Nona Lisa

Nona Lisa
Kartu nama


__ADS_3

Lisa berjalan ke arah panggung pengantin, beriringan dengan Bima yang menggandeng tangannya dengan lembut, di ikuti dari belakang Riski dan Doni.


" Mbak Lisa!" Sapa Santi dengan senyum yang melebar.


" Mbak Santi!" Sapa balik Lisa, memeluk Santi dengan senang.


" Aahh!! Selamat ya mbak. Aku ikut senang melihatnya." Ucap Lisa, melepas pelukan Santi. " Semoga langgeng sampai kakek nenek." Imbuhnya.


" Amin?" Jawab Santi. " Ini ponakan tante enggak nakalkan di perut mamanya, sehat juga kan?" Sambil mengusap perut Lisa yang buncit.


" Sehat dong tante? Gak nakal juga, malah happy di ajak kemana-mana." Jawab Lisa, tertawa renyah dan mengusap perutnya. Karna memang dua bayi kembarnya tidak membuatnya susah atau kerepotan. Justru hamilnya Lisa di bilang seperti hamil kebo, makanan apa saja ia terima dan nafsu makannya lebih nanjak di banding sebelum-sebelumnya.


" Makan pun juga meningkat mbak." Sambung Riski, membuat Lisa mengerutkan kening dan Santi mengulum bibir.


" Ya meningkat lah! Orang namanya ibu hamil pasti makannya banyak. Badan mele-," Ucapnya menggantung dan mulai mengerucutkan bibir.


" Sayang! Apa aku gemukan sekarang." Tanya Lisa pada Bima, yang memicingkan sebelah mata menatap istrinya.


" Enggak gemuk kok! Cuma melebar saja." Gumam Doni, tapi bisa di dengar oleh semua orang. Hingga sepasang suami istri menatapnya begitu horor.


Alamat, siap kena semprot." Gumam Doni, menyengir kuda.


Untung? Bukan aku." Gumam Riski, merasa terselamatkan dari ibu hamil beserta suaminya.


" Sayang!!" Rajuk Lisa, mengubah mimik sedih mendengar ucapan Doni bila tubuhnya semakin melebar.


Memang benar melebar, tapi setidaknya jangan juga mengungkapkan di hadapannya. Kalian tau sendirikan, sensitifnya ibu hamil bagaimana. Dan inilah yang akan terjadi pada Lisa.


" Enggak melebar, cuma gendutan dikit saja kok Lis." Saut Doni cepat, berniat ingin memperbaiki ucapannya agar tidak salah pahan. Malah semakin mendapatkan tatapan tajam dari sepasang suami istri.


Mampus kau mas Doni!!" Cekikik Riski dalam hati.


" Aduh, mati salah lagi." Gumam Doni, menatup bibirnya rapat-rapat.


" Sayang!!" Seru Lisa, moodnya benar-benar mulai berubah karna Doni.

__ADS_1


Bima melayangkan pukulan ke lengan Doni, membuat Doni sedikit meringis kesakitan dan mengusap-usap lengan yang di tinju Bima.


Anj*ng!!" Umpat Doni. Tapi tidak berani mengucapnya langsung. Takut, bisa-bisa di mutasi karna ucapan yang mengolok istrinya bos. Tapi memang kenyataankan, Bila Lisa semakin gendut. Ya, karna memang sedang hamil, dan mengandung dua bayi pula.


" Enggak, kamu enggak gendut. gak melebar juga Sayang? Kamu ****, aku suka." Puji Bima, di hadapan pengantin baru, Riski dan Doni. Yang semuanya hanya bisa mengulum bibir rapat-rapat menahan tawa, dan mengalihkan pandangan agar tidak terlihat oleh ibu hamil yang sedang merajuk.


Oh!! Ya ampun, rayuannya maut." Gumam Santi, dan membuat Max dengan cepat menutup telinga istri yang baru saja sah. Tidak ingin istrinya termakan rayuan maut juga oleh Bima.


Alamat gak jadi perang ini, kalau kemakan rayuan." Gumam Riski, melihat wajah Lisa yang sudah bersemu merah. Mendapat rayuan maut dari Bima. Rasanya ia ingin sekali melihat Lisa ngambek dan marah pada Doni dan Bima, karna dua pria dewasa itu tidak mau membantunya kala ibu hamil selalu saja menyuruhnya hingga dirinya merasa malu di tatap oleh kerabat Max. Hanya karna menuruti kemauan Lisa soal lumpia.


Memalukan.


Najis! Pintar ngrayu juga tu bos! gak apa-apa, yang penting aku selamat sekarang dari bumil." Gumam Doni, merasa terselamatkan karna mendengar rayuan Bima pada Lisa.


" Jangan gombal, aku tau kamu nyelamatin tu jomblo saja." Ketus Lisa menunjuk Doni dengan ekor matanya, dan Doni melebarkan mata mendengarnya hinaan Ibu hamil.


Memang ada benarnya, jika dirinya jomblo. Tapi setidaknya jangan di pertegas juga di hadapan semua orang. Seakan-akan dirinya tidak laku saja. Dan membuatnya menjadi malu, serta mendapatkan tawaan dari orang mendengar olokan Lisa.


" Jomlo gak tuh!" Ulang Riski, terkikik mendengar perkataan Lisa.


" Sama kayak yang ngomong." Ketus Doni.


" Kau-,"


" Berantem terus!! Gak ada akurnya." Saut Max, menggelengkan kepala melihat Doni dan Riski selalu saja berantem bila bertemu. Dan akurnya hanya sebentar, jika mereka tidak saling memanfaatkan dan membutuhkan.


" Nich bocah yang mulai duluan." kata Doni, memukul kepala Riski, dan membuat Riski meringis kesakitan.


" Mas Doni dulu yang mulai, kenapa jadi aku yang di salahkan." ketus Riski. tidak terima dirinya di salahkan.


" Lama-lama kalian aku nikahkan juga biar biaa diem." Cetus Bima, membuat semua orang membulatkan mata menatap Bima.


" Sayang!!" Tegur Lisa, memukul lengan Bima. " Amit, amit ya Allah." Imbuhnya, dan mengusap perut buncitnya.


" Kerisku masih bisa berdiri, gak akan melenceng ke arah yang salah." Kata Doni.

__ADS_1


" Aku normal mas Bim! Doyannya cuma sama cewek, bukan waria." Sungut Riski.


" Mangkanya jangan berantem terus." Kata Bima.


" Biasanya kalau orang yang suka berantem terus, lama-lama bisa jatuh cinta loh. Termasuk cowok sama cowok." Imbuh Max, membuat Doni dan Riski saling memandang. Bergedik ngeri mendengarnya, dan saling membuang muka saat pikiran isinya mulai membayangkan.


" Ogah!!" Seru Doni dan Riski, bersamaan membalas ucapan Max. Dan dua pasang suami istri Tertawa mendengarnya.


****


Tidak terasa sudah dua hari mereka berlibur mengelilingi kota kampung Santi. Dan kini waktunya mereka kembali bekerja di kota metropolitan dengan banyaknya padat dan menumpuknya pekerjaan yang sudah lebih dua hari di tinggalkan.


Lisa akan kembali ke gudang bersama Riski. Dan hari ini juga terakhir Lisa untuk tidak lagi ke gudang lantaran sedikit mulai susah untuk bergerak lebih banyak. Memilih mengawasi gudang di rumah lewat cctv dan juga mengerjakan laporan gudang di rumah nanti bersama dengan Riski yang sekarang tinggal bersama dirinya di rumah Bima.


Riski sudah di anggap sebagai adik serta pengawalnya, dan kemanapun Lisa akan pergi Riski harus siaga ikut tidak boleh lepas dari Lisa. Karna itu adalah perintah Bima.


Sebelum ke gudang, Lisa terlebih dulu memilih ke mall, ke tempat tokonya. Seperti rutinitas biasanya. Karyawan menyambutnya dengan rasa senang, karna tanggal muda wajah menjadi binar, mendapatkan uang gajian.


" Mbak Lisa, kapan hari ada ibu-ibu cariin mbak." Ucap Karyawan Lisa.


" Siapa mbak namanya?" Tanya Lisa, mengerutkan kening. Setaunya tidak pernah ada yang mencarinya di toko. Kebanyakan pelanggannya sudah tau dirinya berada di mana, dan tidak perlu mencari lagi.


" Namanya Bu Fatin Mbak." Jawabnya. " Ini kartu namanya ibu itu mbak, katanya ingin ngomong sama mbak." Imbuhnya, mengulurkan kartu nama yang di simpannya dan memberikan pada Lisa. Karna karyawannya tau, tidak boleh sembarang memberikan nomer Lisa. Dan Bu Fatin akhirnya memberikan kartu namanya pada karyawan Lisa.


" Makasih mbak?" Ucap Lisa, mengambil kartu nama dan melihat tulisan nama yang ada di kartu itu.


" Mamanya Fahmi." Gumam Lisa.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


Tinggal beberapa bab lagi.😊


__ADS_2