melupakan segalanya. Termasuk kamu....
.
.
.
.
Tanpa sadar, tangan saling menggenggam. Saling mengisi sela sela jari hingga penuh, berjalan beriringan mengayunkan tangan dengan rasa bahagia.
Tidak tau, itu bahagia karna apa? Bahagia karna bisa jalan bersama seorang pria, atau bahagia karna akan pulang ke kampung hingga semangat mencari hadiah untuk ponakan.
Lisa benar-benar lupa akan segalanya, hingga tidak mempedulikan Bima yang selalu menatapnya dengan senyum samar.
Berkunjung Ke tempat toko dunia permainan anak, mengelilingi setiap lorong rak dengan Bima yang ada di belakangnya, setia menemani Lisa berbelanja. Seperti tidak ada kegiatan saja.
Padahal pekerjaan menumpuk.
Masih menamati Lisa mencari hadiah untuk ponakan putri kecil sahabatnya.
" Mana yang bagus?" Tanya Lisa, menunjukkan dua mainan. Kasir dan memasak.
" Dia sudah punya apa?" Tanya Bima, membuat Lisa mengerutkan kening.
" Kelihatannya ini punya?" Tunjuknya pada mainan memasak.
" Kalau begitu yang ini saja." Jawabnya sendiri mengambil mainan kasir dengan semangat, tanpa meminta jawaban Bima. Yang menggelengkan kepala melihat tingkah Lisa.
Berjalan menuju kasir dan akan membayar tapi sudah terlebih dulu di bayar oleh Bima yang ada di belakangnya.
" Eh!" Pekik Lisa.
" Biar aku saja yang bayar."
" Tapi-,"
" Sudah? Ayo." Kata Bima, mengambil barang belanjaan Lisa di atas meja dan kembali menarik tangan Lisa agar segera menyingkir dari depan kasir.
" Mau kemana lagi?" Tanya Bima, menggandeng tangan Lisa tanpa menatap wajah Lisa.
" Jangan bayarin!"
" Kenapa?" Tanya Bima, membuat Lisa menatapnya dengan mengerut.
" Kan ini buat ponakan aku! Aku yang ajak kamu nemenin aku belanja, tapi bukan untuk bayarin belanjaan aku juga!" Kata Lisa, merasa tidak enak hati kala Bima membayar belanjaannya.
" Enggak apa-apa."
" Enggak apa-apa, apanya! Aku enggak enak tau sama kamu!" Ucap Lisa, mengerucutkan bibir membuat Bima gemas dan mengacak rambutnya.
" Iihh Bima!!" Seru Lisa memukul kecil tangan Bima yang jail, hingga Bima tertawa kecil.
Inilah yang di suka dari Lisa, Lisa bisa membuat dirinya tertawa lepas tanpa beban. Dan juga bisa membuat moodnya kembali tenang bila bersamanya.
__ADS_1
Sisi positif Lisa begitu kuat.
" Mau cari apa lagi?" Tanya Bima, setelah puas tertawa. Sempat diam, memikirkan sesuatu hingga tersenyum dan kembali menggandeng tangan Bima. Berjalan terlebih dulu lagi tanpa mempedulikan Bima yang tersenyum menggelengkan kepala.
Memasuki toko baju pria, mencari kemeja cowok remaja untuk Angga yang staylisnya sangat di idolakan para gadis remaja.
" Buat siapa?" Tanya Bima, melihat Lisa mencari kemeja laki-laki.
" Buat adik cowok." Jawab Lisa, memilih kemeja fannel kotak-kotak berwarna biru.
Terlihat bagus dan cocok untuk Angga. Berjalan keliling kembali mencari mencari kaos, tapi dirinya berhenti saat melihat kemeja jeans lengan panjang berwarna abu. Menatap tubuh Bima, dan kembali melanjutkan mengelilingi setiap rak kaos remaja.
Lagi dan lagi, Bima membayar belanjaan Lisa membuat Lisa semakin tidak enak hati karna Bima membayar semuanya.
" Sebentar! Tunggu di sini." Perintah Lisa, menyuruh Bima untuk diam tidak mengikutinya saat mereka belum jauh dari toko khusus pakaian pria.
" Mau kemana!" Tanya Bima.
" Ada yang ketinggalan, tunggu sebentar. Jangan kemana-mana!" Ujar Lisa, dan berlari meninggalkan Bima yang menatapnya mengerutkan kening.
" Gadis ceroboh." Gumam Bima, menunggu Lisa sambil melihat ponsel.
Sedangkan Lisa berlari cepat menuju toko yang di kunjunginya, mengambil kemeja incarannya dan membawanya ke kasir. Meminjam pena dan menuliskan sesuatu untuk seseorang.
" Maaf lama?" Ucap Lisa, menarik nafas dalam-dalam.
" Sudah?" Tanya Bima.
" Iya." Jawab dengan senyum. " Ayo cari makan, Aku lapar." Ajak Lisa, hanya deheman dan anggukkan kecil menyutejui ajakan Lisa.
Dulu sikapnya begitu dingin pada wanita, tapi di dekat Lisa sikapnya berubah hangat. Selalu menatapnya dengan senyum, walaupun dirinya jarang sekali berbicara, hanya menjawab seaadanya. tapi tetap perhatian pada wanita yang ada di depannya.
" Hati-hati di jalan." Ucap Bima, mengantarnya di tempat parkiran mobil Lisa. Menaruh barang belanjaan Lisa di kursi belakang.
" Iya, Terima kasih."
" Hmm." Mengangguk dan tersenyum.
" Besok aku dan ibu pulang kampung." Ujar Lisa.
" Di mana."
" Kota xxx."
" Kembali kapan."
" Entah! Mungkin lama di sana, soalnya ibu kangen kampung halamannya." Jawab Lisa.
" Jam berapa berangkat ke bandara." Tanya Bima.
" Jam tujuh pagi." Jawab Lisa, Hanya mengangguk mengerti.
****
Pagi begitu heboh, Lisa dan para art sangat sibuk. Mengangkat tiga koper besar membawanya ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Lisa tidak berangkat sendiri, ada ibu dan suster Santi yang akan ikut menemaninya. Ya suster Santi bersedia dan mau ikut Lisa kemana saja, dirinya juga sudah menganggap Lisa sebagai saudara, seperti Lisa menganggapnya saudara bukan karyawan.
" Hati-hati ya mbak Lisa, semoga selamat sampai tujuan." Ucap Bu Jum.
" Hati-hati buk, mbak." Ucap Mbok Imah.
" Iya bik, Nitip rumah ya bik, kalau ada apa-apa kabari." Imbuhnya.
" Iya mbak Lis." Jawab Bersamaan mbok imah dan Buk Jum.
Saat dirinya akan keluar dari rumah, Lisa sedikit terkejut melihat kedatangan Bima di rumahnya pagi sekali.
" Nak Bima?" Sapa Ibu Lisa.
" Pagi buk." Menyalimi ibu Lisa dan tersenyum hangat.
" Mau berangkat sekarang."
" Iya." Jawab Ibu semangat.
" Mari saya antar."
" Biar ibu sa ma pak Yanto dan mbak Santi, Nak Bima sama Lisa saja." Tolak ibu halus, mungkin karna tidak ingin mengganggu putrinya.
" Ayo Mbak Santi." Ajak Ibu Lisa.
" Iya buk?" Jawab Suster santi. " Mari pak." Pamit suster Santi pada Bima, yang menjawabnya dengan mengangguk.
Sedikit mengangkat kepala, mengangkat alis, kala di tatap Lisa yang tidak berkedip sekali.
Tersenyum, berjalan mendekat tepat di hadapan Lisa dan berbisik di telinganya.
" Makasih, saya suka." Ucap Bima, membuat Lisa membulatkan mata dan tersenyum serta memukul dada Bima. Hingga pria itu tertawa melihat rona merah di pipi Lisa.
Ya, kemeja jeans lengan panjang berwarna abu yang Lisa suka pada pandangan pertama. Dirinya beli untuk pria yang ada di hadapannya, dan menyuruh karyawannya untuk mengirimkannya ke rumah Bima.
Itu sebabnya Lisa tidak memperbolehkan Bima ikut dan menyimpannya di tasnya, agar Bima tidak tau jika dirinya membeli sesuatu untuknya.
Ada rasa terkejut, malu dan senang. Bima memakai baju yang di belikannya kemarin, dan memakai di pagi ini untuk mengantarkannya ke bandara.
Bima sangat terlihat keren dan tampan, memakai kemeja yang di belikannya, di padu dengan celana jeans hitam serta sepatu putih. seperti bukan Bima saat ini.
" Ayo nanti terlambat." Ucap Lisa, berjalan terlebih dulu menghindari Bima yang masih menatapnya dengan senyum.
Sungguh, hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dan dirinya perlu untuk menyembunyikan wajahnya dari Bima yang sudah memerah karna malu. dan mengingat pesan yang ia tulis.
Kamu pasti tampan pakai ini.
From. Lisa.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃