
...Biarkan ini berjalan seperti air yang mengalir, hingga kita tak tau akan kemana kita berhenti....
.
.
.
.
Mengantarnya pulang, di sambut hangat ibu yang menunggunya dengan senyum. Dan sedikit mengerutkan kening saat melihat anaknya berjalan sedikit pelan.
" Ka mu kena pa Lisa?" tanya ibu, saat Lisa dan Bima sudah ada di hadapannya dan saling bergantian bersalaman.
" Lisa terpeleset di kamar mandi buk." Ucap Lisa, membuat Bima mengerutkan kening menatapnya kala mendengar ucapan Lisa yang tidak jujur.
" Mangkanya hati-hati Lis!" Tegur ibu, sudah terbiasa mendengar putrinya seperti itu jika sedang terburu-buru dan lupa untuk mengeringkan kakinya terlebih dulu saat keluar dari kamar mandi.
" Ibu bagaimana kabarnya?" Tanya Lisa, menuntun kursi roda ibunya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
" Ibu baik? Nak Bima pasti ke re potan, ha dapi, tingkah Li sa." Ucap Ibu, membuat Bima tersenyum memandang Lisa.
Dan memang benar, jika Bima di buat geleng-geleng kepala, terkejut dan juga tersenyum menghadapai tingkah Lisa yang seperti anak kecil saat bersamanya. Manja, cerewet dan tidak ada diamnya sama sekali. Sungguh itu sangat menggemaskan di mata Bima, dan membuat moodnya membaik seperti mulai ada perubahan pada dirinya.
" Mana Ada Lisa merepotkan Mas Bima buk!" Elak Lisa, ada sedikit malu dan juga menutupi semuanya pada ibunya. Kala memang ada benarnya jika dirinya selalu saja membuat Bima kerepotan dengan tingkahnya.
" Enggak mau ngaku!" Gumam Bima dalam hati.
Malu!" Jawab Lisa, mengerti dari tatapan Bima yang pastinya membatin tentang dirinya.
" Yang be nar?" Tanya Ibu, melihat Lisa dan bergantian melihat Bima.
" Benar buk!" Jawab Lisa. " Enggak ngrepotin kan Mas!!" Seru Lisa, menatap Bima dengan mata membesar.
" Sedikit buk?" Jawab Bima, membuat Lisa mengerucutkan bibir dan memukul kecil lengan Bima, karna Bima mengadu pada ibunya dan membuat dirinya malu dan Bima pun hanya bisa tersenyum mendengar gerutuan Lisa serta kecemberutan dari bibir wanita di sampingnya. menggemaskan!
__ADS_1
" Tu kan! benar!" Ucap Ibunya, tersenyum dan menggelengkan kepala menatap putrinya yang mengerucutkan bibirnya.
" Ayo kita ma kan siang dulu nak?" Ajak ibu Lisa.
" Terima kasih buk tawarannya, tapi maaf saya tidak bisa, ada urusan di kantor." Tolak halus Bima, kala ia harus segera datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah mulai menumpuk dan di telpon oleh asistennya untuk memimpin rapat.
" Ya, su dah gak papa nak Bima? Ja ngan lu pa untuk ma kan siang dan isti rahat?" Nasehat ibu, mengerti tolakan Bima yang mungkin memang sedang sibuk di jam kerja di hari senin.
" Iya." Jawab Bima mengangguk dan tersenyum, bersaliman pada ibu Lisa sebelum dirinya pergi dari rumah Lisa.
" Hati-hati." Ucap ibu, hanya mengangguk dan tersenyum.
" Lisa anterin Mas Bima dulu ya buk?" Pamit Lisa, ibu pun hanya mengangguk dan melihat putrinya mengantarkan Bima keluar rumah dengan senang.
Sungguh, inilah yang ibunya inginkan. Melihat Lisa dekat dengan pria yang tepat di mata dan batinnya. Pria yang dewasa dan bisa menjaga Lisa, kala dirinya tak akan lama di sisi Putrinya.
Entah kenapa, dirinya bisa berpikir seperti itu. Memiliki batin, jika dirinya tak lama di dunia ini dan akan menyusul suaminya terlebih dulu meninggalkannya dengan banyak kesedihan yang mendalam, kala mengingat suaminya tiada di depan matanya saat menjadi imam untuk terakhir kalinya.
Allah begitu baik, mengambil suaminya dengan cara mati sahid. Menjalankan ibadah, dengan sujud terakhir. Sangat mulia kuasa Allah, tidak memberikan suaminya sakit dan sakaratul maut yang begitu kejam, kala ia pernah mendengar dakwah dari ustad kampungnya dulu.
Semoga saja, hanya itu harapannya. Tanpa sadar satu tetes air mata keluar dan membasahi pipinya.
" Ibuk? kenapa menangis?" Tanya suster Santi, melihat ibu Lisa meneteskan air mata.
" gak papa mbak? I bu hanya se nang saja me lihat Lisa sa ma Bima." Jawab Ibu. " Se moga Bima jo doh Lisa?"
" Amin, semoga saja buk." Timpal suster Santi, turut berdoa juga. semoga Nonanya berjodoh dengan Bima, karna memang Bima orang yang sangat tepat untuk Lisa.
" Saya pulang." Pamit Bima.
" Iya, hati-hati." Jawab Lisa. " Makasih sudah antar pulang dan mengajak aku berlibur di puncak." Ucapnya dengan senyum.
" Jangan berpergian sendiri, ajak Riski jika kemana-mana." Perintah Bima.
" Iya." Jawabnya, entah kenapa dirinya menurut dengan ucapan Bima begitu saja.
__ADS_1
Tanpa di perintah pun, Lisa juga sering mengajak Riski menemaninya pergi atau mengantarkannya kemana pun dirinya perintah. Tapi akhir-akhir ini dirinya ingin pergi sendiri, tanpa adanya gangguan dari riski atau siapapun.
Tapi justru membuat dirinya sial pergi sendirian tanpa di dampingi seseorang, dan beruntung selalu ada penyelamat tanpa sayap datang menolong dan membantunya.
" Kalau aku sudah sembuh, kita jalan-jalan ya! Ajak aku lagi keliling indonesia kalau bisa." Pinta Lisa tersenyum dan memainkan alisnya naik turun.
" Iya." Jawab Bima, membuat Lisa tercengang, tersenyum, juga dengan cepat memeluk Bima serta tanpa memikir panjang ia pun mencium pipi Bima yang membuat mata Bima membulat sempurna.
" Aahhh!! Janji ya!" Riang Lisa menatap Bima yang juga menatapnya. Dan sadar dengan kelakuannya, dengan cepat melepas pelukannya dan menjauh dari Bima.
" Kelepasan!" Lirih Lisa. Malu, menggigit bibir bawah dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah meninggalkan Bima yang masih menatapnya.
" Apa dia juga begitu! Aku berharap tidak. Dan cukup ini saja." Gumam Bima, tersenyum dan yakin jika Lisa hanya mencium satu pria saja. Yaitu dirinya, tidak ada yang lain.
" Bar-bar!!" Gerutunya, mengusap pipi yang di cium Lisa dan juga senyum sendiri mengingatnya.
Luar biasa! Dirinya tidak marah dengan Lisa, malah tersenyum lepas dan malu sendiri mengingat itu semua. Meskipun dirinya sudah pergi dari rumah Lisa.
" Astaga!! Kenapa aku bisa nyosor-nyosor segala sih!! kayak bebek saja." Gerutu Lisa, memukul kepala dan menabok bibirnya yang memeluk dan mencium Bima di luar kendalinya.
Memalukan!
Sangat memalukan, dan ini pertama kali dirinya mencium seorang pria selain ayahnya. Kelakuan kekana-kanakan keluar saat bersama pria, yang mungkin sudah membuat dirinya nyaman dan senang saat berada di sisinya.
Pria yang mampu membuat dirinya berubah menjadi periang, tersenyum, juga tertawa lepas tanpa beban. Pria yang sudah mampu mencuri hatinya dan ibunya.
Pria dingin yang sangat menyenangkan.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1