
...Meskipun dia hadir kembali dalam hidupku, Aku akan tetap menjadi milik mu....
.
.
.
.
Wajah itu terlihat dingin. Sangat, sangat dingin saat pertama kali bertemu. Kembali datar dan tatapan menyalang, seperti elang berburu mangka.
Satu bungkus rokok sudah dia habiskan dalam sekejab. Rasa tenggorokan gatal, ingin sekali menghilangkannya dengan satu botol wine saja malam ini. Tapi! Ia tidak berada di rumahnya. melainkan Bima berada di rumah Lisa.
Seperti biasa, menghabiskan waktunya di teras balkon sendirian. Tanpa di temani Lisa, yang mungkin memberikan waktunya untuk sendiri atau Lisa masih sedikit syock dengan kejadian di pesta. Di rendahkan oleh wanita tua, di hadapan semua orang.
Tidak di sangka jika Bima akan di pertemukan kembali dengan ke dua orang tua Zellin. Memang dirinya berniat hadir dalam pesta Sanjaya hanya untuk melihat Zellin yang sudah lama dirinya tidak bertemu dan mengetahui kabar tentang dia.
Dan pertemuannya sangat mengejutkan baginya. Pasalnya, Zellin terlihat kurus dan sedikit tidak terawat seperti dulu masih gadis atau masih saat bersamanya.
Wajahnya seperti tertekan, matanya berkaca-kaca saat menatapnya dan senyumnya seperti terpaksa. dia seperti istri yang tertekan dalam rumah tangganya, tidak ada raut wajah bahagia dan senang menjalani hidup rumah tangga bersama dengan Nico, yang di pilihkan oleh mamanya sendiri.
Rasanya ingin sekali Bima membunuh mama Zellin dan suaminya, karna sudah membuat Zellin menderita dan membuat tubuhnya sangat kurus tak terawat sama sekali.
" Sedang memikirkannya?" Tanya Lisa, sudah begitu lama menatap Bima dari kejauhan. Dan bagaimana ia melihat Bima menghabiskan satu bungkus rokok dalam sekejab tanpa berhenti.
Lisa tau, Bima sedang memikirkan dia. Mantan sahabat atau mantan pacarnya. Dari tatapan Bima, dan Zellin sudah di pastikan mereka lebih dari kata sahabat.
Mendongakkan kepala menatap Lisa sedang berdiri di sampingnya. Dan kembali menatap ke arah depan, Sambil menghembuskan nafas berat.
" Maaf, jika mengganggu." Ujar Lisa, hembusan nafas berat Bima membuat dirinya berpikir jika pria itu terganggu dengan kehadirannya.
" Kamu mau meninggalkanku?" Ucap Bima, saat mendengar kaki Lisa akan melangkah pergi meninggalkannya.
" Tidak. Aku tau, aku pasti sudah menggang-," Ucapnya menggantung, saat tangannya di tarik oleh Bima membuat tubuhnya terbentur oleh bahunya dan duduk di sampingnya.
" Jangan jauh-jauh kalau mau menatapku." Ucap Bima, membuat Lisa membulatkan mata.
Bagaimana pria ini tau Lisa memperhatikannya cukup lama dari kejauhan.
Perlahan Bima sedikit menggeser tubuhnya, merebahkan kepalanya di paha Lisa dan meringkuk seperti anak kecil. Tentu saja Lisa terkejut, tapi ia tidak bisa mengusir kepala Bima yang tidur di pahanya. Perlahan, Lisa mengusap rambut Bima, memberikan pijatan dan usapan lembut agar beban di kepalanya sedikit hilang.
" Aku tidak menyangka harus bertemu lagi dengan orang tua Zellin." Lirih Bima,
__ADS_1
Jadi wanita itu bernama Zellin?
" Iya, dia Zellin!" Lirih Bima, seperti mendengar ucapan Lisa di dalam hati. " Kamu tidak ingin tau siapa dia?" Tanyanya.
" Apa kamu ingin memberitahukannya, jika aku bertanya siapa dia!" Tanya balik Lisa, masih sambil mengusap lembut kepala Bima. Ada rasa sedikit penasaran dan juga sedikit cemburu.
Tunggu. Cemburu!
Kenapa cemburu, dirinya dan Bima bukan sepasang kekasih. Tidak seharusnya dirinya cemburu. Toh dirinya juga nyaman seperti ini dengan Bima, tidak perlu menjadi kekasih juga. Tapi jika Bima mengajaknya menikah, ia tidak akan menolak dan mau menerimanya.
" Kamu tidak cemburu?" Pertanyaan terlontar bergitu saja dari bibir Bima, saat pria itu penasaran dengan hati Lisa.
" Aku harus cemburu bagaimana! kita tidak mempunyai hubungun yang lebih." Lirih Lisa, membuat Bima tersenyum kecil mendegarnya
Berbalik arah menghadap Lisa, tepat ia bisa melihat wajah dan mata Lisa di atasnya. Mata indah dan teduh, wajah yang sangat hangat setiap kali ia memandangnya.
Meraih tangan Lisa yang mengusap kepalanya, mengusap lembut telapak tangan dan menciumnya.
Mata membulat, bibir sedikit terbuka dan jantung berdebar bergitu kencang. Kala pria tidur di pangkuannya mencium telapak tangannya dan memainkan jari manisnya.
" Apa aku harus membuktikan pada kamu lagi. Agar kamu paham?" Ucap Bima, Dan satu alis Lisa terangkat naik tidak memahami maksud Bima.
" Aaww!!" Pekik Lisa, mengusap hidungnya yang sakit karna di cubit oleh Bima.
" Ternyata wanita ini gak peka." Gumam Bima, dan mendapatkan cubitan dari Lisa sambil melototkan mata ke arahnya.
Bima bangun dari tidurnya, mengusap tangan yang di cubit Lisa. Sambil meringis menatap wanita di sampingnya.
" Bukan aku tidak peka!! Cuma aku tidak tau! Kamu saja tidak bilang apa-apa padaku.!" Seru Lisa, membela dirinya sendiri saat ia merasa tidak mengerti apa yang Bima katakan.
Ya memang Bima tidak pernah bilang cinta atau suka pada Lisa, tapi setidaknya wanita ini memahami apa yang di lakukan dan di perbuat olehnya. Semua itu cukup mengerti, jika Bima mencintainya.
" Saat aku bilang pada semua orang, kamu wanitaku!"
" Itu hanya bualan!"
" Itu bukan bualan." Saut cepat Bima, membuat Lisa menatapnya lekat. " Aku mengungkapkan kenyataan, kamu memang wanitaku." Imbuhnya lagi.
Terdiam cukup lama, memalingkan wajahnya dan menghadap lurus ke depan. Antara percaya atau tidak, Bima mengatakan itu.
Jika itu benar, Lisa sangat senang. Tapi jika itu hanya terpaksa, Lisa sangat kecewa dan sakit hati karna di permainkan oleh pria di sampingnya.
" Kamu tidak perlu mengasihaniku, hanya karena ucapan ibuku dulu. Janji memang tidak bisa di ingkari, tapi setidaknya kamu bisa menentukan kebahagiaan kamu sendiri." Lirih Lisa, tanpa menatap Bima. " Aku eng-,"
__ADS_1
Ucapan terbungkam saat kedua tangan kekar menyentuh pipinya dan menghadapkan ke wajahnya.
" Aku mencintai kamu, Lisa." Ucap Bima, mendaratkan ciuman hangat di bibir tipis setengah terbuka.
Mata membulat, tubuh menegang, jantung lagi-lagi berdebar kencang kala bibir Bima menyentuh bibirnya.
****
" Papa, tau semuanya tentang Bima?" Tanya Zellin duduk bersama ke dua orang tuanya di ruang tamu kala mereka sudah tiba di rumah besar milik Tuan Zain.
" Itu tidak benar kan pa?" Ujar mama Zellin.
" Semua ini salah mu Winda!" Geram pak Zein. " Jika kamu diam dan tidak menghina Bima di depan semua orang. Aku tidak akan malu dan bangkrut lagi!" Imbuhnya, menatap tajam istrinya yang mulai ketakutan.
" Bima adalah Alfrado! Dia orang yang mencintai putriku, aku menolak lamarannya karna kamu winda!"
" Dia tidak mungkin Alfrado Pa! dia berbohong, dia orang yang tidak punya apa-apa dan keluarga-,! " Gantung Mama Zellin tidak tidak mau lagi meanjutkan ucapannya.
" Lebih baik aku mempunyai menantu seperti Bima, dari pada menantu baj*ngan seperi pilihanmu Winda!!"
" Karna pilihanmu membuat perusahaanku bangkut! menantumu mengambil lima puluh persen saham perusahaanku dan mengambil tander-tander besar dariku. Dan membuat putriku sengsara bersamanya."
" Apa pa?" Lirih Zellin, bersamaan dengan mamanya. Terkejut mendengar kenyataan yang di sembunyikan Papanya sendirian.
" Ya!! Perusahaan papa hampir bangkrut. Jika bukan Bima yang menolong perusahaan, mungkin kita sudah menjadi miskin dan gelandangan di jalan!" Jawab Tuan Zein, " Dan sekarang Bima, mengambil kembali suntikan dana serta menyita saham perusahaan papa." Imbuhnya, memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing kepalanya dan hampir pecah.
Mama Zellin terdiam, perkataan suaminya tidaklah salah dan pria tua itu jujur dengan ucapannya. Hingga dirinya kini merasa sangat ketakutan dan tidak mau dirinya menjadi miskin.
Sedangkan Zellin tidak pernah tau identitas Bima yang asli dan pria itu tidak pernah menceritakan semuanya tentang dirinya. Hanya setengah dan tidak semua Zellin tau tentang Bima.
Dan cinta Zellin, masih sama seperti dulu pada Bima. Meskipun status mereka jauh berbeda.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Maaf ya🙏 atas keterlambatannya. Lagi enggak enak badan.
__ADS_1
Jangan lupa jaga kesehatan.😊