
...Karena kesetiaan mahal harganya....
.
.
.
Terbangun dengan tidur yang nyaman dalam pelukan hangat seorang pria, kala terganggu oleh suara alarm dari ponsel di atas laci.
Meraba di atas laci, mencari ponsel yang berbunyi cukup nyaring dan mematikan ponsel serta kembali untuk melanjutkan tidur. Tapi sayang, seluit matanya melihat ke arah pria yang tertidur pulas memeluk pinggangnya.
Tersenyum hangat menatap suaminya, membenarkan kepala mencari tempat terbaik untuk melihat puas wajah suaminya yang tertidur pulas.
" Dia seperti dewa yunani kalau tertidur seperti ini." Gumam Lisa, mulai menelusuri wajah suaminya. lerlahan mengusap lembut pipi, beralih ke hidung kembali ke pipi dan rahang yang tegas serta jemarinya tanpa sadar mengusap bibir Bima dengan lembut.
" Bibir ini.. Pernah mencium bibirku." Ucapnya dengan senyum malu. Masih setia mengusap lembut bibir suaminya.
Perlahan wajah Lisa semakin mendekat, tanpa memberi jarak pada hidung yang mulai saling menempel. Entah, dorongan dari mana Lisa memulai dulu menc*um bibir Bima, membuat Bima dengan cepat menahan tengkuknya. Dan Lisa terkejut serta melebarkan saat pria itu menahan tengkuknya dan membuka matanya. Serta menatapnya membara, seakan ingin meminta yang lebih.
Tidak mengerti, siapa yang memulai terlebih dulu, kala bib*r itu sendiri mulai memberi l*m*tan lembut dan saling membalas dengan elegan. Perlahan menjadi agresif, meminta hal yang lebih. Mengerti, memberikan cela untuk memberi kesempatan. Tidak menyia-yiakan kesempatan, lid*h perlahan masuk menyusuri setiap rongga serta saling memb*l*t.
Tak lupa tangan mulai berpindah tempat ke dua squisi yang kenyal. mencoba mer*m*s dengan perlahan, membuat sang pemilik mendes*h di dalam ciuman yang panas. Merasakan perut terasa geli serta kenikmatan yang tiada tara.
Perlahan melepaskan ciuaman panas, memberikan kesempatan untuk istrinya maraup udara. Dan mengusap lembut bibir istrinya yang sedikit membengkak karna ulahnya.
" Apa boleh." Suara serak Bima. meminta persetujuan pada Lisa yang malu untuk menatapnya.
__ADS_1
Mendongakkan kepala, menatap sayu mata hitam yang membara dengan senyum hangat ia pun mengangguk dan memberikan persetujuan untuk Bima melakukannya.
Mencium kening Lisa sambil membisikkan doa cukup lama. menciumi kedua mata Lisa yang tertutup, beralih ke pipi, hidung dan berlabuh ke bibir.
Mengubah posisi Lisa untuk berada di bawahnya, tak membiarkan lepas ciuaman panasnya dengan Lisa mulai mengalungkan ke dua tangan di leher Bima. Membuka kancing piyama Lisa, melepas piyama dan membiarkan kain pembungkus squisi berwarna hitam melekat di sana.
Melepas pagutan, merambat ke jenjang mulus leher Lisa. Memberikan gigitan kecil membuat ******* muncul di bibir Lisa. Memulai memberikan lukisan-lukisan indah yang akan mengubah menjadi ketagihan saat mendengar ******* yang sangat merdu di telinganya.
Berjalan ke bawah, menciumi squisi dan melepas pengait kain penutup squisinya.
Satu tangan M*r*m*s lembut squisi dan satu memainkan lidah di squisi. Hingga membuat pemilik semakin mendesah, menjambak lembut rambut Bima. Merasakan sesuatu yang sangat berbeda di dalam perutnya. Puas bermain dengan ke dua squisi, perlahan kepalanya turun untuk meng*cup* perut datar Lisa.
" Eehmm.. Bim." Desah Lisa, meremas rambut Bima untuk tidak bermain lagi atas perutnya. Rasa geli tercampur dengan kenikmatan yang bisa membuat dirinya melayang ke alam surga kenikmatan.
" Aku akan memulainya sayang." Suara serak Bima, bangkit dari tubuh Lisa. Melepas semua pakaiannya dan juga pakaian Lisa. Beranjak naik ke dalam ranjang, kembali ke atas tubuh Lisa, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan memulai mem*g*t bibir manis istrinya. Dan memulai melakukan hal yang sudah di inginkan dua hari ini saat ia tak bisa memaksa istrinya.
Erang*n demi erang*n, desah*n demi desah*n saling menyauti dan menggema keseluruh ruangan di pagi hari yang cerah. berubah panas di atas ranjang dengan dua sepasang suami istri memulai melakukan malam pertamanya di ganti dengan pagi percintaan yang hangat.
Rasa sulit di percaya, sama-sama menjaga kesucian yang tidak pernah mereka berikan pada siapapun. Dan keperjakaannya di balas dengan rasa senang saat mengetahui wanita itu masih seorang perawan.
****
Tidur yang paling nyaman, adalah tidur di atas kasur empuk, guling dan bantal yang tidak keras lembut di kepala serta enak di peluk. Seperti tidur di hotel bintang lima. Ruangan khas parfum pria dan ber ac.
Sungguh, rasa ingin tidak mau beranjak dari tidurnya dan ingin sekali menenggelamkan tubuhnya lebih lama di dalam kasur empuk serta bersembunyi di bali selimut.
Mata Santi terasa sulit sekali untuk membuka, tidak peduli siapa yang akan masuk ke dalam kamar yang bukan miliknya. Dan masih menikmati tidurnya dengan pulas.
__ADS_1
" Bangun?" Suara pria mencoba membangunkannya, dengan menyentuh bahunya.
" Aku masih ngantuk Ki!!" Suara serak Santi tanpa mau membuka mata dan merubah tidurnya dengan posisi membelakangi pria yang di anggap Riski.
" Ini sudah jam sembilan, bangunlah. Sarapan dulu terus minum obat dan kembalilah untuk tidur lagi." Ucapnya lembut, menggelengkan kepala kala Santi mengira dirinya adalah Riski.
Membuka mata secara cepat, mendengar suara pria yang bukan milik Riski. Menengok ke arah belakang untuk memastikan siapa orangnya dan melebarkan mata kala dia teringat akan pria yang semalam mengajaknya untuk tidur di apartemennya.
" Pak Max." Ucap Santi, secara cepat duduk dari tidurnya tanpa sadar menekan luka di tangannya kembali. " Aaww.." Ringisnya.
" Pelan-pelan!" Cicit Max. " Ceroboh." Imbuhnya lagi, membuat Santi mengerucutkan bibir ke arah Max yang duduk di sampingnya.
Ya, setelah Max meminta tolong pada tetangga Santi untuk membantu Santi membersihkan diri dan harus terpaksa mengaku sebagai calon tunangannya agar tetangganya percaya, agar tidak mengira dirinya dan Santi tukang kumpul kebo. Max memaksa Santi untuk ikut ke apartemennya, dan tidak mungkin membiarkan wanita itu tidur sendiri di kontrakannya dengan keadaan yang masih belum sembuh total. Apa lagi saat dirinya melihat luka Santi masih mengeluarkan darah, sungguh dirinya merasa sangat khawatir.
Awalnya Santi menolak dan tidak mau ikut dengannya. Tapi akhirnya dirinya pasrah dan mau ikut ke apartemen Max, lantaran Max orang yang sangat keras kepala. Disuruh pulang, dia tidak mau dan memilih untuk tidur di ruang tamu alas karpet. Bila Max tidur di kontrakannya, itu akan menimbulkan fitnah dan pastinya akan di usir oleh para warga. Karena dirinya dan Max tidak ada status yang lebih erat.
" Sudah jam sembilan?" Lirih Santi, melihat jam ada di kamar Max. " Bapak tidak kerja." Tanyanya lagi.
" Sebentar lagi! Ayo bangun, kita sarapan bersama." Kata Max, membuat Santi mengangguk dan perlahan turun dari ranjang empuk yang tidak perlu lagi berdiri dengan susah.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃
Dosa di tanggung bersama lho ya! Sumpah, aku pusing kalau masalah unboxing.😅😅 Kalau kurang expentasi, halu saja sambil mikirin bang Bima.😄😄 Tapi kalau sudah punya suami, jangan coba-coba ya! Kalau enggak pengen di tabok panci. 😂😂