Nona Lisa

Nona Lisa
Rasa syukur


__ADS_3

" Dia masih tidur?" Gumam Santi masuk ke dalam kamar dengan pelan. selesai memasak, memanaskan makanan dan juga membersihkan rumah kontrakannya.


Mengambil pakainnya tanpa membuat kebisikan agar tidak membangunkan Max yang tertidur sangat lelap karna perjalanan jauh. Rasa tubuhnya sangat lengket dan juga lelah. tidak mungkin jika dirinya merebahkan diri di saat tubuhnya berkeringat dan sedikit bau badan. Apa lagi dirinya juga bingung tidur dimana, pasalnya Max tidur di kamarnya.


Lupakan dulu soal tidur, Santi bergegas keluar kamar dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan ketika selesai mandi, ia akan membentangkan karpet bulu di ruang tamu untuk segera meluruskan tubuhnya, meskipun bukan di atas kasur lantainya.


" Hah! Segernya?" Ucap Santi, mengusap rambut yang masih basah dan mulai menutupinya dengan handuk.


Mulai membentangkan karpet, dan terlihat jika tidak ada bantal. Santi harus kembali ke dalam kamarnya, dan harus berhati-hati mengambil bantal yang berada di ujung dinding dan melawati tubuh Max yang sedang tidur terlentang.


membungkukkan tubuh dan mengambil bantal.


" Ah!!" Pekik Santi, terkejut saat Max menarik tangannya dan dirinya terjatuh di atas tubuh Max.


" Pak Max!" Seru Santi.


" Ohh ya Tuhan! gak aman ini, gak aman." Gumam Santi dalam hati, merasakan ke dua tangan kekar melingkar di pinggangnya dan hembusan hangat begitu terasa di wajahnya.


" Gak akan macam-macam, cuma begini saja." Serak Max, mata sayu memandang wajah Santi dari satu jangkal.


Oh, ****! Jangan-jangan, belum waktunya." Batin Max. merasa tidak aman, tapi tak bisa untuk di lepas.


" Pak Max?" Rengek Santi, rasa ingin memberontak dan ingin bergerak. Tapi saat ini ia tidak berani, karna dirinya merasakan sesuatu yang mengeras di bawahnya. Dan itu yang sangat membuatnya gugup serta takut.


Bukan takut di eksekusi, tapi takut karna ini masih melanggar aturan, belum sah secara agama dan resmi. Dan takut bila Max hanya bermain-main saja dengannya, secara lamaran itu sangat mendadak tanpa kehadiran orang tua Max.


" Sudah jangan bergerak dan diam." Perintah Max. Dirinya juga tertekan dengan semua ini. Niat ingin menggoda, malah dirinya yang tergoda. Dan ini, yang berada di bawah Santi, Sungguh menyiksanya.


Andai saja tidak ingat dengan janjinya pada ke dua orang tua Santi, sudah pasti Max akan melahap habis siang menjelang sore hari.


" Ayo tidur, aku masih mengantuk." Ucap Max, menyandarkan kepala Santi pada Dadanya. membuang lilitan handuk di atas kepala Santi. Sedikit menekannya untuk tidak kembali lagi mendongak menatapnya yang pastinya akan terlihat wajah dirinya sedang menahan hasrat.


" Wangi. Oh! Sial." Umpat Max. Sungguh ini sangat buruk dan lebih buruk lagi karna menghirup rambut Santi setengah basah bau sampho.

__ADS_1


" Pak! Aku kalau begini gak akan bisa tidur!" Pekik Santi. menutup mata rapat-rapat, menelan ludah dan bisa mendengar detak jantung Max berdebar cepat.


" Sama." Lirih Max.


" Ya sudah lepasin!"


" Gak Bisa, sudah lengket. Kalau kamu bergerak sedikit saja, aku akan mengukung kamu di bawah. Mau!" Ucap Max.


" Eh!! Enggak-enggak, aku enggak mau." Tolak Santi cepat. Takut dengan ucapan Max.


" Ya sudah diam. Ayo kita tidur, aku janji gak akan ngapa-ngapain." Kata Max, sambil menepuk-nepuk punggung Santi pelan, menutup mata dan menikmati aroma wangi di tubuh wanita yang sudah menjadi tunangannya.


Santi hanya bisa menghembuskan nafas berat, kelopak mata semakin menutup rapat, bibir sedikit manyun dan tangan sedikit meremas baju dalaman Max yang ternyata tidak memakai kemeja.


" Jangan di remas-remas gitu, Baby! Aku semakin enggak tahan!" Serak Max.


Oh! Astaga!!


****


Bukan rasa senang lagi, tapi rasa bahagia dan bersyukur Tuhan telah memberikan anugrah yang terindah dalam hidup sepasang suami istri, sudah di nanti-nanti selama awal pernikahan baru di mulai.


Benih cinta dari suami istri, kini tertanam sempurna di rahim wanita yang di cintainya. Calon bayi, masih berumur tujuh minggu itu sangat menggemaskan dan sangat lucu untuk di lihat dan di abadikan setiap momen pemeriksaan usg.


Bukan hanya satu calon bayi di rahim istrinya. Tapi ada dua calon bayi yang ada di dalam rahim Lisa.


Tuhan, begitu baik dan begitu mengerti tentang mereka, suami istri. yang tidak pernah merasakan mempunyai saudara. Hidup sendiri tanpa tau bagaimana kasih sayang antar saudara kandung.


Dua calon bayinya, dua calon yang akan menghiasi seluruh hidupnya nanti bersama sang istri tercinta. Kini hidupnya semakin bahagia, akan kehadiran dua buah hati cinta yang di tunggu-tunggu.


" Kembar?" Ucap Bima, mengusap perut istrinya sedikit membuncit. Tersenyum-senyum dan mata berbinar menatap perut Lisa yang ada calon dua bayinya.


" Iya?" Jawab Lisa mengangguk tersenyum daj mata berkaca-kaca. Tidak menyangka Tuhan memberikan hadiah begitu indah dan nyata di dalam harimnya, hingga menunggunya sampai sembilan bulan nanti.

__ADS_1


" Terima kasih sayang." Ucap tulus Bima, merengkuh tubuh Lisa dan mencium kening istrinya begitu lama.


Memeluk Bima dari samping, membenamkam wajahnya di bahunya. Setetes air mata jatuh membasahi baju Bima.


" Dia tidak sendiri, dia punya saudara. Aku senang, aku tidak takut lagi bila dia punya saudara." Isak Lisa, semakin memeluk erat pinggang Bima.


" Aku hanya takut, bila dia seperti aku. Tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kala di tinggalkan ke dua orang tua saat aku belum mempunyai pasangan. Aku takut itu! Aku takut bila itu terjadi pada anakku!" Imbuhnya.


Setiap wanita pasti akan takut. Ya, Lisa takut bila anak tunggal, tidak akan bisa mempunyai keturunan banyak. Dan akan menurun mempunyai satu anak.


Tapi nyatanya itu tidak, Justru Lisa hamil calon bayi kembar. Bayi kembar yang sehat dan kuat, ucap dokter.


" Jangan bicara seperti itu?" Tegur lembut Bima, mengusap lengan Lisa dan mencium puncak kepala Lisa.


" Anak tunggal atau kembar. Kelak sampai anak kita dewasa, kita akan tetap menjaganya. Mencarikan pendamping yang tepat untuknya dan sampai anak kita siap untuk di tinggalkan nanti." Ujar Bima.


Bukan Lisa saja yang juga merasakan kegundahan hati, dirinya pun juga sama seperti istrinya. Dan lebih parah dari istrinya. Hingga itu ia tak ingin menjadi orang tua yang kejam pada calon anak-anaknya nanti.


Cukup dirinya dan Lisa saja yang merasakan itu, tidak perlu calon anak-anaknya. Karena dirinya tau bagaimana kejamnya dunia yang ingin melihat kekuatannya bertahan hingga Tuhan memberinya belas kasihan padanya. Dan menjadikannya hidup lebih baik dari yang dulu.


" Aku bersyukur, Tuhan mempertemukan aku dengan kamu. Terima kasih, sudah mencintaiku Mas Bima." Ucap Lisa.


" Terima kasih juga, kamu sudah mau menerimaku. Nona Lisa." Kata Bima, memeluk erat istrinya dan kembali menciumi puncak kepala Istrinya.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2