
...Daya tarikmu begitu kuat, hingga aku tak sadar jika aku memikirkanmu....
.
.
.
.
" Sekali lagi terima kasih sudah menolong aku, Maaf aku sudah merepotkan mu, semoga lekas sembuh." Ucapan terakhir Lisa setelah selesai mengobatinya dan pulang dari rumahnya dengan senyum tulus dan juga rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya.
Seperti biasa, duduk di balkon menghisap rokok yang entah sejak kapan ia suka dengan nikotin yang membahayakan tubuhnya. Bukan hanya suka dengan minuman keras, tapi juga satu bungkus rokok setiap hari ia habiskan. Seperti sudah mulai kecanduan dalam dirinya.
Menikmati setiap hisapan dan mengeluarkannya dengan perlahan, membuat pikiran itu seakan tenang, tapi tetap ia masih memikirkannya.
Memikirkan sentuhan tangan yang mengusap punggungnya dengan lembut, memikirkan ucapan yang begitu khawatirnya pada dirinya, dan terbayang senyum manis dari wanita yang ia tolong. Sungguh, dalam isi kepalanya sampai saat ini hanya terbayar wajah Lisa.
" Wooii!!" Tegur Doni, datang ke rumah dengan wajah sumringah dan masuk ke kamar tanpa seijinnya.
Ikut duduk di balkon, mengambil kaleng minunam keras dan mulai meneguknya.
" Dengar-dengar ada cewek datang ke rumah nich!" Seru Max, yang juga datang dan ikut duduk di samping Doni.
" Siapa! Penasaran." Pancing Max kembali dengan menahan tawa.
Max sudah di beritahu oleh Doni, menceritakan semua yang dirinya lihat, dari kedatangan Lisa, buah tangan dari ibunya, dan ke khawatiran Lisa terhadap Bima yang terlihat jelas di wajahnya.
Semuanya Doni ceritakan pada Max, Hingga Doni mengintip Bima dan wanita itu di kamar pun ia ceritakan.
Dasar penguntit!
Dan menguntit pun ada hasilnya, serta seulas senyum dan tawa Doni begitu senang. Wanita itu bisa membuat Bima tersenyum meskipun hanya sekilas dan juga Bima menurut pada Lisa. Tidak ada wanita seberani Lisa dan senekat Lisa mendekati Bima yang tatapannya tajam seperti elang.
" Cantik bro, lebih cantik dari mantan pacar loe." Kata Doni. " Gue pengen kenalan sama tu cewek." Imbuhnya lagi, dan mendapatkan tatapan tajam dari Bima.
" Jangan cari masalah, kalau loe gak pengen di mutasi atau di pecat." Tegur Max, melirik tatapan Bima yang tajam mengarah pada Doni.
" Mutasi di papua! Pecat, jadi pengangguran. Usaha gak punya! Hutang masih banyak." Kata Doni, membuat Max tertawa kecil. " Ogah gue!!" Ujarnya lagi, menggelengkan kepala tak mau dirinya di pecat atau di mutasi oleh bosnya.
" Tapi tu cewek memang cantik, gue aja klepek-klepek." Ucapnya Doni kembali. " Loe gak mau Bim! Kalau loe gak mau kasih ke gue aja." Tambahnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
" Max, kasih surat penurunan jabatan." Membuat Doni menyemburkan minuman dari mulutnya. Dan Max tercengang mendengarnya.
" Gue bercanda Bim!" Seru Doni, mengusap bibir yang basah dan menggelengkan kepala. Max tertawa melihat ketakutan Doni yang akan di turunkan jabatan oleh Bima.
" Max!" Rengek Doni meminta bantuan pada Max, niat ingin memancing Bima untuk mencaritau hubungan Bima dan wanita itu. Malah dirinya yang terkena masalah.
Max hanya mengangkat kepala, tak tau harus berbuat apa. Karena dirinya memang suka wajah Doni yang mulai ketakutan akibat ancaman pekerjaan dari bosnya.
" Cih!! Loe gak setia kawan! padahal loe yang penasaran, suruh pancing nich anak, tapi gue yang kena ancaman!" Gerutu Doni, membuat Max memicingkan mata dan tak pernah dirinya bilang seperti itu pada Doni.
" Gue! Suruh loe pancing bos loe!" Ucap Max, dan di anggukkan pelan Doni dengan wajah memelas. " Jangan turunin jabatan, kalau bisa pecat saja." Imbuhnya lagi, membuat Doni semakin membulatkan mata
" Enak saja gue di bawa-bawa, padahal loe sendiri yang penasaran sama wanita bos loe."
" Tega loe Max! Jangan di pecat, iya gue salah!" Sesal Doni, melemas karena Max tak mau membelanya dan malah mengompori Bima untuk memecatnya.
Melihat wajah Doni yang menyesal dan juga takut, membuat Max tertawa dan Bima hanya tersenyum serta menggelengkan kepala.
Teman yang bisa membuat dirinya tak kesepian dan bisa membuatnya sedikit terhibur dengan kehadiran Max dan Doni, Kekonyolan Doni dan keisengan Max.
Seperti dirinya teringat dengan mantan bos yang sudah di anggapnya saudara, yang entah bagaimana kabarnya. Jarang sekali mereka bertemu dan jarang berkomunikasi dengan mantan bosnya. Mungkin keponakannya sekarang sudah besar dan semakin cerewet jika bertemu. Rasanya rindu sekali dengan gadis kecil yang bisa membuatnya tertawa.
Mematikan rokok, berdiri dari duduknya memutuskan untuk ke dalam kamar meninggalkan mereka berdua sedang mengobrol dan berdebat karena kesalahan.
" Max!!" Seru Doni, dan mengejar Max yang akan keluar kamar Bima.
Hanya menggelengkan kepala melihat temannya yang sudah keluar dari kamarnya, berjalan menuju ranjang. melihat paberbag di laci, mengambilnya dan melihat isi di dalam.
" Sebagai tanda terima kasih sudah menolong aku, tolong di terima meskipun tidak seberapa bagus." Tulis Lisa, membuka kotak yang berisi jam tangan elegan dan simpel. tidak begitu mahal dan tidak terlalu murah. Kembali tersenyum, dan mengingat jika itu ternyata bukan pemberian dari ibu Lisa melainkan dari Lisa sendiri yang membelikannya sebagai tanda makasihnya.
Menutup kembali kotak jam tangan terbuat dari kayu, kembali menaruhnya di atas laci, dan mulai merebahkan tubuhnya di ranjang. Untuk esok hari mulai beraktivitas kembali.
****
" Mbak, nanti malam ada undangan pernikahan tu dari castamer langganan mbak?" Ucap Riski, saat melihat undangan pernikahan ada di atas meja kerja Lisa.
" Di mana?" Tanya Lisa, masih fokus dengan catatan buku penjualan.
" Di hotel xxx, jam tujuh malam." Jawab Riski. " Mau aku anterin mbak?" Tawar Riski.
" Enggak usah Ki, dekat dari sini kok." Tolak Lisa, membuat Riski mengangguk.
__ADS_1
Lisa terkenal dengan keramahannya pada castamer, dan membuat para castamer suka dengan Lisa yang tidak sombong. Castamer Lisa di gudang, juga mempunyai toko dan menjual barang-barang Lisa dengan harga yang sama seperti toko Lisa yang menjual eceran. Saling menguntungkan dan saling bekerja sama.
Hari sudah sore, dan Lisa masih sibuk dengan pekerjaannya jika saja Riski tak mengingatkannya lagi, mungkin ia akan mengecewakan castamernya yang sudah mengundangnya untuk datang di acara pernikahan.
Tidak mungkin dirinya pulang, untuk mengambil baju pesta. Pastinya akan memakan waktu yang banyak. Mencoba memilih baju di gudang yang di display oleh karyawannya.
Satu baju pesta loong dres berwarna biru, berbahan beludru, lengan pendek, potongan sabrina serta belaian samping hingga terlihat paha mulus. Memperlihatkan lekuk tubuh dan juga elegan jika di pakai olehnya.
Bahu yang mulus, rambut di sanggul sendiri olehnya, tidak lupa make up senatural mungkin di tambah lipstik merah muda yang membuat bibirnya terlihat menawan.
Beruntung Lisa menyimpan beberapa sepatu hak tinggi di ruangannya. Jika ada keperluan mendadak, tak perlu dirinya pulang atau membeli sepatu di luar.
Di saat dirinya keluar dari ruang kerjanya dan akan berangkat. Semua mata karyawannya menatap Lisa hingga membuat Lisa mengerutkan kening.
" Kenapa?" Tanya Lisa, menatap dirinya sendiri " Jelek ya?"
" Enggak mbak!" Ucap semua karyawan, menggelengkan kepala cepat.
" Cantik mbak?" Ucap salah satu karyawan.
" Iya, seperti model."
" Artis papan atas kalah." Timpal yang lain, membuat Lisa menggelengkan kepala mendengar pujian dari karyawannya.
" Ini beneran Bosku?" Tanya Riski tak percaya akan apa yang di lihatnya sekarang, Lisa tak pernah berpakaian seperti ini dan ini baru pertama kali Lisa memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
" Bukan!" Ucap Lisa. " Ini mbak Lisa." Imbuhnya dengan tertawa.
" Cantik mbak!!" Puji Riski.
" Gak ada uang receh Ki!"
" Aku antar mbak?"
" Enggak usah, istirahat saja. Aku berangkat dulu."
" Hati-hati mbak." Ucap Riski, dan di anggukkan Lisa, berjalan dengan anggun menuju mobilnya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃