Nona Lisa

Nona Lisa
puncak


__ADS_3

...Setidaknya aku tidak melupakan mu, hingga aku kembali untuk mu....


.


.


.


.


Tiga minggu setelah kejadian itu, Lisa benar-benar menghindar dari Bima. Atau mereka memilih menyibukkan diri untuk tak lagi bertemu, setelah Bima menyuruh sopirnya mengantarkan mobil yang dirinya sita, kembali kepada sang pemiliknya kembali.


Tidak lagi memikirkan, tidak lagi bertemu dan tidak lagi ada senyuman serta kecerewetan dari kehidupan mereka. Kembali seperti awal semula, dimana tak ada lagi yang harus bertemu setiap saat dengan alasan yang begitu banyak.


Seperti tak ada yang mereka pikirkan, seperti tidak ada yang hilang dari kehidupan mereka. Lisa menikmati dengan kesibukannya, kesibukan yang bisa membuatnya melupakan tentang pria dingin itu. Walaupun ibunya terkadang masih menyebut nama pria itu, yang selalu menanyakannya.


" Mas Bima sibuk buk, banyak pekerjaan!


" Dia baik, nanti kalau ada waktu dia pasti ke sini!


Dan kata terakhir dirinya untuk mulai menghindar dari pertanyaan ibunya, saat kembali menanyakan Bima.


Lisa berangkat ya buk! istirahat yang banyak, jangan lupa minum obatnya juga.


Dan semenjak Lisa menghindar dari pertanyaan ibunya, ibu pun tak lagi menanyakan tentang pria itu. Dan Lisa bisa sedikit tenang meskipun dalam hatinya ia merasa bersalah karna ibunya sudah berharap pada pria dingin itu.


Entah kenapa ibunya begitu suka dengan Bima, hanya bertemu dua kali ibunya sudah sesuka itu dengan Bima. Bukan hanya ibunya saja, tapi para Art pun juga suka dengan Bima, memuji ketampanannya dan tubuhnya yang tinggi.


Pagi ini, Lisa sudah berkemas merapikan bajunya ke dalam koper untuk dirinya pergi berkunjung ke beberapa cabang tokonya yang ada di luar kota, untuk meninjau situasi tokonya yang di sana.


" Buk Lisa berangkat ya?" Pamit Lisa, berjongkok di depan ibunya yang memakai kursi roda mengantarkannya di teras rumah. dengan pak Yanto memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.


" Ha ti-ha ti ya, ja ngan lu pa makan dan isti rahat?" Pesan ibunya, untuk putrinya yang akan pergi meninjau tokonya di luar kota.


" Iya buk? Ibu jangan lupa olahraga, makan yang teratur dan jangan lupa minum obatnya." Kata Lisa, membuat ibunya mengangguk tersenyum.


" Lisa berangkat buk." Ujarnya lagi, mencium pipi kanan kiri ibunya dan mencium tangan keribut ibunya.


" Nitip ibu ya mbak?" Ucap Lisa.

__ADS_1


" Iya mbak Lisa, hati-hati ya mbak di jalan." Kata suster Santi, membuat Lisa mengangguk dan tersenyum.


Kali ini Lisa pergi sendiri, tanpa di temani pak Yanto ataupun Riski. Riski yang sibuk dengan gudang dan pak Yanto yang harus stan bay menjaga rumah dan empat wanita di dalam rumah.


Perjalan sangat jauh, membutuhkan waktu tiga jam perjalanan lewat jalur tol. Sedikit melelahkan, setiap satu jam dirinya memilih berhenti di res area untuk istirahat sebentar. Ini untuk pertama kalinya Lisa pergi sendirian tanpa di temani karyawan ataupun Riski.


ke kamar mandi, beristirahat sebentar, sambil membeli minuman dingin untuk menyegarkn tenggorokan. Hingga dua kali dirinya berhenti di res area.


Sudah berada di tempat tujuan, memilih tempat hotel yang lumayan bagus dan memilih kamar paling tinggi untuk melihat suasana kota malam di dalam kamarnya.


Beristirahat sejenak, sebelum sore ia berkunjung ke cabang tokonya. Merebahkan tibuhnya di kasur yang nyaman, sambil menelpon ibunya. Memberi kabar jika dirinya sudah tiba, agar ibunya tidak lagi menghawatirkannya.


****


" Mbak Lisa datang sendiri?" Tanya karyawan Lisa bagian kasir.


" Iya, Riski lagi sibuk di gudang." Jawab Lisa, memeriksa penjualan akhir bulan bersama karyawan kepercayaannya.


" Kamu Malam ini ada acara gak?" Tanya Lisa.


" Enggak ada mbak. kenapa mbak?" Tanya balik karyawan Lisa.


" Kemana mbak?"


" Kemana saja, naik motor ya! Aku ingin naik motor." Kata Lisa.


" Oke mbak, aku jemput di hotel mbak Lisa." Dan di anggukkan Lisa dengan senyum.


Seramah itu Lisa dan karyawannya. Dan menganggapnya seperti teman bukan karyawan, Hingga Wulan juga nyaman bekerja dengan Lisa.


Sesuai janji, Wulan menjemput bosnya di hotel Lisa menginap. Seperti bukan bos, tapi seorang teman dengan penampilan sama seperti wulan yang memakai celana sobek hitam, di padu tank top putih dengan jaket hitam serta snaker putih yang membuat Lisa seperti anak remaja kekinian.


" Puncak jauh gak Lan?" Tanya Lisa, saat menerima helm dari Wulan dan akan memakainya.


" Lumayan mbak, sekitar satu jam lebih kalau enggak lewat jalan tol." Jawab Wulan. " Mbak Lisa mau ke sana?" Tanya Wulan.


" Heem pengen kesana, pengen liat pemandangan kota dari bukit. Pasti bagus?" Ucap Lisa.


" Bagus Mbak!!" Seru Lisa." Mau sekarang mbak!" Ajak Wulan, membuat Lisa mengerutkan kening.

__ADS_1


" Malam-malam begini?"


" Iya mbak? Kenapa?" Tanya balik wulan.


" Oke, ayok siapa takut!" Seru Lisa dengan senang, di ikuti Wulan yang juga senang jika di ajak berpergian dengan bosnya. " Kalau gitu pakai mobil saja, parkir sana motor kamu." Perintah Lisa, membuat Wulan mengangguk, mengambil helm dari tangan Lisa dan menjalankan motornya untuk masuk ke dalam parkir.


Petunjuk jalan, dengan wulan dan Lisa memulai perjalanan menuju puncak untuk melihat pemandangan kota dari atas puncak.


sesuai dengan ucapan Wulan cukup satu jam menempuh perjalanan dari tol menuju puncak dan sampai di tempat mana Lisa inginkan.


Tidak beda jauh dengan kota, puncak pun juga cukup ramai dengan mereka yang sedang ingin nongkrong bersama teman atau kekasih, di malam yang dingin dan pemandangan yang syahdu.


" Bagus?" Puji Lisa, memilih tempat duduk di lantai dua dengan pemandangan terbuka, memperlihatkan pemandangan kota, kerlap kerlip lampu dari atas puncak.


" Kamu sering ke sini?" Tanya Lisa.


" Sering mbak sama anak-anak setiap malam minggu seperti ini?" Jawab Wulan.


" Tadi kenapa gak di ajak sekalian saja mereka." Kata Lisa.


" Sebentar lagi mereka juga nongol mbak?" Kata Wulan, membuat Lisa mengerutkan kening.


" Mereka pasti ke sini mbak, kan ini tongkrongannya mereka sama pacar-pacarnya." Ujarnya lagi, membuat Lisa mengerti dan tersenyum menggelengkan kepala.


" Terus pacar kamu."


" Masih di proses sama Tuhan." Cetus Wulan sedikit sebal di tanya soal pasangan, membuat Lisa semakin tertawa mendegar jawaban Wulan. Yang ternyata sama seperti dirinya tak mempunyai pacar.


Dan ucapan Wulan benar, tidak beberapa lama karyawan Lisa datang dengan membawa pasangan, hingga mereka terkejut saat di sapa oleh Wulan dan melihat bosnya ada di cafe tongkrongannya sambil tersenyum.


Menghampirinya sedikit ragu dan canggung, hingga Lisa sendiri memulainya dengan candaan. membuat mereka mulai sedikit terbiasa dan memulai bercanda dengan Bosnya, yang umurnya terbilang sedikit tua dari mereka semua. walaupun begitu wajah Lisa tak terlihat tua, sama seperti karyawannya. Hanya saja Lisa dan Wulan yang tak membawa pasangan. Empat di antaranya pasangan kekasih dan satunya hanya sebatas teman.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2