
...Jangan dia, tapi lihat lah aku. Karena aku mencintai kamu....
.
.
.
.
" Aaww!" Pekik seorang wanita yang jatuh akibat seseorang membuka pintu mobil dari dalam tanpa melihat luar terlebih dulu.
Menutup pintu mobil dan segera menghampiri wanita yang terduduk di aspal, meringis kesakitan dengan tangan yang terluka.
" Maaf mbak, maaf." Ucap pria yang membuatnya jatuh dan terluka.
Mengambil buku dan ponsel yang berserakan dan mengulurkan tangan pada wanita yang menatapnya dengan sebal. Berdiri sendiri tanpa mau bantuan dari pria yang menyebalkan.
" Maaf, saya tidak sengaja." Ucap pria itu lagi.
" Lain kali mata itu di pakai kalau mau buka pintu mobil. Jangan ponsel saja yang di dengar!" Ketus Wanita itu, mengambil buku dan juga ponsel dari tangan pria yang menatapnya dengan mata membulat. Dan berjalan meninggalkannya tanpa mau mendengarkan penjelasannya.
" Gue di marahin! Sial!" Umpatnya dalam hati, dan untuk pertama kali pria matang dan tampan di marahi seorang wanita yang tidak terpesona dengannya.
Dirinya bukan Doni wajah yang pas-pasan, cengengesan melihat wanita, apa lagi jika di marahi. Dirinya adalah Max, yang tak pernah terima jika di marahi meskipun sudah meminta maaf. Dan bukan sepenuhnya salah dirinya juga, wanita itu juga salah bermain ponsel tanpa melihat sekelilingnya.
Berbalik ke belakang, dan melihat wanita itu sudah masuk ke dalam taksi. Ingin mengejarnya, tapi ponselnya kembali berbunyi dan melihat nama yang menelponnya.
" Setan!" Umpatnya, dan mengangkat telpon dengan perasaan dongkol.
" Iya, saya sudah sampai. Tunggu sebentar." Ucap Max dan mematikan telponya sepihak.
***
Berjalan masuk ke gudang dengan kaki sedikit pincang. Sambil bibir cemberut dan juga meringis kesakitan.
" Kenapa mbak?" Tanya Riski, milihat jalannya Santi yang sedikit pincang dan mengikutinya menuju meja kerjanya.
" Habis di tampor orang." Lirih Santi, mencari obat luka di dalam lacinya.
" Kok bisa! Mbak buat masalah!" Seru Riski, mulai duduk di samping Santi dan membantunya untuk mengobati lukanya.
" Bukan aku yang buat masalah, tapi tu orang yang membuat masalah!" Ketus Santi, masih dengan rasa dongkol. karna pria yang membuka mobil tanpa melihat luar terlebih dulu.
__ADS_1
Ya, Santi sedang ada urusan dengan temannya di salah satu cafe terkenal. Hanya sebentar dan tidak terlalu lama, karna dirinya terburu-buru untuk kembali ke gudang. Saat Santi berjalan cepat menuju keluar cafe sambil mengecek ponselnya, ia terkejut dan terjatuh karna terkena pintu mobil yang di buka dari dalam.
Pria yang ada di dalam mobil menatapnya dan langsung mematikan ponselnya untuk segera membantunya. Sungguh pria itu sangat menyebalkan, jika saja ia tidak terburu-buru, mungkin sudah akan dirinya maki-maki hingga habis tak tersisa tenaganya.
" Orang itu buka mobil gak lihat-lihat, kalau saja aku enggak keburu. Sudah aku habisin tu orang." Geram Santi.
" Nanti kalau ketemu orangnya lagi, aku bantuin mbak."
" Enggak mau aku ketemu lagi! Cukup satu kali saja." Jawab Santi, dengan bibir cemberut.
Rasanya tidak ingin lagi bertemu dengan pria yang membuatnya terjatuh. Cukup sekali saja, jangan ada lagi yang ke dua dan ke tiga pertemuan.
****
" Mau kemana?" Tanya Bima, melihat Lisa yang akan meninggalkan dirinya sendiri di meja makan.
" Eemm, mau ke dapur." Ucap Lisa, membuat Bima mengerutkan kening. " Mau ambil mi-,"
" Duduk." Perintah Bima, tanpa mau di bantah. Dan Lisa hanya bisa menghela nafas lelah, karna jantungnya belum aman bila di dekat Bima kembali.
Duduk di samping Bima, dengan pandangan menunduk. malu masih mengingat kejadian di kamar Bima, berciuman dengannya di pagi hari.
" Gak mau ambilin aku makanan?" Tanya Bima, membuat Lis menatapnya. Dan mengambilkan makanan walaupun rasa malunya ia tutupin dengan tidak lagi menghiraukan tatapan Bima, yang tersenyum padanya.
Malu-malu kucing.
" Pak Agus enggak akan mau makan sama kita." Sahut cepat Bima. " Kembalilah duduk." Perintah Bima, membuat Lisa kembali duduk dan gugup.
" Kenapa enggak mau?" Sambil melihat kanan kiri, yang terlihat sangat sepi dan entah kemana para pelayan Bima berada. Seperti mereka bersembunyi, tidak ingin mengganggu Tuannya yang sedang berdua dengan seorang wanita.
Untuk ke dua kali.
Ya, ke dua kali. Lisa datang ke rumah Bima. Dan ke dua kali para pelayan melihat wanita datang ke rumah Tuannya dan itu adallah wanita yang sama, saat pertama kali para pelayan lihat.
Hingga mereka mengira, jika Lisa adalah calon istri Tuannya.
" Suapin."
" Hah!" Pekik Lisa, membulatkan mata mendengarnya.
" Kenapa? Enggak mau? Tanganku sakit, mana bisa aku menyentuh sendok." Ujar Bima, memperlihatkan tangannya yang terbalut perban.
Sejak kapan pria dingin di hadapannya ini begitu menyebalkan dan juga banyak berbicara lugas tanpa kaku, tanpa dingin dan tanpa ketus. Dan sejak kapan manja begini!
__ADS_1
" Bim!" Lirih Lisa, tidak percaya dengan pria ada di sampingnya.
" Hemm, Iya!" Jawabnya dengan senyum mengembang.
Astaga!!
Rasa ingin nampol wajah Bima saat ini. Kenapa dia begitu berubah! Apa karna ciuman di pagi harinya, dia berubah begini.
Tidak, tidak, tidak.
Mungkin itu masih pengaruh mabuknya semalam, dan belum sepenuhnya sadar.
Menggelengkan kepala, menyadarkan pikirannya. Untuk tidak lagi mengingat ciumannya bersama Bima.
" Malu! Nanti di lihat sama orang-orang rumah." Tolak halus Lisa, masih tidak mau menuruti perintah Bima. Menyuapinya di depan umum seperti ini.
" Mereka enggak akan lihat." Jawab Bima, tenang tanpa merasa beban.
Ya bagiamana mereka mau melihat, jalan saja para pelayan harus memutar arah. Agar tidak merusak suasana meja makan Tuan dan calon Nyonyanya.
Sebegitukah para pelayan menghormati Bima. Melayani dengan hati-hati dan juga penuh dengan privasi. Tanpa ada kegaduhan dan kesalahan kecil.
Takut, tentu saja. Hanya Bima tidak sekejam yang orang lain pandang. Bima hanya memberi peringatan dan keringanan, jika ada yang salah dalam bekerja.
Tidak seperti Tuan-Tuan yang sombong dan pemarah. Sedikit ada kesalahan, Tuan itu akan memaki, menindas dan juga memecatnya. Tidak memberi ampun pada pelayan.
Sungguh kejam bukan!
Beruntungnya, orang yang bekerja dengan Bima. Mereka seperti di beri kebebasan dan juga di beri kepercayaan untuk melayaninya. Hingga semua orang yang bekerja dengan Bima, merasa betah dan tidak pernah ada kata mengeluh sama sekali dari bibir mereka.
" Aaaa!" Ucap Bima, sambil membuka mulutnya di hadapan Lisa.
Masih menoleh ke kanan dan ke kiri, takut jika ada yang melihat dan ragu untuk menyuapi Bima yang masih setia membuka mulutnya dan melihatnya.
Cih! Menyebalkan!
Mengambil piring berisi makanan di depan Bima, dan mulai menyuapinya dengan rasa malu dan juga gugup.
Rasa ingin dirinya menyelam ke dalam lautan. Karna Bima yang menyebalkan.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃