
...Hati ini sudah berubah, dan aku tau untuk siapa yang bisa menempatinya....
.
.
.
.
" Makasih sudah di antar pulang?" Ucap Lisa, kala Bima mengantarnya sampai depan rumah.
" Iya." Jawab Bima. " Salam untuk ibu kamu." Imbuhnya lagi, kala dirinya tidak bisa masuk ke dalam rumah Lisa karna sudah terlalu malam.
" Iya." Jawab Lisa dengan senyum.
" Hati-hati di jalan." Hanya mengangguk dan tersenyum untuk menjawab.
Keluar dari mobil Bima dan membuka kaca mobil untuk melihat Lisa masuk ke dalam rumahnya, hingga dirinya menjalankan mobilnya kembali saat Lisa sudah tak terlihat.
Pria bertanggung jawab.
Terasa seperti kurang saja, menghabiskan waktu malamnya berjalan berdua dengan Lisa. Dia benar-benar sudah membuat Bima tertawa lepas untuk pertama kalinya. Menikmati malamnya, bercanda dan tertawa bersama wanita cerewet. Tidak ada habisnya membuat dirinya tersenyum dan tertawa dengan tingkah konyolnya.
Tak ada sifat jaim yang di sembunyikan sama sekali saat bersamanya. Lisa memang seperti itu, apa adanya.
Dia gadis manis, murah senyum dan gampang cemberut jika di goda. dia gadis sederhana, gadis tangguh dan tulang punggung keluarga.
Seperti apa yang dirinya inginkan.
Berjalan bersama, menikmati malam semakin dingin. memutuskan pulang kala langit semakin gelap dan sinar bulan tidak lagi terang.
Sesampai di rumah, Bima di sambut oleh kepala pelayan. Menawarkan makan malam, tapi di tolak olehnya karna dirinya sudah makan di luar. Berjalan masuk ke dalam kamar, melepas sepatu kerja, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, menutup mata sebentar sambil tersenyum mengingat kelakuan Lisa.
Menyenangkan.
Hingga dirinya membuka mata, saat mendengar ponselnya berbunyi.
" Sudah sampai rumah?" Pesan masuk tanpa nama, membuat dirinya mengerutkan kening mencoba melihat foto profil, hingga tersenyum mengetauhi siapa yang mengirim pesan padanya.
__ADS_1
Lisa?
" Sudah. Belum tidur?" Tanya balik Bima, membalas pesan dari Lisa. Yang lupa belum ia simpan nomernya, kala dirinya meminta nomer telpon Lisa saat perjalanan pulang.
Bukan dirinya yang mengetik nomernya, tapi Lisa sendiri yang menyimpan nomer Bima. Dan memiscall nomer ponsel Bima.
" Sebentar lagi, makasih sudah mentraktirku makan malam. Lain kali aku yang akan mentraktir kamu makan malam. Oke." Pesan Lisa.
"Jangan jera ya jalan sama aku. Selamat malam." Ujarnya lagi, membuat Bima terseyum.
Bukannya jera, tapi sangat menginginkan kembali jalan bersama Lisa. Melihat kecemberutannya, senyumnya dan juga tingkahnya.
Menggemaskan!
" Aku tunggu traktiran kamu. Selamat malam juga." Balas Bima, hingga di sebrang sana melebarkan mata saat Bima menunggu untuk traktirannya, dan tersenyum-senyum sendiri seperti remaja kasmaran.
Berguling ke sana kemari, menggigit selimut yang di pegangnya, tersenyum sendiri karna pria itu sudah membuatnya jadi salah tingkah. Mendapatkan balasan tak terduga. Ingin membalas pesan, tapi tak ada topik lagi dan malu jika dirinya di bilang wanita agresif terlebih dulu.
Padahal tanpa sadar, Iya!
Sering sekali membuat Bima tergoda, tapi pria itu tak segampang pria lain yang langsung senang, kala wanita suka memamerkan lekuk tubuhnya.
Entah perasaan apa ini, ada rasa senang, nyaman dan juga bahagia saat mereka saling membalas pesan atau sedang jalan bersama.
Apa ini yang namanya jatuh cinta?
Itu tidak mungkin, karna mereka berdua baru satu bulan lebih mengenal. Dan belum ada rasa cinta. Mungkin hanya sekedar rasa senang saja untuk berteman.
Untuk Lisa, pertama kali merasakan kenyamanan saat bersama pria. Merasakan tenang dan senang kala ia kembali berjalan bersamanya.
Bima tersenyum dan juga tertawa untuk pertama kalinya di hadapannya. Dulu, saat pertemuan pertama, ke dua, ke tiga, Bima sungguh dingin dengannya. Tidak ada ramah, tersenyum atau tertawa di depannya. Berbicarapun juga irit, tatapannya juga tajam, hatinya sangat dingin. Tapi malam ini, untuk pertama kali Lisa bisa melihat mata Bima yang menghangat, senyum manis tulus dan tertawa lepas. Seperti menemukan sifat Bima yang asli.
Dan Lisa baru menyadari jika dirinya menyuapi makan Bima di tempat makan mereka tadi. Dan membuat dirinya semakin malu serta heboh sendiri di atas kasurnya.
Malam semakin larut, mencoba untuk memejam mata meskipun rasanya tidak bisa karna hati masih berbunga-bunga. Hingga mata mulai berat dan tertidur sendiri dengan seulas senyum di bibirnya.
****
Melihat paberbag yang sudah mulai kusam, mengambilnya dari lemarinya, duduk di pingir ranjang dan membuka dengan pelan.
__ADS_1
Tersenyum membuka isinya yang sangat berharga baginya selama ini, ia simpan begitu berarti, jarang memakai dan tak ingin membuatnya rusak. Karna itu sangat berharga.
Membuka kotak dan melihat jam tangan berwarna hitam, pemberian dari seorang gadis beberapa tahun lalu. Mengantarnya di bandara dengan memberikan hadiah untuk dirinya sebelum ia pergi ke luar negeri, melanjutkan ke perguruan tinggi demi gadis itu yang memintanya menggapai cita-citanya dan juga menuruti kemauan orang tuanya yang sudah mendaftarkannya di sana.
Sangat berat waktu itu pergi, tapi karna dukungan dan juga keinginan orang tuanya. dirinya mau pergi dan tidak ingin mengecewakan keluarga dan gadis yang di cintainya
Gadis itu sangat mendukungnya.
" Kita sudah lama tidak saling mengasih kabar, bagaimana kabar kamu.!" Ucapnya sendiri, mengusap jam tangan yanga ada di tangannya. Pemberian dari cewek yang di cintainya.
" Kamu hilang begitu saja, tidak memberiku kabar sama sekali. Apa semua baik-baik saja. aku harap kamu baik-baik saja."
" Aku sudah lulus, aku akan pulang. Aku akan menagih janji kamu waktu itu saat di bandara."
" Tunggu aku?" Ujarnya, tersenyum senang karna selama tiga tahun ini ia tidak pulang ke tempat asalnya dan tak pernah tau bagaimana kabar gadis yang ia cintai.
Selama dirinya kuliah di luar negeri, ia tak pernah sama sekali berhubungan dengan wanita, suka dengan teman wanita di kuliahnya pun tidak pernah. Dirinya benar-benar sudah memantapkan hatinya dengan gadis dari asalnya.
Gadis yang membuatnya semangat untuk kuliah, mengejar cita-citanya dan semangat untuk cepat pulang ke tempat asal.
Rasa rindu dan juga rasa ingin menagih janjinya pada gadis itu. Sudah lama ia tidak mendapatkan kabar sama sekali, nomer ponsel dia yang tidak aktif, media sosial dia yang sudah tidak ada lagi dan juga teman mereka yang tidak tau bagaimana kabar gadis itu. Termasuk Mawar yang juga sudah mengganti nomer telponnya.
Entah kenapa?
Menaruh jam tangan di dalam koper, menutupnya dan berjalan keluar dari kamar asrama. meninggalkan tempat asrama kala ia sudah lulus, menuju bandara untuk kembali ke tempat asalnya yang ia rindukan.
" Lisa?" Gumamnya dalam hati. Selalu tersenyum dalam perjalanan.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Yuk kak jangan lupa, like, komen dan vote ya!! 😊😊
__ADS_1