
...Kenyataannya pahit, dan itu membuatku lebih sakit....
.
.
.
.
" Mau kemana?" Hadang buk jum, berdiri di anak tangga saat melihat Riski akan berjalan menuju lantai atas dengan kaki sedikit pincang.
" Mau bangunin mbak Lisa buk jum! Sudah siang ini! Kenapa enggak bangun-bangun." Kesal Riski, tidak melihat wajah Lisa sama sekali sedari pagi hingga menjelang siang hari.
Meninggalkan sarapan pagi dan juga tidak ke gudang. Sedikit ada rasa khawatir juga penasaran dari cowok remaja berusia dua puluh tahun.
" Biarin mbak Lisa istirahat, mungkin mbak Lisa capek karena semalam." Jawab Buk Jum, sambil senyum-senyum sendiri. Membayangkan yang tidak-tidak, atau jangan-jangan buk jum mendengar suara dari dalam kamar Lisa saat akan membersihkan lantai dua.
Tidak mungkin.
Atau mungkin saja bisa.
Menakjubkan sekali kalau terdengar dari luar, itu berarti sepasang suami istri memang sedang menikmatinya. Dan melupakan malu, jika ada yang mendengar dari luar.
" Capek kenapa?" Sambil memicingkan mata belum paham apa yang di maksud orang tua setengah paruh baya ini.
" Capek buat ponakan untuk kamu lah Kiki!" Seru buk Jum, gemas dengan Riski yang memang lupa atau sengaja lupa jika Lisa sudah menikah dan semalam membawa suaminya ke rumah serta menjamunya dengan makan malam besar bersama.
" Oohh!!" Sambil mengangguk-anggukkan kepala, sedikit mulai paham apa yang di maksud buk Jum. " Kasihan! tapi gakpapa lah, orang juga enak." Imbuhnya lagi, membuat buk Jum melongo sempurna mendengarnya.
Memukul lengan Riski dengan kemoceng dan membuat Riski mengadu kesakitan.
" Sakit buk Jum!!" Pekik Riski, belum sepenuhnya sembuh sudah di pukul oleh buk jum secara tiba-tiba tanpa bisa menghindar.
" Enak-enak, emang kamu sudah pernah ngerasain!!" Tuduh buk jum, melototkan mata pada cowok masih berumur dua puluh tahun itu. Dan di anggapnya sebagai anaknya juga.
" Ngrasain apa!" Tanya balik Riski, sambil menyusap lengannya yang tidak di pukul terlalu keras, tapi merasa sakit. Mungkin karena tubuhnya sudah terasa lelah dan sakit akibat kecelakan.
__ADS_1
" Tadi kamu bilang, orang enak juga. Maksudnya apa!" Intrograsi buk Jum, seperti seorang ibu pada anaknya.
" Ya kan memang enak buk jum! Nikmat kan!" Jawab Riski cepat, membuat buk Jum kembali mengankat kemoceng ke arah Riski. Dan Riski segera menghindar.
" Kamu pernah ngelakuin Ki! Astaga Riski Marzuki!! Itu dosa kiki! Belum mukrim gak boleh berbuat Zina!!" Geram Buk Jum.
" Diih.. Buk Jum. Gak baik loh fitnah orang!!" Seru Kiki. " Riski masih perjaka Buk Jumiah!! Gak pernah pacaran sama sama sekali, apa lagi main kuda-kudaan." Imbuhnya, sedikit kesal karena buk jum menuduhnya yang tidak-tidak dan juga sudah memukulnya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dulu.
" Ooh.. Alhamdulillah kalau anakku masih perjaka dan tau batasannya." Lega Buk Jum, senang karna Riski tidak melakukan perzinaan atau semacam pergaulan bebas pada anak remaja.
" Ayo ke kamar, buk jum siapin makan siang dan obatnya." Ajak buk Jum, menuntun Riski berjalan bersama menuju kamar Riski. Dan Riski menurut saja di perlakukan itu oleh buk Jum yang sudah di anggap ibu ke duanya.
****
Mengusap punggung putih dalam balutan selimut, melihat intens wajah damai tertidur di dad*nya. Rasa bersyukur saat dirinya mendapatkan harta berharga dari wanita yang menjadi istrinya sekarang.
Tidak menyangka wanitanya menyerahkan kesuciannya pada dirinya, yang tidak berani memintanya terlebih dulu. Kala dirinya sempat ragu dan takut jika di tolak oleh Lisa.
Pergulatan panas untuk pertama kalinya akan ia ingat, saat Lisa menyebut namanya begitu mendamba sama seperti dirinya yang juga mendambakan pergulatan panas di atas ranjang milik sang istri bukan miliknya.
" Hhmm." Jawab Lisa, mulai membuka mata meskipun masih mengantuk.
" Sudah siang?" Kata Bima, sambil menciumi puncak kepala Lisa dan memijat-mijat lengannya.
" Jam berapa?" Tanya Lisa, menarik selimut sedikit ke atas untuk menutupi tubuhnya. Dan mendongak memandang wajah Bima dengan senyum, kembali menutup mata sejenak menghirup aroma maskulin tubuh suaminya.
" Sudah jam satu siang." Jawab Bima, melihat jam dinding terpampang jelas di atas meja kerja Lisa.
" Jam satu!" Seru Lisa membuka mata lebar-lebar dan melihat jam yang memang benar menunjuk angka satu.
Sesiang ini dirinya bangun! duduk dengan sempurna. Mengapit selimut di antar dua ketiaknya, menutupi seluruh tubuh yang di lukis sempurna oleh suaminya begitu banyak di dad*nya.
" Kenapa." Tanya Bima, tetap bersandar di sandaran ranjang mengerutkan kening memperhatikan istrinya.
" Sudah siang, memang kamu enggak kerja?" Tanya balik Lisa, begitu santai suaminya melihat hari sudah begitu siang. Dan melebarkan mata kala melihat Bima tidak memakai baju, terpampang jelas tubuh atlentis suaminya. Memalingkan wajah, sungguh malu melihatnya.
" Kenapa Bima enggak pakai baju sih!! Kan jadi ingat tadi pagi." Gumamnya dalam hati, membayangkan kembali percintaan di pagi hari yang sangat panas untuknya.
__ADS_1
Dan rasa ingin mengulang lagi.
Dasar wanita tidak tau malu, jika tau sudah enak minta lagi. Dan kecanduan kembali.
Hanya tersenyum, menegakkan tubuhnya, melingkarkan dua tangannya di perut Lisa dan mencium punggung putih susu tanpa kain. Mendapat sentuhan dan juga ciuman hangat di punggungnya membuat tubuh Lisa melemas, dan juga geli menjalar di perutnya.
" Bim?" Desah Lisa, menutup mata. Mencoba untuk sadar.
" Hmm." Dehemnya, membenamkan wajah di ceruk leher Lisa, sekali-sekali menggigit kecil. Membuat Lisa tanpa sadar mend*sah kembali.
" Bim? Sudah siang." Mencoba untuk menahan rasa, dan menahan suaminya untuk tidak melakukannya. Bukannya berhenti, Bima semakin dalam menci*mi ceruk leher Lisa, meny*sapnya dan membuat kembali lukisan indah dari bibirnya.
Sungguh, ia terbuai kembali oleh sentuhan suaminya dan rasa ingin kembali bergulat di atas ranjang. Tapi, rasa sakit masih terasa di area sensitifnya. Meskipun Bima melakukannya dengan lembut dan kehati-hatian.
" Kita mandi bersama, Sayang." Ucap Bima, kembali mencium punggung Lisa dan turun dari ranjang. mengangkat tubuh istrinya yang terkejut saat mendengar ajakannya untuk mandi bersama.
Kemungkinan sudah jelas apa yang akan terjadi di dalam kamar mandi bersama pasangan. Begitu lama dan begitu sangat terbuai.
" Enggak usah turun sekalian saja sampai malam nanti." Sindir Riski melihat Lisa dan Bima turun dari anak tangga. Raut wajah bahagia, senang dan merah merona di pipi wanita begitu jelas saat semua penghuni rumah menatapnya.
" Lapar Ki!!" Jawab Lisa, menghampiri Riski di sofa ruang keluarga.
Mencoba berjalan sebiasa mungkin agar tidak terlalu kentara. Ya.. meskipun mereka sudah tau apa penyebab Lisa belum keluar dari kamar hingga siang.
" Enggak ada kata lapar kalau sudah enak-enak." Cibir Riski, dan langsung mendapatkan tabokan keras di lengannya oleh Lisa.
" Aduh!! Dua kali lo ini, dua kali di tabok." Gerutu Riski, mengusap lengannya yang sudah pernah di tabok oleh buk jum menggunakan kemoceng.
" Tunggu aku selesai makan. Bibirmu aku plaster nanti." Geram Lisa, dan bangkit dari duduknya. Memeluk lengan Bima dan berjalan bersama menuju meja makan. Meninggalkan Riski yang meringis kesakitan.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1