
...Senyuman mu membuat ku candu, secandu aku memikirkan kamu....
.
.
.
.
" Ini rumah kamu?" Tanya Bima, memberhentikan mobilnya tepat di depan perkarangan. Sambil menatap rumah sederhana dan asri.
" Iya, Kenapa jelek ya." Kata Lisa, menatap Bima.
" Tidak." Jawab Bima. " Ayo." Imbuhnya lagi, dengan senyum membuat Lisa ikut tersenyum dan mengangguk.
Keluar dari mobil bersamaan, di sambut hangat ibu Lisa yang duduk di teras bersama suster Santi.
" Nak Bima?" Sapa ibu Lisa.
" Buk?" Sapa Bima, mencium tangan ibu Lisa. " Ibu apa kabar."
" Ibu sehat nak Bim, ayo masuk nak?" Ajak Ibu Lisa, Bima hanya mengangguk dan tersenyum. Dan mendorong kursi roda ibu Lisa, membuat Lisa sedikit terkejut akan perlakuan Bima pada Ibunya.
Manis.
Ibu dan Bima seperti sudah akrab dan sudah seperti mengenal lebih lama. Serta senyuman itu begitu tulus.
" Kenapa mbak?" Tanya Suster Santi, berdiri di samping Lisa.
" Ibu kenapa bisa akrab sekali, dan senang Bima datang ke rumah." Lirih Lisa.
" Kan pak Bima tadi pagi telpon ibu mbak sebelum ke sini." Kata Suster Santi, membuat Lisa menoleh dengan mata membulat.
" Bima telpon ibu!" Ulang Lisa lagi.
" Iya mbak." Sambil tersenyum dan menyenggol lengan Lisa.
" Pak Bima gentleman ya mbak, cari restu ke ibu dulu baru deketi anaknya." Imbuhnya lagi dengan sedikit tertawa kecil. dan Lisa memukul lengan Suster Santi sambil berdecak sebal serta malu.
" Ciye-ciye!!" Goda Suster Santi.
" Apaan sih mbak santi ini!! Udah ah jangan ngaco." Ucap Lisa, menggelengkan kepala. Ada rasa aneh, malu dan juga berbunga-bunga bila itu benar adanya. Bima mencoba mendekatinya dengan lewat perantara ibunya terlebih dulu.
" Tunggu mbak Lis?" Memberhentikan Lisa yang akan melangkah ke dalam rumah.
" Ada apa mbak?" Tanya Lisa.
" Tadi ada yang mencari mbak Lisa."
__ADS_1
" Siapa?" Sambil mengerutkan keningnya.
" Cowok yang kemarin mbak?" Ujar suster Santi.
Fahmi?" Gumam Lisa dalam hati.
" Ini ada titipan dari cowok yang kemarin mbak." Menyerahkan bingkisannya pada Lisa.
Membukanya, melihat isinya hanya tersenyum kecil, dan menyerahkan kembali pada suster Santi.
" Taruh saja mbak di meja makan." Perintah Lisa, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Melihat Ibunya sedang mengobrol dengan Bima. dirinya ikut tersenyum dan bwrgabung dengan ibu dan Bima.
Tidak menanyakan lagi tentang Fahmi, kenapa Fahmi ke rumah, jam berapa datang dan kapan pergi. rasanya ada yang sudah memang beda meskipun dia sedang mencari dirinya. Seperti tak ada tempat lagi untuk Fahmi, arau memang dirinya masih sakit hati dengan perkataan orang yang membuatnya bisa bangkit dan membuktikan, jika dirinya bisa.
" Sudah siang, ibu sudah buatkan makanan untuk kalian." Ujar ibu Lisa. " Ayo kita makan bersama."
" Iya buk." Jawab bersaman Lisa dan Bima.
Untuk ke dua kalinya ibu Lisa merasakan makan bersama dalam meja makan penuh dengan rasa senang dan bahagia. Melihat putrinya bersama pria yang ibu sukai, sikap dewasa, ramah dan pelindung bagi Lisa.
Ibu Lisa memang sudah senang dengan Bima, di awal pertemuannya Bima mengantarkan putrinya ke rumah saat Lisa terkena jambret, mengantarkan Lisa pulang dari pesta dengan menggendong putrinya yang tertidur, meminta tolong untuk menjaga anaknya ketika berada di luar kota. Dan yang terakhir, Bima tidak lupa akan meminta ijin untuk menemui putrinya di kampungnya.
Itu sudah cukup membuatnya yakin, jika Bima memang tepat untuk putrinya.
" Nak Bima nginap di sini ya." Pinta ibu Lisa, hingga Lisa yang mendengar tersedak. Dan Bima hanya menahan senyum di bibirnya.
" Pelan-pelan Lis!" Tegur Ibu, mengusap punggung putrinya.
" Buk! Mas Bima gak boleh nginap di sini?" Ucap Lisa hati-hati. " Kalau nginap di sini, nanti pak RT datang ke rumah. Ngusir mas Bima gimana?" Imbuhnya lagi.
Memang ada benarnya, di perkampungan dan di perkotaan sedikit berbeda. Apa lagi kalau daerah perumahan, tetangga tidak akan ada yang mengusik, mereka hidup sendiri-sendiri tanpa adanya ghibah di depan rumah atau arisan ibu pkk.
Dan bagaimana bisa ibunya menyuruh seorang pria menginap di rumahnya. Rumah kecil dan tidak terlalu besar, serta bagaimana mungkin bisa menginap. Ini bukan rumahnya di kota tapi di perkampungan, yang pastinya akan menimbulkan fitnah.
" Tidak perlu buk terima kasih, saya bisa tinggal di rumah saya dulu." Tolak Bima halus, membuat Lisa dan ibunya menatapnya dengan mengerut.
" Nak Bima punya rumah di sini." Tanya Ibu Lisa.
" Iya buk." Jawab Bima tersenyum.
Pantasan dia gak tanya-tanya jalan di kota ini!" Gumam Lisa, mengingat Bima yang mengendarai mobil ke jalan arah rumahnya tanpa petunjuk jalan ataupun bertanya padanya.
" Kalau begitu istirahatlah sebentar nak di sini, pulang nanti malam saja." Pinta ibu Lisa, yang entah kenapa Lisa tak semakin mengerti dengan permintaan ibu yang membuat kepalanya bertanya-tanya.
" Iya buk." Jawab Bima mengangguk.
Dan Satu lagi ada dalam pikiran Lisa, Bima juga kenapa bisa menurut pada Ibunya.
Membingungkan.
__ADS_1
Kembali makan sambil menatap Bima yang tenang dan tak terusik dengan tatapannya. Hanya membalas sekilas tatapan Lisa dan tersenyum samar melihat kebingungan Lisa.
" Lisa? Antarkan Nak Bima istirahat di kamar kamu?" Perintah ibu.
" Hah! kamarku. Ibu keterlaluan!!"
" Gak mungkin kan Lis, Nak Bima istirahat di kamar mbak Santi?" Ujar ibunya kembali, mengerti mata putrinya yang membulat sempurna. Memprotes ketidak setujuan ibu yang menyuruh Bima untuk istirahat di kamar Lisa.
Ya, di dalam rumah hanya terdapat tiga kamar dan satu kamar mandi. Kamar milik Lisa, milik ibunya dan satu kamar tamu yang sekarang sudah di tempati su
" Baik buk?" Lirih Lisa, pasrah dengan ucapan ibunya dan untuk sementara Lisa akan istirahat di kamar suster Santi.
Ia masih berat untuk tidur di kamar ibunya, mungkin dirinya ingin menghindar dari kamar ibu untuk sementara waktu. Jika dirinya tidur di kamar ibu, ia akan terbayang wajah bapaknya dan akan membuatnya menangis. Tidak apa jika dirinya menangis di dalam kamarnya, ibu pun juga tak akan mengetahuinya. Tapi, jika di kamar Ibu ia menangis, ibu pasti juga ikut menangis dan mengingat ayah.
Mengantarkan Bima ke kamarnya, membuka kamar dan menyuruh Bima untuk masuk.
" Maaf kamarnya sempit." Sambil membuka jendela kamar. " Di sini gak ada ac cuma ada kipas angin." Ujarnya lagi, dan menyalakan kipas angin agar Bima tidak kepanasan.
Harus di maklumin, jika dulunya hidup Lisa memang sangatlah sederhana. tanpa adanya pendingin udara, kasur yang nyaman dan kamar yang luas.
" Hmm." Ucap Bima, dan duduk di kasur Lisa yang mungkin tak seempuk kasurnya atau kasur Lisa di kota.
" Intirahatlah, nanti malam aku akan mengantarkan kamu ke rumah kamu." Kata Lisa.
" Iya." Jawab Bima dan Lisa meninggalkan Bima di kamarnya sendiri.
Melihat seluruh ruangan kamar Lisa, tidak terlalu besar, meja belajar dengan buku tertata rapi, lemari pakaian dua pintu tidak terlalu besar dan juga kipas angin dinding yang bersih tanpa kotoran.
Memang sedikit panas di dalam ruangan yang mungkin dirinya sudah tak terbiasa memakai kipas angin, ia pun membuka kemeja dan juga baju polosnya, menggantungkannya di kursi belajar Lisa. Dan mulai merebahkan tubuhnya di kasur Lisa, dan memejamkan matanya untuk sesaat menghilangkan rasa lelah. Karna semalaman dirinya begadang.
Hari sudah sore, Lisa memutuskan untuk mandi setelah tidurnya nyenyak di kamar suster Santi.
Melilitkan handuk setelah selesai mandi dan melangkah ke kamarnya untuk berganti baju, tapi sayang dirinya di buat terkejut saat membuka pintu kamar mendapati pria yang sedang duduk di tepi ranjang bertelanjang dad* dengan menatapnya.
" Astaga!!" Pekik Lisa, menyadari kebodohannya jika ada pria yang menumpang istirahat di kamarnya. dengan Bima yang langsung memalingkan wajah dan Lisa menutup pintu dengan cepat serta berjalan menuju kamar suster Santi.
Memalukan.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
Yuk kak minta dukungannya, jangan lupa vote like dan komen ya. 😊😊
serta minta dukungan yang ini.
__ADS_1