
...Mata ini tak bisa berkedip, detak jantung terpompa begitu cepat. Semua ini, hanya karna kamu....
.
.
.
.
" Ini kamar Tuan Bima Nona?" Tunjuk pelayan paruh baya sopan, tepat di depan kamar Bima bercat putih.
" Kalau begitu saya tinggal dulu Non?" Ujarnya lagi, membuat Lisa mengangguk ragu. Pasalnya dirinya di tinggal sendiri untuk menemui pria dingin di kamarnya.
Masih menatap Kamar, ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Takut jika nanti dirinya di ngap oleh Bima, karena Lisa tau tatapan Bima tajam seperti elang yang sangat menyeramkan bila bertemu dengan dirinya.
Rasa bersalah salalu saja menghantuinya, semalaman dirinya tidak bisa tidur nyenyak melihat punggung Bima memar begitu besar. di tambah saat pria di bawah tadi mengatakannya, jika tuannya sakit dan belum di berikan obat di punggungnya. Membuat dirinya benar-benar merasa bersalah.
Menarik nafas begitu panjang, mengeluarkannya secara perlahan, mengulanginya beberapa kali hingga dirinya siap untuk mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
Percobaan pertama, tak ada sautan dari dalam. dan mengulangnya ke dua kali. Menunggunya satu menit dan masih belum mendapatkan sautan dari dalam kamar.
Ingin rasanya Lisa membuka pintu kamar, tapi dirinya tau jika itu tak sopan. Karna dirinya seorang tamu. Mencoba untuk yang ke tiga kali mengetuk pintu, jika tidak di buka dirinya akan pergi dan menitipkan saja pada pelayan paruh baya yang mengantarnya tadi.
" Mungkin dia tidur?" Gumam Lisa, dan berbalik melangkah meninggalkan kamar Bima, serta berhenti kala mendengar pintu terbuka dari dalam, membuat dirinya kembali berbalik menatap kamar Bima.
Terkejut Bima membuka pintu dengan dia tidak memakai baju, expresi sama seperti semalam. Mata melebar, bibir sedikit terbuka melihat betapa takjubnya ciptaan Tuhan yang paling sempurana, apa lagi tepat ada di hadapannya. Berbeda dengan Riski yang krempeng dan tak six pack, membuat dirnya malas sekali melihatnya.
Tatapan tajam dan sedikit terkejut melihat wanita semalam yang ia tolong ada di depan kamarnya saat ini. Dan ia tak pernah sama sekali memberi alamat rumahnya pada para wanita. Apa lagi pada wanita yang ada di hadapannya.
" Kau!" Dingin Bima, membuat Lisa mengerjabkan mata dan tersenyum kaku.
" Dari mana Kau tau rumah saya!" Tanyanya, seakan Lisa seperti orang pengintai saja.
__ADS_1
" Ini!" Ucap Lisa, menunjukkan dompet ada di tangannya. " Dompet kamu jatuh di rumah ku." Imbuhnya, sebelum dirinya di tuduh yang enggak-enggak oleh Bima.
Mengambil dompet dari tangan Lisa. " Sudah?" Tanya Bima, membuat Lisa mengerutkan kening.
" Kau bisa pulang." Ucap Bima.
" Kamu mengusirku!" Seru Lisa melototkan mata menatapnya. jika di tanggapi, wanita di hadapannya ini bisa terus mengoceh tak ada henti, hingga dirinya memilih pergi meninggalkan Lisa tanpa menutup pintu kamar.
Melihat kepergian Bima membuat dirinya mengerucutkan bibir dan sedikit terkejut melihat punggung luka Bima berubah menjadi sangat memar kebiruan.
Dirinya pun ikut masuk ke dalam kamar Bima dengan cepat berjalan di belakangnya, sambil melihat memarnya luka Bima yang membuat dirinya ngilu. Hingga dirinya tanpa sadar menabrak tubuh Bima yang berhenti secara mendadak.
Bukan mendadak, hanya saja dirinya tak memperhatikan.
Berbalik cepat kala ada orang menabraknya dari belakang.
" Iihh!! Kenapa berhentinya gak bilang-bilang sih!" Gerutu Lisa, mengusap keningnya yang sakit.
Menelan Saliva, kala tatapan tajam Bima kembali terlihat olehnya. begitu dekat, hingga dirinya melangkah mundur dan menundukkan kepala.
" Dari ibu?" Ujarnya lagi, karna masih belum di terima oleh Bima.
" Terima kasih." Ucap Bima, mengmbil paberbag di tangan Lisa menaruhnya di atas ranjang.
Cihh dari ibu di terima baik." Gumam Lisa dalam hati.
" Luka kamu belum di obati?" Ucap Lisa, memberanikan diri untuk bertanya.
" Sudah." Jawabnya acuh, berjalan ke arah lemari mengambil kaos dan akan memakainya.
Tapi sayang, erangan dari bibir Bima terdengar saat dia tak bisa memakai bajunya. Membuat Lisa menghampirinya, dan menahan tangan kekar yang masih berusaha untuk memakai baju.
" Duduklah, aku akan mengolesi salep di punggung kamu." Ucap Lisa, tau jika Bima berbohong padanya. Karna luka memar tak ada bekas obat di punggung Bima.
" Tidak perlu!" Tolak Bima, melepaskan tangan Lisa yang memegangnya.
__ADS_1
" Itu perlu!! Biar luka kamu sembuh! Biar aku enggak kepikiran lagi, Dan merasa bersalah seperti ini!" Kata Lisa dengan lantang, merasa marah karena pria dingin di hadapannya sangat keras kepala dan juga menolaknya saat ingin membantu mengolesi obat di punggungnya.
Lisa, yang juga keras kepala dan tidak lagi takut dengan tatapan tajam pria di hadapannya. Dengan cepat menarik tangan Bima, membawanya berjalan ke arah ranjang dan menyuruhnya untuk duduk, tanpa mempedulikan Bima yang masih menatapnya.
Mencari sesuatu dan mata melihat ke arah atas laci yang tersedia beberapa obat, salap dan air putih di nampan. Dengan cepat dirinya berjalan mengambil salap dan kembali lagi di hadapan Bima, yang menundukkan kepala memijat pangkal hidungnya. Pusing dengan wanita yang ada di kamarnya.
" Duduk yang benar! Biar aku olesi salep tu yang memar." Perintah Lisa, membuat Bima mendongak dan kembali menatap tajam.
" Apa! Jangan menatapku seperti itu!!" Ketus Lisa, tidak memperdulikan mata elang yang tajam dengan dirinya naik ke atas ranjang dan duduk tepat di belakang Bima.
Bima yang akan berdiri pun di tahan oleh Lisa pada bahunya. " Janga berdiri, dan jangan bergerak!" Cetus Lisa, mendudukkan kembali Bima.
" Lepas!"
" Mangkanya diam!" Sengit Lisa, melepaskan tangannya di bahu Bima sambil bibir mengerucut.
Bima pun diam, menurut apa yang di perintah wanita di belakang. Entahlah kenapa! Tapi memang dirinya malas sekali berdebat dengan Lisa yang maunya ingin menang sendiri dan pastinya akan banyak drama ala film korea kesukaan wanita.
" Kayak aku wanita najis saja, gak mau di pegang-pegang. Padahal ganteng gak seberapa. " Gerutu Lisa lirih, dan terdengar oleh Bima gerutuannya. Dan gerutuan itu sukses membuat Bima tersenyum simpul bukan marah, lantaran mendengar gerutuan wanita yang dirinya tolong.
Dan tangan lembut mulai menyentuh punggungnya, mengolesi salep dengan hati-hati. Bima mulai memejamkan mata, menundukkan kepala. Bukan merasa sakit, tapi ada sesuatu seperti sengatan aliran listrik yang membuat tubuhnya menegang, di sentuh oleh wanita yang bukan dirinya kenal.
" Maaf, sudah membuat punggung kamu seperti ini?" Lirih Lisa, mengusap punggung memar Bima dengan mata yang mulai mengembun. Bisa Merasakan bagaimana sakitnya di pukul dengan keras dan membuat bekas memar di punggung pria yang menolongnya.
Sungguh dirinya sangat merasa bersalah, andai saja tidak di tolong mungkin dirinya yang akan terluka dan bisa kemungkinan Lisa akan masuk ke rumah sakit.
" Kamu sudah menolongku tiga kali, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku, jika kamu tidak menolongku." Ucapnya dengan serak. " Terima kasih, semoga cepat sembuh." Ujarnya lagi, Mata Bima mulai membuka perlahan tanpa menoleh ke Lisa yang mengucapnya terima kasih.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1